img-20161125-wa0015
“Pada seorang Guru yang sebenar berilmu, kan kau reguk Adab yang tak disediakan oleh buku-buku.” (Ibn ‘Athaillah)
Dari ungkapan Ibnu Athaillah, seorang Ulama yang sedari kecil terkenal gemar belajar, sejenak kita meresapi bahwa guru memiliki dua sifat alami, keburukan dan kebaikan. Maka pertanyaannya adalah bagaimanakah sosok guru sejati itu?
 Guru sejati ialah guru yang akan senantiasa menghadirkan energi kebaikan dalam tindakannya di ruang-ruang kelas peradaban. Pesonanya menginspirasi tentang adab-adab dan mencontohkan secara langsung kepada muridnya, bagaimana cara bertingkah laku yang baik dan benar. Tak cukup hanya dengan membaca, akan tetapi secara nyata murid harus menjadi timba yang langsung bertatap muka dengan guru, untuk bisa mereguk penjelasan mengenai penerapan teori-teori dalam buku. Karena buku itu sejatinya bersifat pasif, ia tak bisa ditanya apalagi menjawab pertanyaan kita secara langsung. Pada seorang guru sejatilah kita akan mendapatkan jawaban pertanyaan kita, ia akan menghadirkan contoh kesejatian adab.
Keberadaan Seorang guru sejati begitu berarti untuk membangun suatu bangsa. Hal ini telah digambarkan di dalam sejarah Jepang, saat kota Hirosima dan Nagasaki dibombardir dan luluh lantak oleh bom atom dari sekutu. Dimana setelah itu hampir tidak ada sisa di kedua kota tersebut, akan tetapi dengarlah yang menjadi pertanyaan pertama dari pemerintah Jepang saat itu bukan  bertanya berapa banyak kekayaan yang tersisa atau seberapa besar kerugian yang dialami, tetapi yang ditanyai pertama adalah “Berapa jumlah guru yang tersisa?”
Fakta ini menjadi bukti bahwa negara yang kini menjadi percontohan negara maju, sudah sejak dulu menyadari betapa pentingnya peran guru.
Peran guru dalam kehidupan begitu banyak. Sungguh berharga semua ilmu yang mereka sampaikan. Betapa bermanfaatnya pengalaman hidup yang telah mereka bagikan. Luar biasa berpengaruhnya nasihat-nasihat yang mereka wariskan. Mereka ikut mengamati setiap proses pendewasaan kita menjadi insan yang turut membanggun bangsa. Tanpa kita sadari kepribadian, pergaulan dan kesuksesan kita dalam pekerjaan maupun kehidupan pun tak terlepas dari peran mereka.
Maka hormatilah gurumu sebagaimana cara islam mengajarkan kita mengenai asas penghormatan kita yang berati cinta, bukan hormat karena rasa takut.
Rasulullah Saw bersabda:
“Bukan termasuk golongan kita, orang yang tidak menyayangi generasi muda, dan tidak menghormati generasi tua (H.R. Tarmidzi)”

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration