FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD) JN UKMI

FEMINISME DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Rabu, 22 April 2015

 

Mengupas Feminisme dalam Perspektif Islam

 

Rabu, 22 April 2015, telah dilaksanakan acara Focus Group Discussion (FGD) JN UKMI UNS. Acara FGD ini digelar oleh pengurus JN UKMI 2015 untuk yang pertama kali di Ruang Diskusi Nurul Huda Islamic Center dimulai pada pukul 16.00 WIB. Acara FGD digelar agar para pengurus mampu lebih kritis menghadapi persoalan yang ada.Tema yang diangkatpun sangat menarik, yaitu “Feminisme dalam Perspektif Islam.” Pemateri pada diskusi kali ini adalah Firdaus Zulfikar, alumni JN UKMI.

Feminisme dapat diartikan sebagai paham yang menuntut hak-hak kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Para feminis menuntut adanya kesetaraan gender, di mana semua yang dilakukan oleh laki-laki juga berhak dilakukan oleh perempuan.

Feminisme lahir dari sebuah premis bahwa, “Wanita adalah kaum yang selalu tertindas.” Kaum feminis merasa bahwa ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang remeh. Mereka merasa bahwa wanita seharusnya bisa bekerja seperti laki-laki. Mereka merasa ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang merendahkan derajat mereka. Contoh perempuan Islam yang meyakini tentang feminisme itu sendiri adalah Amina Wadud dari Amerika Serikat, Irshad Manji, dll.

Adil tidak harus sama rata. Adil harus dilihat dari berbagai sisi. Kita harus ingat bahwa laki-laki dan perempuan telah diciptakan dengan fitrah, hak, dan kewajiban masing-masing.

Dalam Alquran sudah dijelaskan bahwa pria dan wanita diciptakan untuk saling melengkapi, bukan bersaing. Keduanya diciptakan dengan keadaan berbeda, dengan fitrah masing-masing, dan derajat keduanya sama di hadapan Allah. Yang dapat membedakan derajat mereka adalah amal ibadah mereka.

Para feminis menuduh Islam tidak adil. Dalam konsep mawaris, contohnya, para feminis merasa tidak adil jika wanita diberi bagian hanya setengah, sementara laki-laki mendapatkan seluruh bagiannya. Akan tetapi, yang tidak mereka tahu, setengah bagian yang diperoleh oleh wanita akan menjadi hak wanita itu sepenuhnya. Berbeda dengan laki-laki, walaupun dia mendapatkan seluruh bagian dari warisan, tetapi di dalam warisan yang diperolehnya terdapat bagian untuk istri dan anak-anaknya. Ketika seorang wanita mempertanggungjawabkan amal ibadahnya di akhirat, yang dia tanggung adalah dirinya sendiri. Sementara laki-laki, di akhirat kelak tidak hanya akan mempertanggungjawabkan amal ibadahnya sendiri, tetapi juga menanggung istri dan anak-anaknya. Kenyataan-kenyataan inilah yang tidak dipahami oleh para feminis.

Tim Warta JN UKMI

 

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration