label-funtastuc

“Karena kita adalah anak-anak kandung dakwah yang terlahir, hidup, dan mati di jalan dakwah”

 

Laksana langit, mendung dan cerah silih berganti. Bak lautan, kadang tenang, kadang bergelombang. Namun karenanyalah jiwa dididik untuk memahami bahwa berada dalam naungannya berarti rela menerima cuaca apapun yang menerpa. Berarti mesti berani menghadapi terjangan ombak samudera yang tak menentu.

Di sinilah ia mendidikku. mengajariku berbagai hal, dan mempertemukanku dengan beragam orang. Di sini pula kudapatkan buku catatan yang selalu kutulisi hari-harinya dengan cerita bersamanya. Ya, di JN UKMI UNS.

Adalah cinta yang mempertemukan segalanya. Adalah cinta yang mengawali semuanya. Dan atas nama cinta pula, kami saling berkumpul, bertautan hati, dan mengokohkan komitmen. Karena dakwah adalah cinta dan cinta akan meminta segalanya darimu, waktumu, pikiranmu, hartamu, bahkan air mata dan darahmu. Karena itu kami menyiapkan hati untuk berlapang dada, menerima segala kemungkinan yang akan terjadi.

Sebuah episode sejarah yang teringat bahwa kami pernah bersatu mengusung sebuah agenda nasional. Dalam waktu tiga hari berturut-turut kami diforsir, diperas seluruh energi dan ide demi suksesnya acara. Di situlah kami nyata merasakan lelahnya berjuang, letihnya terjaga, dan harus selalu bersiap bergerak. Kaki-kaki kami harus selalu kokoh menapak, mata kami harus senantiasa terjaga, pikiran kami harus senantiasa cepat tanggap, dan telinga kami harus selalu mendengar. Karena saat itu, kami mengusung amanah sebagai tuan rumah Rapimnas III FSLDK, demi mempersiapkan FSLDKN 2015 mendatang, demi majunya dan lebih tersebarnya syiar-syiar dakwah kami.

Kadang kualitas mengalahkan kuantitas. Begitulah sejarah mencatat, dalam setiap periode masanya akan ada pahlawan-pahlawan yang menunjukkan kelebihan kualitas dibanding kuantitas. Namun tetap saja, dalam benak kami bahwa kuantitas tetap kami pentingkan. Sehingga terkadang kuantitas yang sedikit harus membuat kami ciut dan sedikit ragu dalam menggelar acara, meski pada akhirnya kami tetap yakin bahwa kami tak meragukan kualitas mereka yang hadir. Adakalanya ketika kami membuat acara, Architect of Civilization School (ACS) misalnya, jumlah yang hadir dapat dihitung dengan jari tangan. Terkadang aku sayu menatap animo mahasiswa yang entah menghilang di mana. Minat terhadap kajian-kajian menurun, minat untuk diskusi menurun, bahkan untuk sekedar sekali-dua kali. Pernah ketika kami menggelar diskusi internal, pada awal grand launching jumlah peserta lumayan banyak. Namun seiring waktu mereka berguguran laksana daun pada aki (musim gugur).

Meski begitu, meski sering merasa sepi dalam menelusuri jalan ini, meski terasa dingin, namun selalu ada senyummu yang menghangatkan kembali diriku. Ya, senyum di keseharianmu yang membuat tangkai hati yang layu kembali mengokoh seperti cahaya dan air yang menyirami setangkai bunga.

Satu hal yang membuat kabin ini, kata ketua umum menyebut tempat di mana kami semua bernaung, adalah karena tak kami temui hal serupa di tempat selain di lembaga dakwah atau lembaga yang berbasis Islam, yaitu ukhuwah. Ya, kalau boleh jujur, indahnya lembaga dakwah kampus dibanding badan eksekutif mahasiswa adalah karena adanya taman keakraban yang dibangun dari ikatan-ikatan berlandaskan nilai-nilai Islam. Ya, Islam memang solusi terbaik dalam menenangkan hati yang gersang akan hablumminannas.

Terkadang, meski bukan harinya masuk, aku sengajakan untuk jauh-jauh datang ke sekre di kampus, sekedar agar mendapatkan rasa nyaman kembali. Karena bagiku, sekre adalah rumah kelimaku (setelah rumah orang tua, rumah kakek-nenek, rumah sendiri suatu saat nanti, dan rumah mertua besok :v). Aku, mendapat kenyamanan yang mungkin tak didapat orang selainku ketika di sekre. Jika diizinkan, aku sebenarnya mengusulkan pengadaan kulkas di sekre, agar membuat pengurus lebih nyaman lagi, hehe, tapi buat apa….

Sebuah taman akan indah bukan karena keseragaman bunga yang tertata, namun karena adanya keanekaragaman warna dan bentuk bunga yang ada. Begitu pula JN UKMI. Ia indah karena keunikan tiap pengurusnya. Misalkan saja jika boleh sebut nama, beberapa pengurus yang unik adalah Wiwit Setiaji, Aziz Mustholih, Harun Rahmat, Idham Cholid, dan Andrian Sularso. Sampai-sampai aku ingin memukul mereka dan meneriaki telinga mereka,“Dasar aneh…!” lalu tertawa-tawa.

Sebuah pesan menarik dari ketua kita, mas Hanafi selalu (nggak juga sih) terngiang dalam sudut memoriku, terpojok, menumpuk, dan berdebu :D. Kita tidak akan pernah menjadi pelaut yang handal sebelum mampu melewati gelombang ombak dan badai. Iya mas, tapi saya maunya jadi pilot tuh….

Sebuah pesan yang menurutku berarti, bahwa tantangan itu akan selalu ada, dan tugas kita adalah menantangnya untuk membuktikan bahwa kita teruji dan siap. Karena dakwah hanya dapat diusung oleh orang-orang yang teruji dan siap, yang bersedia menguatkan pundak menanggung beban. Karena kemenangan Islam tak dapat diraih dengan kerja seadanya dan satu generasi saja. Maka menjadi kokoh dan kuat adalah satu-satunya pilihan untuk terus menggelorakan semangat dalam memikul amanah di jalan dakwah ini. Karena kita adalah anak-anak kandung dakwah yang terlahir, hidup, dan mati di jalan dakwah. Ayanqushuddin wa ana hayyu?

Oleh : Mahmud Nur Kholis

(Koordinator Dept. Humas Bidang Kominfo)

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration