Kategori: Wejangan Grafis

Pernah merasa dalam sehari atau beberapa hari waktumu terasa begitu sempit? Merasa nyaris tidak mempunyai jeda untuk istirahat barang sebentar? Belum selesai dengan satu urusan sudah ada urusan lain yang harus diselesaikan? Dan setelah disadari, beberapa kesibukan yang muncul bersamaan itu akibat kita yang suka menunda-nunda pekerjaan. Ah, nanti aja, kan masih panjang waktunya. Duh.

Kesibukan dan perkara dunia memang tidak akan berhenti jika semuanya dituruti. Kewajiban selalu lebih banyak jumlahnya dibanding jumlah waktu yang tersedia, begitu kata Hasan Al-Banna. Namun, manusia sering lupa dan lalai terhadap adanya nikmat berupa waktu. Merasa bahwa beberapa waktu ke depan masih ada kesempatan untuk mengerjakan kewajiban-kewajiban itu. Karena merasa waktu masih panjang, muncullah penyakit menunda-nunda pekerjaan.

Dulu ketika masih kecil, nyaris semua waktu kita habis untuk sekolah dan bermain. Belum ada kesibukan lain seperti yang kita rasakan sekarang ini. Lazimnya mahasiswa, aktivitasnya hariannya akan diisi dengan belajar di bangku perkuliahan dan mengerjakan tugas-tugas kuliah. Di sela-sela itu banyak yang mengisinya dengan mengikuti organisasi. Ada juga yang ikut organisasi plus bekerja. Apalagi yang sudah full bekerja seharian.

 “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu dalam keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhori)

 Setiap dari kita mempunyai modal yang sama dalam sehari, 24 jam, 168 jam seminggu, dan 672 jam sebulan. Tetapi kenapa masih ada yang merasa kurang, sementara yang lain masih bisa beristirahat bahkan bermalas-malasan ya? Meski begitu, kenapa juga ada yang bisa mengatur waktunya untuk hal-hal besar seperti mengurus beberapa perusahaan besar bahkan urusan negara?

Al-Hafizh Abu Ismail al-Harawi al-Anshori rahimahullah  mengatakan,”Seorang ahli hadits harus sanggup berjalan dengan cepat, menulis dengan cepat, dan membaca dengan cepat. Bisa ditambahkan,”Makan dengan cepat.” Subhanallah. Untuk mendapatkan banyak ilmu dan keutamannya, para ulama begitu menghargai waktu luangnya, bahkan ketika makan, berjalan, hingga buang hajat.

Dalam sebuah kisah tentang Majdudin bin Taimiyah, dari cucu beliau, Ibnu Qayyim berkata,”Adalah kakek (Majdudin bin Taimiyah) apabila masuk WC, dia berkata,’Bacalah buku ini untukku, keraskan suaramu sehingga aku mendengarkannya.’ Maka Ibnu Rajab mengomentari,’Hal ini menunjukkan kuatnya antusias beliau terhadap ilmu, sekaligus semangatnya untuk menggapainya, dan juga penjagaan beliau terhadap waktunya.’” (Dzailuth Thabaqotil Hanabilah, Ibnu Rajab, 2/24)

Kisah di atas bukan dongeng, sebab kegemilangan para ulama dalam menelaah ilmu-ilmu Islam dan dunia kita rasakan manfaatnya sekarang. Dan kegemilangan itu tidak akan dicapai jika manajemen waktu yang ulama itu lakukan tidak luar biasa. Daud at-Tha’I lebih memilih menelan remukan roti dibanding roti utuh karena akan memakan lebih banyak waktu yang setara dengan membaca lima puluh ayat Al-Qur’an. Selama enam tahun Imam an-Nawawi tetap mengulang hafalannya atau membaca pelajaran ketika sedang berjalan. Laa haual wala huwwata illa billah.

Sekarang jangan membuat alasan lagi ya untuk menunda-nunda pekerjaan kita. Tidak ada alasan lagi tidak sempat membaca Al-Qur’an setiap hari, sebab selalu ada waktu untuk membacanya ketika sedang menunggu dosen datang atau ketika sedang menunggu adzan. Jika tidak kita manfaatkan waktu untuk melakukan kebaikan atau hal-hal yang bermanfaat, maka kita akan disibukkan dengan keburukan dan hal-hal yang tidak membawa manfaat.

 Tidak ada yang menjamin, sedetik setelah membaca tulisan ini, kita masih hidup

Tidak ada yang menjamin bahwa dalam marah kita, maut tidak akan datang

Tidak ada yang akan memberi penangguhan barang semenit bahkan sedetik, bahwa maut bisa ditunda atau dimajukan

Manfaatkan waktumu sebelum masa sibukmu.

Pergunakan waktumu sebelum engkau tertebas olehnya.[]

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration