label-funtastuc

“Deadline. Cukup satu kata, tapi berjuta rasa.”

Sampainya kami di ujung dermaga bukanlah akhir, melainkan awal bagi pelayaran-pelayaran lain. Walau berbeda nahkoda, insya Allah apa yang telah tertera dalam hati akan memiliki tempatnya tersendiri.

Masuk lagi ke Bidang Kominfo 2014 ternyata semakin dihadapkan pada berbagai deadline. Mulai dari tulisan, video, hingga desain, yang biasanya bukan hanya kerjaan internal alias melayani pesanan dari bidang luar. Sepertinya sih tidak terlalu masalah karena keahlian desain anak-anak Kominfo tidak perlu diragukan (saya masuk list pengecualian!). Toh salah syarat tidak tertulis masuk ke jajaran Kominfo adalah kamu bisa desain atau menulis –minimal punya ketertarikan dan kemauan untuk belajar. Hanya saja, yang bikin geregetan adalah ketika desain baru nembung hari Selasa, hari Kamisnya minta sudah jadi tanpa revisi. Rasanya mau bilang,”Desain aja sendiri!” Cuma ya, nggak tega, dan nggak boleh. Hehe.

Deadline terberat yang harus dilewati adalah ketika tiba waktunya INSPIRE 10 terbit. Adalah tantangan yang cukup berat mengingat edisi ke-10 adalah edisi cetak dan sengaja dipaskan dengan momen RAPIMNAS FSLDK III dengan JN UKMI berperan sebagai tuan rumahnya. Padahal nyaris semua redaksi INSPIRE masuk ke dalam kepanitiaan. Senut-senut rasanya. Ada agenda nasional, deadline majalah, belum lagi jika mau ditambah dengan tugas kuliah. Apalagi saat itu posisi saya di luar kota selama beberapa hari. Dengan sinyal yang tidak bisa begitu diandalkan, deadline editing naskah mau tak mau harus tetap kelar.

Dan karena edisi cetak, maka sebagai redaksi kami pun sadar diri kalau biaya cetak itu tidak murah, sehingga harus mencari donatur dan sponsor yang akan memasang iklan di majalah nanti. Bukan hal yang mudah mencari dana, mengingat edisi 8 baru saja terbit dua bulan sebelumnya dan belum tuntas didistribusikan. Beberapa instansi yang kami masuki belum membuahkan hasil positif. Meski begitu, kami percaya bahwa Allah Mahakaya. Jadi, masalah uang, bisa dipikir agak belakangan. –dalam hati membatin, masih ada Bendum.

Umumnya peraturan yang seakan dibuat untuk dilanggar, deadline pun berkali-kali mengalami nasib yang serupa. Pengumpulan naskah molor, baik dari intern redaksi maupun bidang lain, sehingga desainer pun ikut mengubah peran menjadi pengingat deadline. Majalah yang harusnya terbit setiap tanggal 14 –angka favorit ketum- pun mundur. Mohon maaf untuk seluruh redaksi yang sudah terlanjur bosan ketika harus saya ingatkan ya!

Tidak akan ada manis sebelum merasakan pahit. Beberapa kali sempat nyaris putus asa dan setengah bercanda ingin mengundurkan diri dari amanah ini. Ah, tapi langsung ingat, Allah tidak akan memberi apapun yang hamba-Nya tidak bisa tanggungkan. Kalau ini adalah ujian kenaikan tingkat, ya lewati saja. Banyak yang diuji dengan hal yang lebih berat. Malu rasanya jika amanah ini menjadi terbengkalai. Apa yang akan Allah katakan di hari hisab nanti? Jadi, terus melangkah dan menerabas jalan dengan asal menjadi sebuah keputusan. Bahkan saking alay-nya beberapa kali saya mencetuskan kata : Cinta yang memaksaku bertahan. Hehe. Maka dari itu, niatan perlu di-refresh agar amanah ini berjalan bukan karena posisi, bukan juga karena tuntutan dari lembaga. Yang bahayanya, jika pengharapan pada posisi dan lembaga rusak, rusak pula komitmen kita dalam menuntaskannya.

Sungguh,”Sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah” membutuhkan perjuangan yang tidak pernah berujung. Ujian akan selalu datang. Dan yang kadang bikin panas dingin adalah ketika deadline tugas kuliah datang bersamaan dengan deadline proker. Hati seolah digoda untuk memilih, mau dunia atau akhirat dulu? Jika niatan dari awal hanyalah untuk mengharap ridho manusia, bukan tidak mungkin amanah ini akan berjalan menjadi begitu berat dan rintangan akan terasa berlipat.

Kita. Bukan tentang seorang yang maju sendirian. Tapi kita adalah orang biasa yang maju bersamaan. Kalau dipikir, salah satu penguat langkah adalah ukhuwah. Kan banyak yang bilang jika ukhuwah itu kekentalannya melebihi hubungan darah. Itu enaknya kalau masuk ke lembaga yang bernapaskan Islam. Ukhuwah jalan, tapi tetap tahu batasan. Bisa ngumpul tanpa harus ngomongin aib orang lain. Kalau lagi geje, nglirik orang disebelah buka mushaf, tanpa sadar kebaikan akan menular karena yang lain juga ikutan buka Al-Qur’annya. Romantis nggak perlu kata cinta, kan?[]

Oleh : Vemi Asa Hardini

(Koordinator Akhwat Dept. Syiar Media Bidang Kominfo)

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration