label-tulisan

“Jadi, apa kalian tetap ingin menjadi dokter?”
“Ada yang ingin mundur?” Tanya salah seorang dokter di tengah-tengah jam kuliah saat itu. Tidak seindah yang dibayangkan memang, menjadi dokter bukan suatu hal yang mudah. Selain membutuhkan biaya yang cukup merogoh kocek, waktu yang harus ditempuh pun cukup panjang. Belum selesai pikiranku tentang hal itu, dokter di hadapanku kembali melanjutkan kisah perjalanan hidupnya untuk menjadi seorang dokter. Ah, sepertinya beliau benar-benar ingin menguji kesungguhan dan ketulusan niat kami untuk menjadi dokter. Mendengar kisah sang dokter membuatku terharu dan bersyukur bisa memiliki kesempatan menjadi bagian dari mereka, ya calon teman sejawat.

Dokter, sebuah profesi yang identik dengan jas putih. Sebuah profesi yang identik dengan kata mahal dan lama. Sudah menjadi rahasia umum memang, tak perlu kutuliskan secara rinci rahasia tersebut karena aku yakin kalian sudah banyak membaca tulisan-tulisan serupa baik di media masa ataupun media sosial. Banyak orang berpikir bahwa saat seseorang menjadi dokter, kehidupan nya akan terjamin. Penghasilan yang banyak, rumah yang megah, bahkan mobil mewah. Tak heran , memang hal-hal yang berbau kenyamanan lah yang sering terpikir di otak manusia.

Baiklah, akan aku ceritakan sedikit bagaimana kehidupan seorang dokter yang aku dapat langsung dari praktisinya. Saat kau memutuskan menjadi seorang dokter, kau harus siap untuk bangun lebih pagi dan tidur lebih malam untuk menolong pasien yang membutuhkan pertolonganmu. Bahkan kau harus siap terjaga dari tidur malammu jika ada tetangga yang mengetuk pintu rumah mu hanya sekedar meminta obat untuk anaknya yang sakit panas. Saat kau memutuskan menjadi seorang dokter, kau harus siap membagi waktumu dengan keluarga untuk pasienmu. Saat kau memutuskan menjadi seorang dokter, kau harus siap siaga dalam kondisi apapun, bahkan kau harus merelakan makan malam mu yang baru saja kau makan sesuap karena ada panggilan darurat yang memaksamu untuk segera beranjak. Padahal tak sedikitpun kau menyentuh nasi dari pagi hari karena harus mengoperasi seorang pasien di pagi buta. Saat kau memutuskan menjadi seorang dokter, kau harus siap dengan segala risiko yang akan menimpa dirimu. Tak sedikit para dokter yang tertular penyakit dari pasiennya hingga akhirnya sang dokter harus mengakhiri hidup lebih dulu dari pasien yang ia tolong.

Mengerikan. Memang, tapi itulah risiko seorang dokter. Saat kau berhadapan langsung dengan seorang pasien yang menderita penyakit menular, kau harus dengan ramah dan santun melayaninya, tak boleh kau bersikap membedakan dengan pasien lainnya, tak boleh juga sedikitpun kau menyinggung perasaan pasien yang ada di hadapanmu itu. Meskipun secara nurani kau khawatir akan tertular penyakit dari pasien yang ada di hadapanmu. Tapi sekali lagi itu adalah sebuah risiko, risiko yang harus siap kau terima sewaktu-waktu jika kau memutuskan untuk menjadi seorang dokter.

“Luar biasa sekali pengorbananmu, Dok”, batinku pada seseorang berjas putih yang ada di hadapanku saat itu. Dengan usiamu yang lanjut, kau masih menyempatkan diri datang ke rumah sakit hanya sekedar menengok pasien mu. Bahkan masih sempat kau datang ke kelas ini untuk berbagi kisah dengan kami. Ironis. Ketika akhirnya aku harus tahu bagaimana perjuangan dan pengorbananmu sebagai seorang dokter, aku pun harus tau kalau ada banyak orang diluar sana yang membencimu. Ya, mereka membencimu dengan berbagai macam alasan. Mereka bilang kau sengaja memberi resep obat dengan harga yang mahal untuk menggantikan biaya kuliahmu yang juga mahal sewaktu itu. Mereka bilang kau sok sibuk karna hanya bisa memeriksa mereka barang 10-15 menit.
Ah, begitu sok tahu nya mereka. Bahkan sudah syukur ketika kau bisa menyentuh nasi barang sekali dalam sehari. Mereka bilang kau tak becus ketika resep obat yang kau beri tak mampu menyembuhkan penyakit yang mereka derita. Tak segan pula mereka melaporkanmu ke polisi dengan tuduhan malpraktik tanpa ada klarifikasi sedikitpun. Mereka hanya tahu kau telah melakukan sebuah kesalahan yang dianggap sangat merugikan mereka. Biarlah, biarlah mereka dengan segala pikiran buruk tentang dirimu. Tapi yakinlah bahwa Allah lebih tahu isi hatimu dan ketulusan yang kau lakukan selama ini. Dan semoga kelak suatu saat nanti kami bisa segera membersamaimu mengabdi untuk agama, bangsa dan negara (Maulida Narulita- Staf Bidang DPP JN UKMI 2014)

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration