label-funtastuc

“Ada tidaknya dirimu, dakwah akan terus berjalan. Namun betapa rugi jika kamu berjalan bukan di dalam dakwah”

Satu tahun bukanlah waktu yang lama dalam mengarungi samudera perjuangan bernama Funtastic14. Di sinilah orang-orang hebat mengerahkan jiwa, raga, dan pikirannya untuk berjuang melawan derasnya arus problematika. Memang, kadang begitu berat, namun seiring berjalannya waktu kami sadar bahwa beban yang ada di pundak dapat kami selesaikan sedikit demi sedikit. Banyaknya program kerja yang menyangkut visi misi dakwah menjadi hidangan kami dalam setiap kesempatan. Kemudian deadline pekerjaan yang singkat menyubstitusi lelah menjadi semangat yang tak pernah padam.

Riak di lautan tak kemudian membuat kami takut untuk terus berlanjut hingga ke tengah samudera. Kami singgah di sebuah pulau bernama Kajian Rutin NH (Kantin NH) dan Kajian Selasa Sore (KSS) untuk beberapa kali dengan waktu yang tidak sebentar. Singgah untuk berbagi kebermanfaatan bukan menyisakan luka. Di beberapa kesempatan, kami juga sempat berkunjung ke sebuah bungalow yang kami sebut Majelis Jejak Nabi (MJN), majelis yang tidak pernah sepi dalam keberjalanannya.

Bukan hanya itu, dalam bulan yang suci nan penuh berkah, kami melabuh di suatu daratan di mana banyak orang berkumpul di sana untuk menuntut ilmu. Daratan tersebut bernama Ramadhan di Kampus (RDK). Dengan penuh energi kami berbondong-bondong bercengkerama untuk berbagi cinta di tempat tersebut. Hanya sebulan kami disana, kemudian kami melanjutkan perjalanan yang lebih indah lagi.

Hingga di suatu malam, bulan bersinar sayu tetapi cahaya di dek utama bernama Nurul Huda tetap terlihat berkilauan dari luar angkasa. Di sela-sela lelahnya tulang belakang ini, kami persembahkan suatu karya yang disebut Malam Bina Ruhiyah (Mabiru) dengan tamu-tamu yang selalu berbeda dan menginspirasi. Dalam kesempatan ini pula banyak orang dari bahtera lain kemudian singgah bersama kami untuk satu atau beberapa malam.

Tak hanya itu, pernah juga matahari tersipu malu ketika berada di tengah teriknya, kami tetap bertahan di dekat layar untuk mengibarkan bendera berjudul Tabligh Akbar. Hal ini kemudian kembali mengundang penerjang-penerjang ombak yang handal dari kapal lain. Lalu di satu kesempatan terakhir, kami mempersiapkan sebuah acara besar yang di dalamnya terdapat konser kemanusiaan yang kami sebut sebagai Sebelas Maret Islamic Festival (SIFT).

Hampir di seberang samudera. Kami melihat awak kapal yang masih mengepalkan tangan mereka untuk terus melaju tanpa henti hingga sampai di sebuah pulau tujuan bernama keberhasilan. Pulau itu kini tinggal beberapa mil dari hadapan kami. Tetapi ombak yang menghantam sendi-sendi kapal ini begitu berat, hingga kami rasakan merasuk dalam pundak kami hingga terasa lelah.

Namun apapun yang terjadi, kami tak ingin rugi dengan melompat ke samudera lalu menyampaikan selamat tinggal pada bahtera ini. Kami ingin sampai di sana bersama awak-awak yang lainnya. Dengan selamat dan penuh bangga, membawa nama dakwah atas izin Allah SWT., kemudian menyampaikan wasiat ini kepada penerus kami yang lebih baik dan lebih handal dari kami. Pelaut-pelaut muda yang siap mengarungi samudera kedua, bernama 2015.[]

Oleh : Witria Kusuma Dewi

(Koordinator Akhwat Dept. Dakwah Kampus Bidang Dakwah)

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration