label-funtastuc

“Sesi muhasabah, kali ini tangisku benar-benar pecah….”

 

Cahaya surya membelah kegelapan langit, menyusupkan hangat yang memberikan asa pada penduduk bumi. Buliran embun bak taburan kristal putih di sudut-sudut dedaunan, menggelayut pada jaring-jaring kehidupan di sela dahan usang, menghiasi serat-serat pagi yang mulai tersulam.

Cling…! Bunyi nada dering tanda sms masuk. Kugapai hp yang tergeletak di meja. Jarkoman agenda JN UKMI rupanya. Upgrading 2. Upgrading, mendengar satu kata ini yang terbayang pertama kali adalah outbond. Aku tak begitu menyukainya, meski terkadang aku tertawan bahagia setelah melakukannya.

Pagi-pagi terlalu risih jika harus memikirkan hal-hal tak menyenangkan. Kuabaikan saja sms dari atasanku itu, Mba Puji. Terlalu sungkan jika harus menjawab,”Maaf, tidak bisa ikut.” Kupilih diam saja, kuletakkan kembali hape di meja dan melanjutkan kembali aktivitas yang tertunda. Namun nampaknya tak konfirmasi membuatku tak tenang, kata-kata “Upgrading 2” terasa membuntuti setiap langkah-langkah kaki. Aaaakk, menyebalkan! Tak tahan aku dengan kegundahan ini, kuputuskan ikut saja. Apa yang terjadi nanti, jalani saja. Kukirim balasan lewat pesan singkat, kubuat seceria mungkin,“Oke, Mba, bisa ikut ^-^”. Padahal di balik itu… entahlah.

***

Siang ini mentari bersinar cukup cerah, tak mengisyaratkan akan turun hujan, karena memang belum waktunya musim hujan. Aku dan Fatimah (motor plat Z-ku) bertolak dari Nurul Huda menuju tempat tujuan yang entah di mana, bersama rombongan pembawa panji hijau berlambang Nun dan Ha JN UKMI UNS.

Saat melalui jalan raya di daerah Palur, memori lama tergambar kembali. Aku pernah melalui jalan ini saat hujan turun dengan derasnya sepulang dari sebuah agenda JN UKMI di  Tawangmangu. Waktu itu ketumnya masih Mas Hasan. Saat berkendara, tiba-tiba sebuah kegilaan hadir di kala motorku dengan eloknya melintas membelah genangan air. Kala itu pikiranku mengular ke mana-mana, hingga jatuhlah pada sebuah iklan sepeda motor. Dan spontan aku pun bernyanyi,Melintasi waktu demi waktu, melesatkan kita ke tujuan….” Senandung yang cukup mengurangi derita perjalanan.

Masjid Agung Karanganyar, tempat upgrading 2 kali ini. Seperti niatan awal, aku mengikuti kegiatan ini dengan setengah hati. Sesi demi sesi berlalu. Perasaanku mulai membaik. Rasa setengah hatiku berkurang jadi seperempat hati setelah sempat aku bergelut dengan jagung-jagung dan arang hitam, sampai menangis-nangis karena diserang kepulan asap dari pembakaran arang.

Siang berganti malam sesi terakhir hari ini di akhiri dengan diskusi tentang kepemimpinan. Tiba saatnya istirahat, aku masih harus menggandakan presensi acara “Silaturahim Kebangsaan” (salah satu acara SIFT).

Mengingat acara SIFT ini lagi-lagi lamunanku kembali ke masa lalu. sepenggal kenangan. Saat aku diberi amanah yang cukup penting. Kala itu aku terpaku, terjepit tiga tugas yang semuanya penting. Bingung harus mendahulukan yang mana. Semuanya menuntut dikerjakan waktu itu juga. Hanya bisa terdiam dan saat membaca sebuah pesan,“De Dewi, kalau memang kesulitan biar Mbak aja yang ngerjain, Mbak paham kok gimana keadaan De Dewi.” Seketika hatiku linu, pipi memanas, dan buliran hangat mengalir melalui sudut-sudut mata. Ya Allah, betapa aku tak maksimal menjalankan amanah ini, hingga tak bisa menyelesaikan tugas dengan baik. Tersadar presensi masih kosong, Neng Eva yang dari tadi membantu, sampai terkantuk-kantuk, harus segera diselesaikan!

Pagi-pagi sekali sesi sudah dilanjutkan kembali. Sesi muhasabah, kali ini tangisku benar-benar pecah saat aku mengakui kesalahanku di hadapan orang yang sempat tak kusukai, bahkan sempat mendendaminya. Perang dingin berkepanjangan akhirnya mereda. Aku sebenarnya sadar bahwa aku salah, hanya saja lisan terlalu kaku untuk menggambarkan bahasa hati yang selalu jujur, aku terlalu pengecut untuk mengakuinya.

Episode kali ini meninggalkan kesan mendalam. Kisahnya akan kusimpan dalam ruang terindah di memori otakku. Terlalu banyak kisah Funtastik denganmu, JNUKMI. Manis pahitnya tak akan mampu kulukis dengan kata. Setiap perjalanan selalu meninggalkan potongan-potongan cerita. Potongan-potongan itu membentuk mozaik-mozaik indah yang menyimpan berjuta makna dan pelajaran.[]

Oleh : Dewi Uswatun Hasanah

(Bidang Kesekretariatan Umum)

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration