label-tulisan

Dalam setiap kebangkitan, pemuda merupakan rahasia kekuatannya.

Kata orang, bahagia itu sederhana. Sesederhana perjuangan mengarungi lautan bersama para pelaut-pelaut terbaik yang gagah berani. Setiap detik pelayaran yang berharga, ketika berhadapan dengan badai dan gelombang, ketika menghadapi pekat dan dinginnya malam. Tidak semua mengenakkan memang, tapi ini adalah pilihan. Dan kami sadar bahwa dari sini kami belajar dan berkembang. Sehingga ketidaknyamanan itu sirna seketika. Dan bahagia membuncah ketika bersama-sama kami menyambut matahari pagi setelah semua peristiwa.

Dan sampailah pada waktunya untuk bercerita, mencari definisi dan memahami arti sebuah kata yang bisa menggemparkan dunia. Pemuda.

“Sesungguhnya, sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, semakin bersemangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya. Sepertinya keempat rukun ini, yakni iman, ikhlas, semangat,dan amal merupakan karakter yang melekat pada diri pemuda, karena sesungguhnya dasar keimanan itu adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah hati yang bertaqwa, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora, dan dasar amal adalah kemauan yang kuat. Itu semua tidak terdapat kecuali pada diri para pemuda. Oleh karena itu, sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan,pemuda merupakan rahasia kekuatannya. Dalam setiap fikrah, pemuda adalah pengibar panji-panjinya.” (Hasan Al Banna)

Berada di sebuah episode pemuda adalah satu kesempatan untuk mengembangkan potensi. Untuk melejitkan prestasi. Untuk memaksimalkan konstribusi. Agar masa yang berharga tidak gugur sia-sia dan berserak bak sampah dalam hamparan sejarah. Agar nama yang melekat tidak sekadar kata yang menempel pada seonggok daging. Tapi nama yang bisa mengambil peran dalam sebuah pementasan akbar membangun peradaban Islam. Menjayakannya kembali dan menempatkannya sebagai soko guru peradaban manusia. Memang pada akhirnya kita tidak butuh stampel pahlawan di dalam nama kita, tetapi seorang pemuda yang mampu mengambil peran ini layak untuk disebut sebagai pahlawan.

“Seseorang tidak menjadi pahlawan karena ia melakukan pekerjaan-pekerjaan kepahlawanan sepanjang hidupnya. Kepahlawanan seseorang biasanya mempunyai momentumnya. Ada potongan waktu tertentu dalam hidup seseorang di mana anasir kepahlawanan menyatu padu. Saat itulah ia tersejarahkan. Para pahlawan mukmin sejati tidak pernah mempersoalkan secara berlebihan masalah peluang sejarah. Para pahlawan mukmin sejati bukanlah pemimpi di siang bolong, atau orang-orang yang berdoa dalam kekosongan dan ketidakberdayaan. Mereka mempunyai mimpi besar tetapi pikiran mereka tercurahkan sepenuhnya pada kerja.” (Anis Matta)

Ketika kita menengok ke belakang, melihat kembali episode kejayaan Islam yang tersejarahkan, maka kita akan menyaksikan bahwa momentum bersejarah itu berasal dari perjuangan para pemudanya. Pemuda adalah nafas pergerakan. Adalah energi perubahan. Adalah tulang punggung peradaban. Begitulah seharusnya, peran yang diambil oleh seorang pemuda. Tidak akan pernah hilang bagaimana kesantunan dan keuletan Mus’ab sebagai duta pertama umat Islam. Bagaimana ketangguhan dan keberanian Muhammad Al-Fatih bersama para pasukan terbaiknya dalam mendobrak benteng tertangguh di masa imperium Romawi, Konstantinopel. Cukuplah dua ini sebagai bukti.

Bangun dan sadarlah bahwa sejarah gemilang itu sudah berlalu. Bukan saatnya lagi bagi seorang pemuda untuk terjebak dalam nostalgia penuh euforia. Sekarang waktunya mengumpulkan seluruh inspirasi untuk memompa energi berkontribusi. Karena menjadi pemain dalam panggung peradaban adalah pilihan. Seluruh pemuda terbaik negeri ini harus sadar bahwa negara dan agama adalah seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Menjayakan Islam berarti menjayakan Indonesia. Karena kita adalah muslim yang lahir di Indonesia, bukan seorang Indonesia yang terlahir Muslim.

Maka saatnya untuk menyadari bahwa kita adalah satu-satunya pewaris tahta Indonesia yang sah. Bangsa ini sudah terlalu lama tidur dalam keterpurukan. Sekaranglah saatnya bagi putra-putri terbaik Indonesia untuk tampil ke depan. Mengambil peran untuk membangun kejayaan. Mengantarkan Indonesia bukan hanya untuk menyelesaikan konflik dalam negerinya, tapi bagaimana menjadikannya sebagai salah satu penyokong utama peradaban dunia.

Jangan hanya bisa mengeluh tanpa pernah berusaha, lalu menyerah pada akhirnya. Tataplah ke depan menembus batas dan katakan pada jiwa yang mungkin sedang tertidur,“Kita tidak akan pernah menjadi pelaut yang handal dan tangguh jika belum mampu melewati gelombang dan badai.”

Ingatlah bahwa kita adalah seorang muslim yang lahir di Indonesia. Dan negeri tercinta ini sedang menunggu putra-putri terbaiknya. Salam untuk semesta. Semoga rahmat Allah selalu menyertai kita.[]

“Jika menghadapi masalah-masalah besar, maka yang kupanggil pertama kali adalah para pemuda” –Umar bin Khaththab

Ditulis oleh :
Hanafi Ridwan Dwiatmojo
Ketua Umum JN UKMI UNS 2014

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration