Kategori: Wejangan Grafis

Dari Abu Hurairoh r.a., Rasulullah SAW bersabda,”Barang siapa yang dapat menahan amarahnya, sementara ia dapat meluapkannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan segenap mahluk. Setelah itu, Allah menyuruhnya memilih bidadari surga dan menikahkannya dengan siapa yang ia kehendaki.” (HR. Bukhori Muslim)

Pernah mendengar kisah seorang anak yang diminta ayahnya untuk menancapkan paku ke dinding setiap ia marah? Setiap hari, ketika ia marah, ia tancapkan paku satu per satu ke dinding. Satu hari, satu paku. Di hari ke-49 ia merasa bahwa paku yang ditancapkan sudah begitu banyak. Ia merasa malu. Berkatalah sang ayah kepada anak itu,”Cabutlah satu paku untuk satu hari yang kau lalui tanpa marah, Nak.” Akhirnya, paku-paku yang tertancap dinding terlepas satu per satu. Betapa bahagianya si anak ketika tidak ada lagi paku yang menancap.

Dengan bijak sang ayah berkata,

“Lihatlah, Nak, dinding ini memang sudah bersih dari paku, tetapi lihatlah bekas tetap disana. Begitu juga denganmu. Tanpa kita sadari, ada bekas-bekas yang tidak bisa hilang oleh sebab kemarahan kita. Meskipun sudah dihapus dengan permintaan maaf berulang kali. Jadi berhati-hatilah dengan lisan kita.”

Lalu, bagaimana cara mengendalikan dan mencegah datangnya marah?

    1. Marahlah, jika Allah mengizinkannya. Maksudnya? Ada perkara marah yang Allah izinkan, conohnya jika kita mendapati saudara kita berbuat maksiat. Namun, cukuplah marah dengan apa yang diperbuatnya, bukan kepada pelakunya
    2. Baca ta’awudz
      Marah berasal dari syaitan. Membaca ta’awudz insya Allah akan mengurangi kemarahan pada diri kita, sekaligus menghindarkan diri dari keburukan yang lebih buruk lagi. Setelah memohon perlindungan kepada Allah, ikuti pula dengan meminta ampun kepada Allah atas amarah yang ada dalam hati kita.
    3. Ganti  posisiJika saat marah kamu berada dalam posisi berdiri, maka duduklah. Jika belum hilang, berbaringlah. Jika masih belum hilang berwudhulah dan beristighfar.
    4. Ingatlah betapa besarnya pahala seseorang yang mampu mengendalikan amarahnya. Apa balasannya? Jannah-Nya!
    5. Kendalikan lisanmu. Sebab, seseorang yang sedang marah sangat rawan mengucapkan kata-kata makian, hinaan, cercaan, dan tuduhan yang keluar tanpa terkendali. Jika paku saja meninggalkan bekas, apalagi perkataan kita yang begitu buruk adanya?
    6. Bercerminlah. Kenapa? Sebab wajah seseorang yang sedang marah sangat tidak enak dipandang. Tentu tak ingin kan bermuka masam di depan banyak orang? Duh, nggak kelihatan rupawan lagi. Hehe.

Marah hakikatnya adalah sifat manusia. Laa taghdhob adalah kata yang Rasulullah SAW ucapkan kepada sahabatnya agar manusia menguasai nafsu amarahnya. Sebab marah jarang sekali membawa kebaikan.

Syaikh As Sa’di ra.  mengatakan, “Sebaik-baik orang ialah yang keinginannya tunduk mengikuti ajaran Rasulullah SAW, yang menjadikan murka dan pembelaannya dilakukan demi mempertahankan kebenaran dari rongrongan kebatilan. Sedangkan sejelek-jelek orang ialah yang suka melampiaskan hawa nafsu dan kemarahannya. Laa haula wa laa quwwata illa billaah” (lihat Durrah Salafiyah).

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration