Kategori: Wejangan Grafis

Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah:183)

Sepekan telah berlalu dari bulan Ramadhan tahun ini. Selaksa doa telah dipanjat agar amalan ibadah kita di bulan puasa di terima dan memperberat timbangan kebaikan kita di hari akhir. Terpanjat pula doa agar Allah SWT. masih memberi kesempatan pada kita untuk dipertemukan dengan bulan Ramadhan tahun depan, insya Allah.

Laisa al-‘iddu man labisa al-jadid walakin al-‘iid man tho’atuhu taziid. Syair dari tanah Arab ini berarti “Hari raya bukanlah ditandai dengan baju baru, tetapi hakikat hari raya adalah siapa yang ketaatannya bertambah maju.” Telah menjadi tradisi di negeri ini bahwa kemenangan di hari raya Idulfitri ditandai dengan adanya baju baru. Namun, banyak yang kemudian melupakan bahwa kemenangan sesungguhnya dari orang-orang yang telah berpuasa sebulan lamanya adalah pada kadar iman dan takwa di dalam hatinya.

Seseorang yang berpuasa, tidak sekadar menahan dirinya dari lapar dan dahaga. Seseorang yang berpuasa sejatinya sedang membersihkan dirinya sendiri dari perilaku yang bisa menodai ibadahnya, yang umumnya diabaikan ketika ia sedang tidak berpuasa. Puasa menjaga dirinya dari perkataan yang menyakitkan lawan bicaranya, mencegah dirinya dari amarah, menyebarkan fitnah atau aib saudaranya, atau membicarakan hal-hal yang tidak sepantasnya. Tidak lain dengan tujuan agar pahala puasanya tidak berkurang karena lisannya tidak terjaga.

Beberapa hal kecil begitu kita jaga ketika sedang berpuasa. Lebih banyak mendengarkan murotal daripada lagu yang mendayu-dayu. Lebih memilih sholat di masjid, meskipun itu sholat sunnah.”Puasa ya sholatnya di masjid dong, kan lagi musimnya.” Menelan kembali kata-kata yang sekiranya tidak sopan dengan alasan,”Eh, aku sedang berpuasa.”. Menggosip dengan teman pun menjadi sungkan karena malu, puasa-puasa kok nggosip. Puasa tanpa sadar telah menjadikan seseorang untuk mendekat pada ketaatan dan menjadi malu jika mendapati dirinya melakukan kemaksiatan.

Euforia hari raya seyogyanya tidak membuat kita lupa pada ibadah-ibadah yang sudah kita rintis di bulan Ramadhan kemarin. Amalan-amalan ritual seperti sholat, tilawah Qur’an, qiyamullail, shalat sunnah rawatib perlu terus-menerus dibiasakan lalu dipelihara. Tentu kita bukanlah petani yang sebulan sebelumnya rajin menyiangi tanamannya dari gulma, tidak alpa menyiraminya, memberinya pupuk agar semakin subur dan gembur. Namun begitu memasuki bulan kedua, di mana buah-buah mulai bermunculan, ia tinggalkan ladangnya untuk berleha-leha di rumah. Membiarkan gulma tumbuh dengan subur, membiarkan tanamannya kurus tak terawat, lalu perlahan mati tetapi berharap ia tetap bis memanen buah-buah ranum di bulan-bulan berikutnya.

Allahumma innii as alukalhudaa wattaqoo wal’afafaa wal ghinaa. “Ya Allah aku meminta kepada-Mu petunjuk, ketaqwaan, pemeliharaan dari kemaksiatan (kepada-Mu) dan kecukupan.” (HR. Muslim)

Semoga kita menjadi salah satu hamba-Nya yang lulus dari madrasah Ramadhan dengan predikat takwa, aamiin.

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration