label-rmdhn

Enggak, Dek. Dulu Mbak di SMA Katolik.”

Di sebuah ma’had di Pulau Jawa, yang kata orang adalah salah satu tempat efektif untuk belajar Qur’an, Allah mempertemukan saya dengan “orang-orang ajaib”. Ya, ajaib! Ada yang menghafalkan Qur’annya super cepat, ada yang seolah dia tak punya rasa lelah berjam-jam me-muroja’ah hafalannya, ada yang sholat wajibnya super lama ditambah sunnah yang tak pernah ia tinggalkan. Cara mereka berinteraksi dengan Al-Qur’an sungguh berbeda-beda.

Sampai akhirnya saya berkenalan dengan seorang akhwat. Kebetulan kamar kami bersebelahan. Sejak awal bertemu kami merasa memiliki banyak kesamaan sifat, kesukaan, visi misi, bahkan cara berpikir kami pun banyak yang sama. Kira-kira pada hari ke-3 ramadhan, kami muroja’ah bersama. Saya tidak tahu pastinya dia sudah hafal berapa juz, tapi yang jelas sudah lebih dari 15 juz. Padahal dia kuliah juga. Latar belakangnya pasti anak pondok, pikir saya.

“Mbak, dulu di pondok tahfizh mana?”tanyaku.
“Dulu di SMA biasa, Dek…,”jawabnya.
“Ah, masa? SMA Islam?”
Enggak, Dek. Dulu Mbak di SMA Katolik.”
“Iih…. Ngarang ah.”
“Ana mu’alaf, Dek.”

Seketika itu saya membisu. Speechless. Terpana. Bengong. Subhaanallaah…. Akhirnya saya pun diam mendengarkan ceritanya.

Dia lahir dari bapaknya yang beragama Islam dengan ibu beragama Katolik, serta keluarga besar pendeta dan biarawati. Saat muroja’ah bersama, suara saya sudah habis duluan. Dia tahan mengaji berjam-jam dengan nada tinggi yang stabil. Maklumlah dulunya dia penyanyi gereja. Tahsinnya? Dia adalah guru tahsin! Siapa sangka? Padahal saat SMA dia adalah ketua kerohanian Katolik di sekolahnya. Allaah…, Maha besar Engkau. Semangatnya untuk Qur’an sungguh luar biasa.

Sebelum masuk Islam, dia paling benci mendengar adzan dan suara takbir Idulfitri karena posisi speaker masjid berada tepat menghadap kamarnya. “Dulu nggak bisa tidur, Dek, pas malam Idulfitri. Panas dengar speaker masjid. Awalnya ibu yang masuk Islam dulu. Walaupun orang tua mengupayakan apapun agar saya masuk Islam,  saya tetap tidak mau. Singkat cerita akhirnya di umur yang hampir menginjak usia 20 tahun, saya masuk Islam.”

“Waktu itu sekeluarga nangis bareng, Dek. Akhirnya sekeluarga muslim semua. Dan alhamdulillaah, Dek, hari ini tepat tiga tahun saya masuk Islam,”katanya padaku.

Allah memberi petunjuk kepada siapapun yang Ia kehendaki.

Waktu semakin cepat berlalu. Pada Ramadhan ke-14, saat saya keluar ma’had untuk pergi ke ATM, saya bertemu dengan seorang laki-laki berusia sekitar 45 tahun. Saya kaget ketika beliau tiba-tiba berbicara pada saya tentang semua masalahnya. Masalah rumah tangga. Istrinya Gila. Dari nada bicaranya sepertinya laki-laki itu sedang kalut.

Lalu, berganti topik. Laki-laki itu bercerita tentang Tuhannya. Saya bingung, siapa saya? Kenapa beliau cerita masalah keluarganya ke saya? Jangan-jangan orang ini cuma modus dan mau menghipnotis saya? Saya kan habis ambil uang. Prasangka itu tanpa permisi melintas ke otak. Laki-laki itu terus berbicara. Saya mulai tidak fokus. Saya pengin lari, tapi…. Sampai akhirnya prasangka itu berhenti saat laki-laki itu bilang,“Mbak, kalau ndak keberatan, tolong pertemukan saya dengan ustadz. Saya mau masuk Islam.” Rasanya saya ingin mengutuk diri saya karena telah berprasangka buruk pada laki-laki itu.

Saat itu juga saya antar beliau ke ma’had untuk bertemu dengan ustadz. Saya menunggu di ruangan yang lain bersama ustadzah dan dua orang teman. Dan betapa bahagianya ketika akhirnya bapak itu masuk Islam sore harinya. Doa saya semoga istiqomah, Pak. Terkadang suatu masalah hanya dipandang buruknya saja, padahal lantaran masalah keluarga bapak tadi, Allah menunjuki hidayah padanya. Allahu akbar…!

‘alaa kulli haal, alhamdulillaah banyak hikmah atas kejadian-kejadian yang Allah perlihatkan pada saya di bulan Ramadhan ini. Pelajaran? Ya, setidaknya saya pantas merasa malu. Semisal hafalan di bawah hafalan akhwat mu’alaf di atas, sementara saya sudah belajar Qur’an sejak kecil. Sudah menjadi Muslim sejak lahir. Namun ia yang baru berislam tiga tahun, sudah hafal 15 juz, menjadi guru tahsin, bahkan sholat malam dan rawatib tak pernah ditinggalkan. Setidaknya saya juga merasa malu pada bapak-bapak tadi, hatinya dimudahkan dalam menerima kebenaran. Ia bersegera menuju (ampunan) Allah. Tanpa pikir panjang, tanpa membantah. Jiwanya lebih taat pada syariat dibandingkan hawa nafsunya.

Ya Allah, karuniakanlah pada kami hati yang mudah menerima kebenaran, jiwa yang bersegera dalam menuju ampunan-Mu, dan keteguhan di atas agama Islam, serta jadikanlah kami kelak berada di surga bersama orang-orang yang shalih. Aamiin.

oleh:
Laily Praptiningtyas
(Mahasiswi Biologi FMIPA UNS 2012)

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration