Oleh Isyfan Ihda Aulia (Staff Bidang Nisaa’ JN UKMI UNS)

Bulan Dzulhijjah telah tiba. Seluruh umat muslim pasti tengah teringat pada kisah Nabi Ibrahim as, Ismail as, dan Siti Hajar. Kita akan teringat cerita tentang kapatuhan Ismail kepada ayahnya, Ibrahim as, teringat tentang sunnah berkurban bagi yang mampu, dan teringat akan kisah dan perjuangan Siti Hajar yang ditinggalkan oleh suaminya, Ibrahim as, dengan menggendong anaknya, Ismail, yang masih bayi di lembah pasir Makkas dalam kondisi tubuh yang kehausan dan kondisi alam yang gersang tanpa memiliki persediaan air. Perjuangan yang dilakukan Siti Hajar merupakan perjuangan yang penuh dengan hikmah dan pelajaran, khususnya bagi para muslimah.

Dalam buku “Misteri Ka’bah”, buku terjemahan dari The Ka’bah, yang diterbitkan penerbit Zaman, dicantumkan kisah perjuangan Siti Hajar. Saat pertama kali ia dan Ismail dibawa Ibrahim as dari Kan’aan menuju lembah yang gersang, Siti hajar sungguh merasa ketakutan. Pasalnya, suku Amaliqah yang gemar berkemah saja, setelah beberapa hari bermukim di sana, tak pernah lagi ingin mengunjungi lembah tersebut karena kondisi lembah itu sudah sedemikian kering sehingga sulit sekali mendapatkan air dan makanan. Kekhawatiran itu bertambah karena Siti Hajar membawa anak mereka, Ismail as, yang saat itu masih bayi.

Tiba-tiba, Nabi Ibrahim hendak pergi meninggalkan Siti Hajar dan Ismail di tengah lembah yang kering. Siti Hajar berniat menahan Ibrahim as dan menanyakan alasan mengapa ia tiba-tiba bersikap demikian. Siti Hajar akhirnya memahami apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim as merupakan perintah Allah, maka sebagai seorang istri yang baik, ia menerimanya dengan penuh keikhlasan dan keyakinan bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan mereka. Siti Hajar mengatakan “Jika memang begitu perintahNya, maka aku yakin Allah tidak akan menelantarkan kami.”

Kini Siti Hajar hanya bersama Ismail yang masih kecil di tengah lembah pasir yang kering tanpa air. Ia dan Ismail merasa kehausan, kesedihannya bertambah tatkala putranya Ismail menangis sekencang-kencangnya karena lapar dan dahaga. Siti Hajar mulai panik dan bingung, kantong air miliknya ternyata kosong. Ia pun meninggalkan Ismail lalu mencari air kesana dan kemari demi Ismail yang kehausan dan kelaparan, berlarian di lembah yang kering. Siti Hajar berlari dari Bukit Shafa ke Bukit Marwa dan terus bolak-balik hingga tujuh kali, matahari membakar kulitnya dan pasir yang panas membuat telapak kakinya berdarah-darah, namun Siti Hajar tetap saja tidak menemukan air untuk minum Ismail yang kehausan.

Di tengah harap dan putus asa, ia kembali menemui bayinya, Ismail. Ketika dekat dengan anaknya, ia terkejut. Mengapa Ismail sekarang tenang padahal tadi menangis? Ia tersentak kaget bercampur bahagia melihat air yang mengalir di bawah kaki bayinya. Air itu muncul bekas hentakan kaki bayinya saat menangis. Ia pun mencidukkan air tersebut dengan tangannya dan memberi minum bayinya. Ia pun tak henti-hentinya memuji Allah atas rahmat yang dianugerahkan kepadanya.

Beberapa waktu kemudian Nabi Ibrahim pergi ke Makkah untuk mengunjungi putranya yaitu Nabi Ismail as untuk menghilangkan rasa rindu pada putranya yang sangat disayanginya, dan juga untuk menenangkan hatinya yang selalu risau jika mengingat keadaan puteranya bersama ibunya yang ditinggalkan di tempat yang tandus. Jauh dari masyarakat kota dan pergaulan umum.

Ketika Ismail mencapai usia remaja, Nabi ibrahim mendapat mimpi bahwa ia harus menyembelih puteranya, yaitu Nabi Ismail.  Mimpi seorang Nabi merupakan salah satu dari cara Allah menurunkan wahyunya kepada Nabi, jadi perintah yang diterimanya dalam mimpi itu harus dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim as. Mengetahui perintah itu, ibrahim duduk dan termenung memikirkan ujian dari Allah yang begitu berat itu. Sebagai seorang ayah yang baru saja dikarunia seorang putera setelah puluhan tahun diharapkan dan didambakan, serta saat ini ia sedang penuh kebahagiaan bersama puteranya yang diharapkan bisa menjadi pewaris dan menyambung kelangsungan keturunannya, tiba tiba harus dijadikan qurban dan harus direnggut oleh tangan ayahnya sendiri.

Sebagai seorang Nabi, Nabi Ibrahim harus menjadi contoh dan teladan bagi umatnya. Nabi Ibrahim as berusaha menjalankan segala perintah-Nya dan menempatkan cintanya kepada Allah di atas cintanya kepada anak, istri, harta dan benda duniawi yang lain. Sungguh amat berat ujian yang dihadapi oleh Nabi Ibrahim as dan Siti Hajar, namun sesuai dengan firman Allah: “Allah lebih mengetahui di mana dan kepada siapa Dia mengamanatkan risalah-Nya”. Nabi ibrahim as tidak membuang waktu lagi, berniat tetap akan menyembelih Nabi Ismail as puteranya sebagai qurban sesuai dengan perintah Allah yang telah diterimanya. Siti Hajar sebagai seorang ibu, tentu merasakan kebimbangan dan kesedihan karena anaknya akan disembelih oleh ayahnya sendiri, namun sebagai seorang istri Nabi, ia pun berusaha menghapus kebimbangannya dan memantapkan hati bahwa apa yang diperintahkan kepada Nabi Ibrahim as merupakan perintah Allah, Tuhan Semesta Alam.

Sementara itu, Nabi Ismail sebagai anak yang soleh yang sangat taat kepada Allah dan bakti kepada orang tuanya, langsung memberikan persetujuan atas perintah Allah ini. Cerita inilah yang mendasari adanya Idul Adha dan merupakan sebuah keutamaan bagi muslim yang mampu untuk berkurban bagi yang mampu.

Belajar dari Kisah Siti Hajar

Dari kisah singkat mengenai apa yang dirasakan Siti Hajar, adalah layak untuk para muslimah untuk meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari. Hemat penulis, tiga perilaku Siti Hajar yang layak ditiru. Pertama, taat kepada Allah. Siti Hajar sangat taat kepada Allah. Ketika ia tahu diminta untuk tinggal di lembah yang sangat gersang, ia tidak protes. Ia tahu bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakannya. Allah tidak akan menelantarkannya di daerah gersang tersebut. Pertanyaannya sekarang, sudahkah kita, wahai para muslimah, taat sepenuhnya kepada Allah SWT? Bila kita sudah menikah, apakah kita sudah menjalankan tugas kita sebagai isteri yang baik yang taat kepada suami? Bila belum menikah, sudahkah masa gadis kita ini digunakan untuk ibadah kepada Allah SWT?

Yakinlah Allah tak pernah menyia-nyiakan kehidupan kita di dunia ini. Yang penting, percayalah kepada Allah dan senantiasa taat kepadanya. Karena Rasulullah SAW bersabda, “Ada dua hal yang tak ada sesuatu yang dapat melebihi keunggulan keduanya: beriman (percaya) kepada Allah dan memberi manfaat kepada kaum muslimin.”

Kedua, sabar dan ikhlas dalam berjuang. Lihatlah kehidupan Siti Hajar. Meski ia ditinggal suaminya, ia tetap berjuang untuk mencari makan dan minum anaknya. Meski hampir putus asa, namun ia tetap memiliki keyakinan bahwa Allah akan menolongnya. Inilah yang perlu ditiru. Meski suami sedang memiliki rezeki yang ‘seret’, janganlah berubah pandangan terhadapnya. Jangan pernah mencacinya. Kesabaran Siti Hajar pun diuji lagi saat harus kehilangan anak satu-satunya. Kemudian ia menyadari bahwa milikNya lah segala sesuatu, sehingga ia berusaha untuk selalu ikhlas akan takdir dan ketentuanNya.

Ketiga, tawakkal dan bersyukur setelah berusaha. Setelah taat kepada Allah dan sabar dalam berjuang, maka yang mesti dilakukan adalah tawakkal dan bersyukur. Lihatlah apa yang dilakukan Siti Hajar. Setelah ia lelah berbolak-balik dari Shafa ke Marwah tujuh kali, ia tawakkal kepada Allah. Ia pun mendekati anaknya dan yakin Allah akan menolongnya. Tawakkalnya berbuah manis. Ia melihat air di kaki anaknya, Ismail. Ia pun tak lupa bersyukur kepada Allah.

Nah itu dia secuil cerita tentang Siti Hajar, teladan bagi muslimah. Semoga tulisan ini mendatangkan ilmu dan manfaat. Muslimah, jangan lupa untuk selalu meneladani sifat-sifat yang diteladankan oleh Siti Hajar. Semoga kita semua selalu dalam jalan lurusNya dan selalu memberikan manfaat bagi sesama, aamiin.[]

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration