label-funtastuc

Agar tidak terlalu manis, agar tidak memabukkan

Warung makan bunda Aqin, pukul 10.09.

Bagaimanapun perut lapar harus diisi. Tidak berjalan logika kalau tanpa logistik, konon kata orang bijak penghuni sekretariat. Sebelum dikejar jadwal ketat perkuliahan, setidaknya ada asupan gizi buat sayalah. Melangkah kaki saya ke dalam warung. Biasa, memesan seporsi nasi sayur dengan kuah opor. Saya mencari tempat duduk yang nyaman. Biasanya saya duduk di dekat kipas angin agar tidak kepanasan. Saya mulai menikmati makanan saya. Alhamdulillah masih bisa makan nasi dengan tenang, teringat teman-teman di Palestina. Kuliah jalan kaki di intai Apache. Atau apapun itulah.

Ketika saya mulai melahap potongan besar tempe goreng, saya melihat hal menarik di atas meja saya. Ya, si hitam legam. Kata iklan namanya Malika, tapi yang ini mereknya piring Lombok, mungkin namanya beda. Entah Maliki atau Malaka. Yah, saya tidak tahulah. Dengan tersenyum saya ambil benda itu, lumayan menambah citarasa dari makanan saya. Enak, batin saya. Setidaknya menambah rasa dari tempe mendoan yang memang agak hambar sebenarnya. Yah, begitulah. Senyum saya ini memang bukan senyum sembarangan. Teringat kembali pada masa lalu, ketika saya mengecap sesuatu yang mungkin sama seperti si Malika ini. Berwarna hitam legam, tetapi, ah, mantap rasanya.

Sebuah lembaga terkadang terlihat kelam, suram, dan berat. Seperti kesan warna hitam pada Malika. Betul, seperti racun atau semacam itulah. Justifikasi warna memang luar biasa mempengaruhi. Sebuah lembaga yang mirip seperti Malika itu, mungkin pernah saya selami. Saya betul-betul mengira lembaga tersebut adalah lembaga beracun, meskipun ada embel-embel “Islam” di belakangnya. Beracun bukan pada ideologi, tapi pada kerja dan tanggung jawab yang tidak ringan.

Tetapi, kawan, selamilah sedikit, orang yang tidak pernah mengecap rasa Malika tidak akan tahu betapa manis rasa Malika. Ah, tetapi Malika juga perlu ditemani. Entah dengan mendoan atau kerupuk. Agar tidak terlalu manis, agar tidak memabukkan. Mendoan atau kerupuk itu bukan apa-apa, tidak mahal. Dia hanya kita pribadi, entah siapa kita. Mungkin ada diri kita yang kokoh, padat, seperti tepung, tapi, terkadang rasanya hambar, kurang asin, bahkan tanpa ada citarasa. Tetapi, jika ditambah Malika, rasanya seperti daging steak. Enak, mengenyangkan juga. Ada juga seperti kerupuk, ringan, renyah, dengan rasa gurih terkadang membuat “seret”. Tetapi ditemani Malika, rasanya sangat kaya. Menyenangkan.

Tahukan kawan, kapal besar yang kita banggakan memiliki nilai seperti Malika? Bahkan kita yang menjadi admiral, atau kelasi, atau ahli mesin atau apapun itu, tak lain hanya bernilai mendoan-mendoan atau kerupuk yang saling melengkapi dengan Malika. Betapa kerdilnya kita.

Terasa cukup kenyang, makan, dan tanpa terasa makanan di piring sudah saya habiskan. Betul-betul pengalaman makan yang menyenangkan. Saya tatap Malika, yah, saya rasa terlalu banyak Malika dalam makanan juga kurang baik. Saya hanya akan menyampaikan terima kasih pada Malika. Terima kasih telah mengenyangkan saya. Mungkin, yah, perlu saya mencoba sirup, teh, kopi atau yang lain. Tenang, Malika, saya tidak akan mencoba kuah daging babi atau minuman keras. Saya juga akan membersamaimu. Bukannya kau juga memiliki kawan bukan? Terima kasih, Malika.[]

Oleh : M. Abdullah ‘Azzam

(Koordinator Dept. Administrasi Keuangan Bidang Bendahara Umum)

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration