Kategori: Wejangan Grafis

Perumpaan orang yang berdzikir kepada Allah SWT. dengan orang yang tidak berdzikir kepada-Nya adalah seperti perumpaan antara orang yang hidup dan yang mati. (HR.Bukhori Muslim)

Urip iki mung mampir ngombe.  Sederhana dan begitu simpel di dengar. Sebaris kalimat berbahasa Jawa ini mungkin sudah akrab teman-teman dengar. Namun, pernahkah benar-benar direnungkan apa maknanya?

Hidup di dunia ini begitu singkat. Saking singkatnya seringkali kita terkejut dengan keadaan kita saat ini. Tiba-tiba sudah lulus dari sekolah menengah, duduk di bangku kuliah sebagai mahasiswa, setelah lulus melanjutkan bekerja, tak sedikit pula yang kemudian menikah dan berumah tangga. Bahkan ada beberapa di antara sanak saudara, kerabat, atau saudara kita yang telah berpulang ke sisi Sang Pencipta di usia yang masih bisa disebut belia.

Merunut hadist di atas, dari 24 jam waktu kita, sudahkah dilewati dengan hal-hal yang menambah kebaikan? Mari kita cek sama-sama yaa.

  1. Apakah bangun tidur kita awali dengan ucapan syukur telah dihidupkan dari kematian kecil nan singkat? Setelah subuh, apakah mushaf Qur’an yang kita dekati ataukah justru gadget-gadget mungil yang melalaikan?
  2. Ketika menunggu, apakah dzikir yang terucap? Atau bacaan Qur’an yang menghias lisan? Mengulang hafalan? Membaca buku bacaan barangkali? Ataukah malah kita habiskan dengan obrolan yang membicarakan keburukan kawan dan melamun tanpa hasil.
  3. Saat waktu sholat tiba, sudahkah kita bersegera menyambutnya, atau malah menunda? Laksana maut, jika ia sudah menjemput, barang sejengkal pun kita tak bisa berkelit. Maka tak heran jika mengingat maut adalah obat kefuturan.

Ada banyak poin lagi yang akan membuat kita tercengang tentang tindak-tanduk kita. Coba kita bandingkan berapa jamkah dalam sehari kita ini menjadi mayat dan berapa jam dalam hidup ini kita menjadi orang yang benar-benar hidup.

“Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”  (QS. Adz-Dzariyat : 56)

Nah, beribadah di sini memiliki dua arti, yaitu beribadah kepada Allah SWT. dalam bentuk ibadah-ibadah yang pasti seperti puasa, sholat, berzakat, atau berhaji. Kedua, ibadah dalam bentuk kebaikan-kebaikan kepada sesama manusia. Setiap kebaikan akan mendatangkan pahala, insya Allah. Untuk itulah perlu kita perhatikan lagi apakah setiap hal yang kita lakukan dan berikan kepada sesama adalah hal-hal terbaik?

Dan yang menjadi penting bagi kita adalah membuat setiap amalan duniawi kita memberatkan timbangan amal kebaikan bagi kita di akhirat. Jaluddin Rumi mengatakan, jika engkau tidak dapat menikmati ibadahmu, maka Tuhan sedang menghukummu. Sholat hanya berhenti pada gerakan semata, puasa sekadar lapar dan dahaga, ibadah haji hanya sekadar wisata, naudzubillahi mindzalik.

Cukup letakkan dunia pada tangan kita, bukan menyimpannya dalam hati lantas tiada henti mengejarnya.

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration