WhatsApp Image 2016-08-17 at 07.18.43

Tujuh puluh satu tahun yang lalu di hari yang diberkahi di bulan Ramadhan, secarik kertas terbuka di hadapan sang proklamator, “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia!”. Tentu kejadian berikutnya sudah kita ketahui, Indonesia Merdeka.

Sederhana dalam foto deretan orang-orang mendengar pembacaan naskah proklamasi, atau pengibaran bendera merah putih yang dijahit Fatmawati, memiliki kisah-kisah tersendiri di baliknya. Bagaimana dimulai dari kisah-kisah datangnya sang penjajah dan penjarah, kemudian pertumpahan darah pahlawan, kerja paksa, pemberontakan, penculikan, dan akhirnya Indonesia merdeka. Lebih rumit lagi mungkin dari buku-buku yang menceritakannya dengan title sejarah.

Pernah dengar ini? Merdeka ada di tangan mereka yang terus bergerak. Sejarah menceritakan kemerdekaan Indonesia muncul dari keengganan rakyat Indonesia dan perasaan “Cukup sudah!” yang dirasakan bangsa Indonesia terhadap penjajahan, sehingga mereka bermaksud merdeka.

Maka, muncul berbagai organisasi pergerakan yang memiliki tujuan kemerdekaan Indonesia. Tentu, tidak sesederhana berdiri dengan mudah, kemudian jaya. Ada konflik, pertentangan, dan bahkan ada penahanan. Tapi, mereka yang mau merdeka harus bergerak. Siapa yang bisa menghentikan mereka?

Kita contoh, Sultan Babullah dari Ternate, jika ia memilih menjadi raja yang tidak bergerak di atas ranjang, oh ditambah dengan buah dan daging yang datang sendiri ketika waktu makan. Apakah mungkin Portugis akan angkat kaki dari ternate?

Contoh lain Soekarno, dalam buku Pak Peter Kasenda, jika saja ketika ia dikirim ke penjara Sukamiskin, atau Flores, bahkan Bengkulu, ia memilih untuk menyerah pada nasib dan bergulung-gulung saja di dalam sel sampai mayat dirinya dikeluarkan dari penjara. Apa mungkin kita bisa menemukan namanya sebagai perwakilan bangsa menandatangani teks proklamasi? Mungkin kita bisa menemukan Soekarno lain, tapi Soekarno ini telah membuktikan dirinya tidak diam, dan menjadi proklamator sekaligus presiden pertama kita.

Mari tarik kesimpulan, Merdeka ada di tangan mereka yang terus bergerak. Anggap saja, seberat apapun bola besi di kaki mereka, mereka masih bisa berpikir untuk merangkak. Jadi, mari bersama-sama kita juga ikut bergerak melanjutkan mereka. Aku dan kamu, karena jika hanya aku, suatu saat mungkin aku akan telah lupa akan ini, dan jika ada kamu mungkin kita bisa berjuang bersama juga saling mengingatkan. Semoga Allah mempermudah pergerakan kita menuju Indonesia yang lebih baik. Indonesia emas, Indonesia berkarakter. Aaamiin.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” [Q.S. Ar-Ra’d (13) :11]

 

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration