kartini2

 

Hanya di Indonesia, bulan April menjadi hari istimewanya para perempuan. Banyak seminar digelar, banyak diskon dikeluarkan tempat makan dan pusat perbelanjaan, dan beberapa hal unik lain yang dipersembahkan khusus bagi perempuan-perempuan Indonesia. Tanggal 21 April telah disepakati sebagai hari besar nasional sebagai Hari Kartini sebab bertepatan dengan hari lahir R.A. Kartini.

Dengan semboyan “Habis Gelap Terbitlah Terang”, banyak perempuan yang kini tak lagi segan untuk mengajar karier agar bisa dikatakan sejajar dengan laki-laki. Bukan sebuah kesalahan, karena pada dasarnya di setiap lapis organisasi masyarakat akan selalu terdapat peran perempuan meskipun tidak begitu diketahui oleh banyak orang. Yang menjadi kesalahan adalah ketika majunya perempuan ke ranah masyarakat justru membuatnya melupakan kodratnya sedari lahir. Yaitu menjadi anak, istri, dan ibu. Al ummu madrasatul ‘ulla. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Maju atau tidaknya sebuah peradaban juga dilihat dari kualitas perempuan di masanya.

Sekalipun wanita pada akhirnya hanya mengurusi urusan “belakang” rumah tangga, mereka tetap harus mempunyai pengetahuan yang luas dan memiliki peran di masyarakat. Inilah semangat yang Kartini, Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Dewi Sartika, dan pahlawan wanita lainnya bawa. Mereka tidak menekankan bahwa dengan itu seorang wanita bisa dijajarkan dengan kedudukan laki-laki. Karena dalam Islam, wanita memang ditempatkan berada di belakang laki-laki sekalipun dia seorang yang cerdas atau berpangkat tinggi. Kita bisa melihatnya pada pengaturan shaf dalam shalat. Tempat wanita adalah paling belakang. Bukan karena kedudukan wanita yang diangggap sosok manusia yang terbelakang, namun di situlah terdapat pembelajaran bahwa kedudukan laki-laki memang digariskan Allah berada di depan sebagai pemimpin dan menjaga kaum wanita yang berada di belakangnya. Kaum laki-laki memang harus berani berkorban untuk menjaga kaum perempuan.

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam QS. An-Nisaa’ ayat 34.

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya.”

 

FEMINISME?

Kartini dikenal karena buah pikirannya, juga karena sikap terbukanya pada bangsa Belanda. Sebagaimana yang terjadi pada masa itu, perempuan tidak bisa memperoleh pendidikan yang layak. Urusan perempuan hanya terbatas pada urusan “belakang”: sumur, dapur, kasur. Dia menulis dan pandai berbahasa Belanda, bahasa yang dianggap “wah” bagi pribumi masa itu, bahkan oleh bangsawan sekalipun.

Selain Kartini, kita tidak bisa menampik dan terus menyembunyikan sejarah tentang keberadaan sosok-sosok perempuan lainnya dalam sejarah pergerakan wanita Islam di Indonesia. Mereka tidak hanya mengurus masalah “belakang” rumah tangga. Tak banyak yang tahu bahwa ada seorang panglima perang Islam bergender perempuan yang bernama Cut Malahayati. Sejarah seolah menenggelamkan nama-nama besar mereka. Padahal dari kiprah mereka di masyarakat, emansipasi telah tertanam kuat-kuat dalam diri perempuan Islam dan tak gentar ketika harus terjun ke medan perang.

Feminisme, secara parsial, telah dikenalkan dan dikembangkan secara luas oleh mereka yang ingin mendiskreditkan kedudukan perempuan dari pandangan Islam. Emansipasi yang mengatasnamakan feminisme hampir ada di semua bidang. Kedudukan wanita sekarang benar-benar dipaksakan sejajar dengan pria di semua lini. Hal ini memang ada sisi positif dan negatifnya. plusnya, seperti yang sudah kita ketahui bahwa dengan adanya emansipasi wanita itu diangkat derajatnya sehingga tidak ditindas, disepelekan ataupun diperlakukan tidak baik oleh kaum pria. Sehingga seperti saat ini, banyak wanita yang bisa menyelesaikan studinya hingga S3, menjadi ahli di berbagai bidang dan sebagainya.

Negatifnya, terkadang wanita sendiri melupakan batas antara pria dan wanita. Contohnya saja pada hal kepemimpinan. Sekarang banyak pemimpin mulai dari kepala desa hingga gubernur dipegang oleh wanita. Padahal sebagai muslim kita mempunyai pedoman bahwa ketika memilih pemimpin, jika masih ada pemimpin laki-laki maka pilihlah dia. Hal ini disebutkan pada QS. An-Nisaa’: 34.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (An Nisa:34)

Qodarullah, jika ada perempuan yang menjadi pemimpin di atas laki-laki.

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS: Al-Mujaadilah: 11)

Namun, bukan berarti menjadi pemimpin adalah satu-satunya jalan untuk menyejajarkan derajat. Karena bagaimanapun juga laki-laki dan perempuan telah diciptakan dalam kondisinya masing-masing.

Kaum feminis dalam memandang Islam menganggap bahwa Islam itu menghambat kebebasan perempuan. Padahal jika kita mengkaji lebih jauh, Islam adalah agama yang sangat menghargai dan melindungi perempuan. Salah satu buktinya adalah Islam menyuruh wanita untuk menutup auratnya, salah satunya dengan menggunakan jilbab. Dalam pandangan feminisme, aturan menggunakan jilbab dianggap sebagai pengekang wanita. Jika kita kaji lebih jauh lagi, banyak manfaat yang terkandung dalam aturan tersebut, antara lain adalah melindungi wanita dari mata jahil pria, dengan adanya jilbab menjadikan wanita itu akan lebih dihormati.

Hari Kartini, meski untuk menggelorakan semangat emansipasi, bukanlah sebuah deklarasi bahwa perempuan boleh mencapai kebebasan diri sebebas-bebasnya. Perempuan telah memiliki peran sendiri dalam tatanan masyarakat sebagai penyeimbang ketegasan dan rasionalitas laki-laki, di mana kebanyakan perempuan secara fitrah terlahir lembut dan sensitif. Perempuan adalah tiang yang akan menjadi tegak dengan penjagaan, sebagaimana Rasulullah SAW. yang telah menegakkannya dengan ghirah Islam dan kelurusan ajarannya.[]

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration