IMG_5729

Surakarta- Himpunan Mahasiswa Muslim (Hummus) 2010 Fakultas Pertanian (FP) UNS bersama Muallaf Center Indonesia (MCI) mengadakan acara Tabligh Akbar (TA ) dengan tema “Kami Bangga Menjadi Muslim” (12/10). Acara yang diadakan di Masjid Nurul Huda Islamic Center UNS ini dihadiri oleh 3 pembicara, yaitu Ustadz Syarif Ja’far Baraja selaku Pembina MCI, dan dua orang muallaf yang juga pegiat MCI, yaitu Steven Indra Wibowo dan dr. Sunny Wadhwa asal India.

Acara yang dihadiri oleh ratusan mahasiswa dan masyarakat umum tersebut dimulai sejak pukul 08.00 WIB. Steven Indra Wibowo, pendiri MCI mengawali materi mengenai kisah perjalanan hidupnya menjadi mualllaf dari Katolik menjadi Muslim. dr. Sunny Wadhwa menjadi pembicara kedua yang menceritakan pengalaman hidupnya menjadi muallaf dari penganut hindu menjadi penganut Islam.

“Kenalkanlah islam dengan cara kelembutan kepada non muslim. Jangan dengan cara yang kasar, memaksa, bahkan menghina. Sungguh, jika kita sampaikan dengan cara kelembutan serta logis, maka perlahan non muslim atau ateis akan paham dengan agama islam, dan bertekad untuk masuk islam.” Ungkap Steven

“Salah satu alasan kenapa kita harus bangga menjadi seorang muslim adalah adanya peraturan atau adab yang diatur dalam hukum islam. Contohnya, dalam hal poligami. Di agama-agama lain, beristri dalam jumlah lebih dari satu menjadi masalah yang sulit terselesaikan karena tidak ada aturan yang mengatur hal tersebut. Dan hanya di Islam lah poligami diatur, bahwa seorang muslim boleh memiliki maksimal 4 istri, dengan catatan bisa bersikap adil. ” lanjutnya.

Acara semakin hidup dengan materi yang disampaikan oleh dr.Sunny yang menceritakan pengalaman hidupnya bersama dengan keluarga yang beragama hindu. Kemudian mendapatkan hidayah dari seorang teman kuliahnya untuk masuk islam. Analogi yang kuat dalam benaknya membuat hatinya terbuka untuk menerima hidayah dari Allah swt.

“Dulu saya sangat benci sekali dengan orang muslim. Sejarah yang saya ketahui, dulu di India, orang islam dan orang hindu tidak ada toleransi diantara kami. Orang islam sering menertawakan dewa yang saya puja, Krisna. Saya pun tumbuh menjadi oranng hindu yang sangat membenci orang islam. Sayangnya, setelah saya pindah dari New Delhi ke Kasmir untuk kuliah di fakultas kedokteran di salah satu universitas di sana,saya hidup bersama orang-orang yang notabene beragam islam. 70% orang islam. Saya tidak ingin hidup di sana, namun mau tidak mau saya harus kuliah di tempat itu.” dr.Sunny bercerita.

“Alhamdulillah wallaahu akbar, Allah memberikan seorang teman yang sangat baik kepada saya. Dia seorang muslim. lama-kelamaan bergaul dengannya, berbagi ilmu dan pengalaman, serta saling meminjam buku, juga buku tentang islam, saya mulai mengenal islam dan akhirnya saya bertekad untuk masuk islam.” Lanjutnya.

Pembicara ketiga, Ustadz Syarif Ja’far Baraja memberikan wejangan selama 30 menit mengenai hidayah. Ia mengungkapkan bahwa hidayah adalah pilihan dan harus dicari. Ia mengkaitkan materi hidayah dengan kondisi orang-orang islam pada masa kini.

Pukul 11.00 WIB, sesi penyampaian materi dari ketiga pembicara telah selesai, dan berpindah pada sesi tanya jawab.  Beberapa peserta aktif bertanya, sehingga acara semakin hidup. Tepat pukul 11.30 WIB, acara yang didukung oleh FUSI FP dan Perintis 2011 itu berakhir dengan khidmat. []

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration