Kategori: Wejangan Grafis

“Adalah Rasulullah bersungguh dalam ibadah di 10 hari terakhir, melebihi di hari lain.” (HR. Muslim)

Tanpa terasa bulan Ramadhan sudah sampai di penghujungnya. Sembilan hari lagi Ramadhan pergi dan akan tiba bulan Syawal sebagai ganti. Bulan kemenangan bagi mereka yang benar-benar mengisi Ramadhan dengan ibadah yang sebaik-baiknya.

Banyak yang bergembira karena lebaran sudah dekat. Bahkan saking semangatnya menanti lebaran, iklan-iklan di televisi dan koran-koran sudah berlomba mengucap “Selamat Lebaran”. Eits, tapi bukan berarti mau lebaran terus ibadahnya jadi males-malesan ya? Malah sepantasnya kita bersedih karena akan ditinggal bulan yang selalu dinantikan setiap tahunnya, di mana ada begitu banyak berkah, rahmat, dan ampunan  dari Allah bagi para hamba-Nya.

Kapan lagi ada bulan yang semua manusia berbondong-bondong untuk sholat ‘Isya’ berjamaah tiap malamnya, berlomba dalam menyisihkan sebagian rezeki untuk berbagi hidangan berbuka, atau terbangun sebelum Subuh untuk sahur dan qiyamullail? Sampai-sampai tayangan di televisi dan siaran di radio juga menyajikan acara-acara religi, meski dibalut dengan tawa dan canda yang tidak terpuji. Duh, jadi sedih.

Menjelang hari-hari terakhir Ramadhan, Rasulullah SAW. selalu menyiapkan diri untuk melakukan I’tikaf di masjid agar bisa lebih fokus dalam bermunajat dan memohon maghfirah dari Allah.

Adalah Rasulullah SAW. apabila memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, beliau mengencangkan tali sarungnya (yakni meningkatkan amaliah beliau), menghidupkan malam-malamnya, dan membangunkan istri-istrinya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Gampangnya, upamakan bulan Ramadhan ini ibarat sebuah perlombaan lari. Seorang pelari biasanya punya strategi agar ia bisa menggondol gelar juara dan yang pertama kali bisa sampai di garis finish. Di hari kesembilan terakhir Ramadhan ini sudah bisa kita lihat garis finishnya : bulan Syawal dan hari kemenangan.

Nah, untuk menjadi seorang pemenang tentu tidak memelankan laju larinya di penghujung lintasan. Justru pelari itu hari menambah laju kecepatan larinya atau ia akan tertinggal oleh pelari lain dan gagal menjadi juara. Sama halnya dengan kita. Semangat menjadi pemenang di hadapan Allah di hari akhir nanti harus kita maksimalkan, seperti Rasulullah SAW. yang diupamakan mengencangkan ikat pinggangnya. Banyak, dan bukan hanya kita, yang mengharapkan ridho dan ampunan dari Allah. Kalau kita ini pelari, berarti kita harus menambah kecepatan lari kita –menambah kuantitas dan kualitas ibadah kita.

Bagi yang mencintai Allah, Rasulullah, dan sunnah-sunnah beliau, tentu tidak ingin ketinggalan, kan? Tanpa ragu lagi, ayo persiapkan hari-hari terakhir Ramadhan sebaik-baiknya. Pergi ke masjid, persiapkan diri mengikuti I’tikaf, bawa mushaf Qur’anmu, bawa buku-buku yang menambah wawasan keagamaan, dan banyak-banyak berdoa , berdzikir, serta memohon ampun kepada Allah. Yang belum bisa beri’tikaf penuh pun jangan bersedih, sebab masih Allah sediakan ladang pahala lain di bulan Ramadhan ini. Wallahu’alam.

Boost up Your Spirit to Win Ramadhan

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration