label-radio

Suatu hari Andika pergi memancing bersama ayahnya. Ayah Andika adalah seorang direktur dari perusahaan keluarga yang dikelola bersama-sama. Sembari menikmati perjalanan menuju danau, Andika memperhatikan sekitarnya. Ada penjual alat-alat pancing, ada yang menjual cacing, dan ada penjual makanan dan minuman selayaknya tempat melepas penat.

Saat tiba di dekat penjual es, Andika melihat ada seorang anak kecil yang usianya sekitar lima tahun sedang menunggu es putar dari si penjual. Harga es putar di daerah itu Rp 800,-, sementara uang si anak tadi adalah selembar seribuan. Setelah menerima es putar dan uang kembalian dari si penjual, si anak beranjak pergi. Ada yang Andika perhatikan dari anak itu. Tak lama setelah anak itu pergi, sang ayah mendekat menghampiri si penjual es.

“Ayah mau beli es juga?”

“Tidak,” jawab ayahnya singkat.

Dengan penasaran, Andika ikuti langkah ayahnya. Sekitar tiga meter di depan si penjual es, ayah Andika tiba-tiba berjongkok. Selang beberapa detik, ayahnya kembali berdiri dan melanjutkan langkah menuju danau.

“Apa yang ayah tadi lakukan?”

Ayahnya tidak menjawab pertanyaan Andika, melainkan hanya melingkarkan jari telunjuk dan ibu jarinya pada sebuah koin dua ratusan. Andika mengernyitkan dahi.

“Menurut Andika, apakah uang sejumlah satu juta akan tetap berjumlah satu juta jika masih kurang Rp 200,-?” Andika menggeleng menjawab pertanyaan sang ayah.

“Tapi ayah, bukankah kita punya lebih banyak uang? Kenapa ayah malah memungut uang dua ratusan itu?”

“Kita memang memiliki lebih banyak uang, bahkan ketika ayah tidak bekerja selama setahun pun. Akan tetapi, orang yang meremehkan uang recehan ini tidak lebih pantas untuk menerima uang yang jumlahnya lebih besar. Sama seperti uang yang tidak akan pernah berjumlah satu juta jika uangnya kurang dua ratus rupiah saja.”

“Sama halnya dengan orang yang meremehkan hal-hal kecil ia tidak akan pantas menerima hal-hal yang lebih besar. Jadi bertanggungjawablah pada hal-hal kecil, percayalah tanggung jawab yang lebih besar pun akan lebih mudah dilakukan.”

Dari cerita di atas, sering kali dalam kehidupan kita sehari-hari kita meremehkan banyak hal-hal kecil. Kita abaikan senyum pada saudara kita, padahal Rasulullah sendiri mengatakan bahwa tidak bermuka masam kepada saudara kita adalah ibadah.

Jangan pernah kamu meremehkan kebaikan, meski dengan menyambut saudaramu dengan wajah berseri.” (HR Muslim).

Sama halnya dengan amanah. Memang hakikat waktu jika apa yang kita kerjakan jauh lebih banyak dari waktu yang tersedia. Seberapa sering kita melupakan amanah-amanah kecil untuk mengerjakan hal yang lebih besar?

Begitu pula dengan dosa. Betapa sering kita melakukan dosa-dosa kecil dan kita malah meremehkannya dan tidak menganggapnya berbahaya. Padahal segala hal besar sesungguhnya adalah akumulasi dari hal-hal kecil.

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration