11219100_984406911598770_992338344064013503_n

Surakarta – JN UKMI bersama UKM se-UNS sukses menyelenggarakan acara Malam Doa dan Dzikir Bersama untuk korban asap, Kamis (29/10). Adapun acara tersebut merupakan pembuka dari serangkaian aksi UNS Peduli Bencana dalam usaha menanggapi isu bencana kebakaran lahan gambut di Riau yang sedang hangat dibahas belakangan ini. Rangkaian acara yang dicanangkan yaitu Malam Dzikir & Doa Bersama, Galang Dana Serentak, dan Shalat Istisqo’ (sesudah shalat Jumat) di Masjid Nurul Huda UNS.

Timeline UNS Peduli Bencana

Acara Malam Dzikir & Doa Bersama sendiri telah dilaksanakan pada pukul 20:35 WIB di Ruang Seminar lantai 1 Nurul Huda Islamic Center UNS. Acara tersebut diawali dengan tilawah 1 juz dari masing-masing peserta yang hadir. Adapun pembicara yang didaulat mengisi acara tersebut yaitu Indra Budi Legowo dan Rachmat (perwakilan dari PKPU Solo) serta Edy (perwakilan dari Lazis UNS).

Di sesi pertama, Indra Budi Legowo menyampaikan secara rinci mengenai laporan kegiatan PKPU dalam bergerak membantu penanganan bencana asap di Sumatera dan Kalimantan. PKPU Solo yang merupakan kepanjangan dari Pos Keadilan Peduli Umat Solo sendiri baru berusia sekitar 2 tahun. Dalam penanganan isu tersebut, PKPU tidaklah bergerak sendiri, melainkan aktif bergerak dengan menggandeng Puskomda ketika mengadakan pelatihan water rescue, dan dengan berbagai pergerakan dari berbagai macam elemen di masyarakat.

Kebakaran lahan gambut Sumatera memang sedang menjadi sorotan nasional akhir-akhir ini. Pulau yang memiliki rata-rata ketinggian 5 meter lahan gambut tersebut sampai saat ini masih dilaporkan berasap, walaupun sudah dilakukan water bombing berkali-kali. Menurut Indra, insiden awetnya asap yang mengepul keluar tersebut diakibatkan karena unsur gas CO (Karbon Monoksida) dalam tanah disana tidak dapat terurai dan masih tertahan di dalam tanah. Beliau memaparkan jika tanah gambut memiliki karakteristik yang mirip dengan spons, dimana memiliki kemampuan menyimpan air yang kuat. Alhasil, gas CO yang berbahaya tersebut tertahan di dalam tanah karena tidak mampu menembus dinding-dinding gambut yang penuh kandungan air hujan. Beliau menyesalkan bila sampai kandungan gas CO yang terkandung di dalam tanah sampai menguap keluar secara masif dan menjadi pembunuh massal manusia. Secara teori, manusia akan meninggal dunia dalam jangka waktu 1-3 menit setelah menghirup gas yang tidak berbau dan tidak terlihat tersebut.

Dilain sisi, usaha pemerintah yang melakukan penggalian parit di sepanjang daerah terbakar dinilai sebagai usaha yang keliru. Usaha tersebut yang diharapkan pemerintah mampu menjadi wahana penyimpan air laut yang bisa diserap lahan gambut agar tidak lagi berasap. Namun, Indra menyoroti secara terbalik usaha tersebut. Beliau menilai air yang direncanakan berasal dari aliran air laut itu justru lebih banyak berasal dari air dalam lahan gambut itu sendiri yang terekstrak dan masuk ke parit. Hal ini dikhawatirkan akan mempercepat keluarnya gas CO dari dalam lahan gambut karena air-air yang menjadi dinding penahannya menipis masuk kedalam parit.

Sampai saat ini (29/10), dilaporkan sudah terdapat sekitar 45000 penderita ispa di Kota Pekanbaru saja, dengan rata-rata jarak pandang hanya 50-10 meter. Untuk aksi PKPU di kota tersebut sendiri berupa layanan kesehatan keliling, pembagian masker N95 kepada warga, distribusi oksigen portabel ukuran kecil dan besar, dan pembagian air polyfire yang merupakan alternatif pengganti AC jenis plasmacluster sebagai penyaring udara.

Di lain sisi, pada 19 Oktober PKPU juga melaksanakan aksi tanggap bencana di pulau Kalimantan, tepatnya di Palangkaraya. Ironisnya, menurut Indra, anak-anak kecil di kota tersebut tidak memakai masker sama sekali, padahal situasi kabut sangatlah tebal dan sudah berlangsung berhari-hari. Selain itu, sekolah-sekolah di daerah tersebut juga masih beroperasi seperti biasa. Secara umum, di pulau Kalimantan sendiri PKPU telah melaksanakan tugas sosial di pinggiran Kalimantan Tengah, pedalaman Tuanan, dan lain-lain dengan aksi pembagian masker dan oksigen portabel gratis. Namun selain PKPU, banyak pula terdapat organisasi nirlaba yang turut mendengungkan aksi di kawasan Kalimantan, seperti ACT, Rumah Zakat, dan kepramukaan.

Indra turut memberikan gambaran singkat mengenai alokasi anggaran untuk penanganan bencana kebakaran di Sumatera dan Kalimantan. Untuk sekitar 150 orang penerima bantuan medis termasuk fasilitas masker, kurang lebih menghabiskan dana Rp 5.000.000,- yang didapat dari dana-dana infaq yang dihimpun dari berbagai tempat dan kerjasama institusi. Di lain pihak, pemerintah enggan menetapkan bencana kebakaran yang terjadi sebagai bencana nasional, dikarenakan dapat membebaskan para pembakar lahan gambut yang masih dalam perburuan. Padahal dari PKPU dan aktivis lingkungan hidup sendiri sudah mendesak pemerintah berkali-kali untuk menaikkan status bencana yang terjadi sebagai bencana nasional.

Mengenai penyebab kebakaran hutan lahan gambut di Riau sendiri, menurut Indra karena disebabkan keteledoran pemerintah yang mengizinkan pembukaan lahan kelapa sawit dengan cara dibakar. Setelah diselidiki, dokumen pembakaran hutan ternyata legal dan ditandatangani dari pihak pemerintah disana. Namun karena fenomena el nino la nina yang terjadi menyebabkan pergeseran musim, yang mengakibatkan musim kemarau yang bertambah panjang sehingga kebakaran yang terjadi justru malah meluas.

Indra turut memperingatkan seluruh warga Solo dan sekitarnya mengenai bencana kebakaran Riau yang terjadi dengan mempercontohkan kebakaran yang terjadi di Gunung Lawu. Kebakaran tersebut mengakibatkan 7 orang tewas dan kenaikan suhu di daerah Tawangmangu. Pemadaman juga sangat sulit dilakukan karena sulitnya medan dan keterbatasan alat dan sumber air.

Dari Lazis sendiri, melalui mas Andi turut menyampaikan keterlibatan Pusat Studi Bencana UNS (PSB UNS) dalam melakukan aksi tanggap bencana di Sumatera. PSB bergerak dengan menggandeng seluruh Unit Kegiatan Mahasiswa yang ada di kampus UNS. Namun Andi menyayangkan bahwa status PSB yang berada di bawah institusi pendidikan tidak memungkinkan untuk bergerak bebas dan jauh dalam aksi tanggap bencana. PSB dan UKM se-UNS lebih dominan bergerak di bidang riset bencana dan sosialisasi berbasis pendidikan. Selain itu, perhimpunan-perhimpunan yang digandeng PSB juga cenderung masih bergerak sendiri-sendiri, seperti dari Lazis, Resimen Mahasiwa (Menwa), Pramuka, LDK, dan prodi-prodi fakultas. Alangkah baiknya jika semua itu bersatu bergerak dibawah nama UNS, sehingga terkesan lebih efektif dan terkontrol.

Acara doa dan dzikir bersama yang berakhir pada pukul 22:10 WIB tersebut diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Indra Budi Legowo. Semoga dengan semakin tersiarnya kabar mengenai bencana yang terjadi mampu membuat masyarakat lebih berbondong-bondong mendoakan keselamatan dan penghentian bencana oleh Allah. Dan untuk menyuksesi harapan tersebut, PSB, PKPU, dan UNS menyediakan tempat bagi Anda yang ingin menyalurkan bantuan Anda kepada saudara-saudara kita yang tersiksa disana. Adapaun rangkaian penggalangan dana insyaAllah akan dilaksanakan pada hari Jumat, 30 Oktober 2015 di boulevard depan UNS, gerbang belakang UNS, seluruh fakultas di UNS, dan di birokrat. Mari mendoakan dan mengusahakan yang terbaik bagi saudara kita.

Tim Warta JN UKMI

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration