6d4307b5-c28e-4873-ad23-7a150e866c10

Sabtu, (2/4) merupakan hari yang diperingati sebagai Hari Autisme Sedunia atau yang lebih ramai dikenal dengan ‘World Autism Awareness Day’. Di tahun 2016 ini sudah terselenggara 9 tahun sejak awal dicetuskannya.

Komite III Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) yang memegang bagian sosial, kemanusiaan, dan kebudayaan kembali mengangkat isu autisme yang telah Qatar ajukan bahwa tanggal 2 April agar dicanangkan sebagai Hari Peduli Austisme Sedunia (World Autism Awareness Day/WAAD). Harapan PBB saat itu agar dunia menjadi peduli terhadap autisme. Juga agar dapat meningkatkan kesadaran untuk meningkatkan kepekaan dan mendeteksi sedini mungkin terhadap gejala autisme pada anak.

Autisme merupakan gangguan pada sistem saraf otak yang mempengaruhi fungsi otak dan dialami pada salah satu bayi lahir.
Kata Autis berasal dari bahasa Yunani ‘Auto’ yang ditujukan pada seseorang yang menunjukkan gejala ‘hidup dalam dunianya sendiri’. Pemakaian istilah autis pertama kali dikenalkan oleh Leo Kanner, seorang psikiater dari Harvard pada tahun 1943. Berdasarkan pengamatan terhadap penyandang yang menunjukkan gejala kesulitan berhubungan dengan orang lain, mengisolasi diri, dan berperilaku tidak seperti pada biasannya oleh kebanyakan orang banyak.

Gejala yang ada berupa sikap anak yang cenderung menolak berkomunikasi dan berinteraksi, dan tidak memperdulikan lingkungan serta orang-orang sekitarnya. Sulit dalam pemahaman bahasa dan komunikasi secara verbal serta perilaku stimulasi diri yang lain.

Pada era dewasa ini, banyak dirayakan hari-hari besar baik nasional maupun Internasional. Tak luput juga untuk Hari Autisme yang selalu diperingati banyak LSM, organisasi juga masyarakat luas lainnya. Mereka pada umumnya menyelenggarakan acara yang bertajuk kepedulian dan melakukan aksi-aksi dalam rangka peringatan Hari Autisme Sedunia.

Tak lain tujuan mereka adalah pencerdasan kepada masyarakat agar memahami tentang autis itu sendiri, bahwa kata ‘autis’ tidaklah pantas digunakan sebagai bahan ejekan karena termasuk perilaku yang tidak etis. Autisme hanyalah keterlambatan perkembangan, hal itu bukanlah menjadi suatu hal yang harus dihindari bahkan dijauhi. Dampak lain yakni bagi keluarga yang memiliki anak dengan autisme, akan menjadi suatu hal yang sangat menyakitkan bagi psikologi mereka. Namun autisme dapat dipulihkan melalui terapi dan pengobatan yang tepat secara rutin berangsur-angsur.

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration