Sight_2015_04_25_102032_442

Pada hari Sabtu, 25 April 2015 telah dilaksanakan agenda SIFT 36 H yang ketiga, yaitu Talkshow Amazing Solo, Menjadi Kaya di Kota Budaya yang merupakan kelanjutan agenda SIFT 36 H hasil kolaborasi FEB UNS bersama LDK se-UNS. Acara tersebut diselenggarakan pada pukul 08:00-13:00 WIB di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS. Acara tersebut sukses dipandu oleh Akh Luqman Hanif, yang merupakan kandidat Mawapres D3 FEB dari BPPI FEB UNS. Jumlah peserta yang hadir yang kurang lebih berjumlah 200 orang, yang terdiri dari 150 peserta dan 50 delegasi, sangat menampakkan antusiasme dalam mengikuti seminar kewirausahaan tersebut. 

Talkshow Amazing Solo, Menjadi Kaya di Kota Budaya merupakan seminar tentang bagaimana berbisnis halal di Kota Solo. BPPI FEB UNS dan LDK se-UNS menghadirkan 2 praktisi bisnis lokal dan 1 orang akademisi dalam memaparkan materi-materi bisnis wirausaha selama talkshow berlangsung. Mereka adalah Dr. Mugi Harsono, S.E., M.Si (dosen FEB UNS) selaku akademisi, Sheilla Monica, S.E. (part of SFA Steak), dan H. Suripto (pemilik Dapur Solo) selaku praktisi.

Pada sesi pertama, Dr. Mugi Harsono memaparkan orientasi bisnis di Kota Solo dalam kacamata budaya. Dosen yang juga alumni FEB UNS ini menggambarkan potensi bisnis di Kota Solo dipengaruhi oleh 4 faktor umum dan 1 faktor khusus, diantaranya; akar budaya, geografis, kreativitas, dan kebutuhan publik, serta faktor khusus berupa turunan (derivasi) dari inti pasar bisnis. Secara garis besar, potensi bisnis di Kota Solo ada karena keterkaitan faktor historis sejak zaman sebelum kerajaan Kasunanan Solo terbentuk. Beliau menceritakan tentang bagaimana pergerakan ekonomi perdagangan kala itu kali pertama dimotori oleh Kampung Batik Laweyan. Maka tidak heran bilamana ikon perekonomian Kota Solo saat ini tidak bisa begitu saja terlepas dari sektor perdagangan batik. Selain batik, Dr. Mugi menambahkan bahwasanya wisata sejarah, transportasi sejarah, dan khususnya kuliner juga merupakan parameter akar budaya bisnis di Kota Solo.

Pada sesi kedua, H. Suripto lebih memperjelas presentasi materi yang disampaikan oleh Dr. Mugi, yaitu pada sektor kuliner. Beliau sudah puluhan tahun berkecimpung dalam bisnis kuliner di Kota Solo. Beliau memaparkan materi yang berjudul ‘RICH SECRET: Rahasia Membangun Kekayaan’ dalam perspektif wirausahawan muslim. Rahasia menjadi pribadi yang kaya, menurut beliau ditentukan oleh 6 kekuatan umat Islam. Kekuatan-kekuatan itu adalah kekuatan aqidah, kekuatan akhlak, kekuatan ilmu, kekuatan harta, kekuatan berjamaah, dan kekuatan jihad fisabilillah.

H. Suripto mengaitkan bisnis dengan pribadi seorang pemuda. Beliau berpesan kepada para peserta dan pemuda lain, bahwasanya bisnis tidak memerlukan modal yang besar. Modal sekecil apapun jangan sampai pinjam pada pihak perbankan. Pemuda ditekan agar menggunakan ilmu dalam mengatasi segala masalah bisnis yang timbul. Pria pemilik rumah makan yang semua elemen didalamnya produk lokal itu yakin bahwa ilmu bisnis yang tepat menempati porsi 15%, di lain sisi 85% adalah ketrampilan. Ilmu harus dituangkan dalam sebuah rumus bertindak yang beliau sebut sebagai Rich Formula. Rich Formula yang beliau ajarkan mempunyai 4 nilai dasar, yakni; Income, Saving, Investment, dan Simplicity. H. Suripto berkali-kali mengingatkan juga kepada para calon pengusaha muda, agar mengerem keinginan mereka terhadap konsep lifestyle (gaya hidup) yang notabenenya hanya sebuah nafsu singkat.

Jangan membelanjakan keuntunganmu dulu. Investasikan!

– H. Suripto

Investasi bukan hanya mengenai perputaran uang secara halal, namun juga investasi berupa amal zakat, infaq, serta shodaqoh. Penting bagi seorang pengusaha muda untuk mengerem keinginannya yang memang sangat banyak karena nafsu singkat sebagai seorang ‘pemuda’. H. Suripto mencontohkan strategi sukses seorang Hj. Siti Aminah, pemilik sekaligus pendiri percetakan Tiga Serangkai. H. Suripto menceritakan panjang lebar tentang bagaimana Hj. Siti Aminah sukses membangun bisnisnya karena mampu mengerem nafsu duniawinya dan mengalihkannya kepada amal zakat, infaq, dan shodaqoh dalam banyak sekali hal, salah satunya adalah pondok pesantren.

Di sesi ketiga, Ukh Sheilla lebih memaparkan materi ke arah pengelolaan bisnis dalam kapabilitas sebagai pemuda. Fresh graduate 23 tahun ini menceritakan lalu lalang beliau dalam membantu bisnis keluarganya di SFA Steak & Resto bersama ibunya. Ukh Sheilla tidak menampik jika peran pemuda di sebuah bisnis rumah makan sangatlah krusial. Beliau mengambil contoh, bahwasanya inovasi dalam kuliner sangat diperlukan guna menjaga kestabilan jumlah konsumen dan persaingan pasar. Karena sajian utama di rumah makan beliau adalah Steak yang lazimnya menyasar segmen muda-mudi, maka peran sebuah inovasi sangat berpengaruh. Ukh Sheilla menyadari bahwa budaya amat dijunjung tinggi di Kota Solo, sehingga dalam menjalankan usahanya pun Ukh Sheilla tak melupakan aspek tersebut. “Pusatnya di Karanganyar dan beberapa cabang juga mengadopsi bangunan joglo.”, ujar alumni S1 Akuntansi FEB UNS itu.

Dalam hal teknis, Ukh Sheilla juga mengakui masih belajar. Namun dari proses pembelajaran, beliau tidak pelit dalam membagikan kesimpulan pengalamannya. Dalam berbisnis, seorang pemuda harus memiliki visi atau target yang jelas, proses belajar, dan action. Visi adalah bagaimana kita kaum pemuda ingin diwujudkan dalam jangka beberapa tahun kedepan. Dalam hal proses belajar pun, Ukh Sheilla menambahkan jika belajar bisnis tidak harus bayar, bisa melalui IIBF atau seperti beliau yang rutin mem-follow akun Twitter pengusaha berpengalaman dan menjadikan tweet-tweet-nya sebagai hasil mentoring.

Belajar itu dari peluang, dan banyak yang gratis. Juga, libatkan Allah dalam segala urusan.

-Sheilla Monica

Ukh Sheilla dengan bijak menambahkan jika tidak akan ada hasilnya jika pemuda muslim berwirausaha tanpa melibatkan Allah di setiap prosesnya. Selain visi, pembelajaran, dan aksi yang harus dikantongi, keterlibatan Allah tidak bisa disangkal dalam suatu proses keberhasilan.

Apa yang membuat talkshow kali ini lebih menarik adalah kehadiran hiburan alunan perkusi nasyid dari SaJa Nasheed yang efektif membuat seluruh peserta dalam ruangan menjadi terhibur dengan lagu-lagu Islami bertema masa muda yang dimainkan. Hal tersebut diharapkan menambah efek positif kepada para peserta talkshow yang hampir semuanya berasal dari kalangan pemuda itu semangat dalam menjalani masa mudanya dalam menuruti garis hidup Rasulullah Muhammad Shalalallahu Alaihi Wasallam.

Selain itu pada akhir sesi talkshow, H. Suripto secara khusus meminta salah satu murid mentoringnya, Akh Febri untuk memberikan testimoni kepada seluruh peserta tentang IIBF. IIBF adalah Indonesia Islamic Business Forum yang merupakan organisasi non-profit yang fokus memberikan edukasi kepada para calon pengusaha Islam muda dalam bentuk inkubasi bisnis secara gratis. Pertanyaan mengenai bagaimana caranya bergabung pun langsung terlontar dari salah satu peserta. Jawaban sekaligus cerita singkat dari Akh Febri malah membuat antusiasme para peserta semakin membludak kagum dan semangat 45 untuk menjadi seorang pengusaha Islam muda.

(Tim Warta JN UKMI)

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration