label-funtastuc

Langit biru t’lah kelabu, awan berarak sendu, bumi bedzikir senandung lirih

Gerimis pun membasahi, sudut-sudut hati, tempatkan semua puisi rasa, dalam nyata

Kubiarkan hujan mengawali hidupku padamu yang indah disana,

kuhanyutkan hati menembus cinta-Mu dan aku pun merasa bahagia…. (Hujan –Ali Sastra)

Lirih senandung hujan mengawali pagi ini, dengan gemericik airnya, yang turun menyusup ke tanah menambah sejuk suasana pagi. Sejalan dengan itu sebuah pena tergoreskan pada lembaran kertas putih pertanda sebuah cerita baru telah dimulai. Sebuah cerita tentang kami.

***

Episode pertama.

Semua bermula dari registrasi mahasiswa baru. Dengan segudang penantian, akhirnya hari ini bisa kusentuh dan kugenggam almamater itu. Almamater kampus UNS tercinta.  Di tengah hiruk pikuk mahasiswa atas yang sibuk meneriakkan nama prodinya, untuk siap menyambut adik barunya yang masih polos dan bingung. Dengan papan nama ataupun segudang teriakan lain. Sampai pada akhirnya  sosok itu menghampiriku , dengan senyum yang merekah dan penampilan yang anggun, bersahaja, dan sejuk.  Pada akhirnya diriku seakan terhipnotis dan tertarik untuk mengikutinya, dan sampailah aku di sebuah tempat kecil, di pojok lokasi registrasi. Dengan senyum dan sambutan yang ramah, kami pun bercakap-cakap. Sampai akhirnya sosok itu memberikanku lembaran-lembaran. Tanpa kusangka lembaran itu adalah sebuah salam perkenalan yang indah, dan saat itulah aku pertama kali mengenalmu. Gerimis pertama pun turun.

Episode kedua.

Riuh rendah suara tepuk tangan memenuhi Student Center UNS. Sebuah mahakarya persembahan bagi kami, mahasiswa baru, tercipta. Berbagai macam pertunjukan tersaji hari itu khusus untuk kami mahasiswa baru. Penantian keduaku pun turun saat sebuah UKM siap menampilkan aksinya, dan lagi-lagi membuatku menurunkan gerimis ke -2

Episode ketiga.

Ini bermula dari suatu masjid, yang sudah roboh, diruntuhkan pondasinya dan kini yang tersisa hanya puing-puing dan serambi yang tersisa. Seakan tak ada harapan penghidupan di dalamnya. Namun, tak ditengah puing-puing itu sebuah penghidupan muncul dan berkembang. Sebuah penghidupan yang berlandaskan ukhuwah dan persaudaraan yang di dalamnya kita cicipi manisnya iman. Dan tak salah lagi penghidupan yang selama ini menghampiriku JN UKMI yang menjadi kependekan dari Jamaah Nurul Huda Unit Kegiatan Mahasiswa Islam. Sebuah barisan yang mengambil nama sesuai dengan masjid yang menjadi kediaman besarnya, Masjid Nurul Huda.

Awal-awal bersamamu, bagi sebagian orang dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting. Mereka berpikir kuliah saja sudah cukup, kenapa harus ikut kegiatan ini pula. Menambah padat jadwal dan mengganggu kuliah. Seiring berjalannya waktu, statmen dan ungkapan itu seakan bagai angin lalu lalang yang sudah mubadzir. Kau yang selama ini dianggap pengganggu ternyata punya makna tersirat lain, dengan hadirmu hidup jadi lebih berarti,

Sebagai manusia kita hidup pastinya punya tujuan, yaitu sebagai khalifah di muka bumi yang senatiasa beribadah kepada Allah SWT.. Sebagai mana yang telah diperintahkan dalam Al-Qur’an. Beribadah di sini punya banyak sisi makna. Berjuang bersamamu, jika kita mengikutinya dengan niat tulus ikhlas, maka akan dicatat oleh sebagai suatu kebaikan yang sempurna. Insya Allah.

Dari barisan ini aku terus belajar, balajar memahami kawan karib satu sama lain, belajar untuk menjadi sosok yang selalu memperbaiki diri, belajar menempa ilmu. Dari barisan ini kita belajar, terkadang saat seakan tugas kuliah menumpuk dan tak ada yang bisa menjadi tempat curahan, di sinilah kita bisa bagikan hal itu bersama teman-teman agar beban itu tak terasa penat lagi di jiwa. Saat jiwa sedang penat ataupun sedih, dalam barisan ini kita bisa tertawa lagi melihat keceriaan teman-teman.

Saat bersamamu, aku juga menggali inspirasi alam. Menadaburi ayat-ayat kauniyah Allah dengan berwisata melihat dan menikmati keindahan alam. Belajar membaca tingkah alam ataupun yang disekelilingnya.

Gerimis masih meringis dan kini kian mengiris, tapi aku pun masih menulis….

Dan kini, entah episode ke berapa yang telah kulewati bersamanya, Terhitung kurang lebih dua tahun bersama, barisan ini telah banyak suka duka terlewati, karena UKMI telah mampu mengubah hidupku. Seakan-akan, saat hujan, panas, badai datang diri ini selalu berusaha untuk hadir dalam setiap agendanya. Dalam satu minggu tiada suatu kesan yang berarti tanpa kehadirannya.

Yah, memang engkau. Ibarat obat, di luarnya terlihat membosankan dan berasa pahit, tapi dari rasa pahit itulah sebuah obat hadir untk selalu menyembuhkan, menyejukkan, dan mengisi ulang ruhiyah dan keimanan kita. Dari barisan itu kita belajar untuk menjadi pribadi yang selalu punya banyak inspirasi dari majelisnya, dan senantiasa melakukan perbaikan diri dari hari ke hari. Menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih baik lagi.

Gerimis pun tersenyum, kini  mentari pagi  menyembul keluar dari persembuanyiannya

Episode-episode ini masih ‘kan berlanjut, hingga pada titik akhir kejut. Seperti gerimis pagi yang selalu membuat takut dan ternyata perjuangan ini kan terus bergelut dalam kabut….

Gerimisku pun tak kan pernah berhenti lagi.[]

Oleh : Luluk Mar’ah Sholihah

(Koordinator Departemen Jaringan dan Syiar Muslimah Bidang Nisaa’)

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration