label-rmdhn

“Sebab aku sendiri yakin bahwa aku tak akan kehilangan mereka.”

 

Allah telah menunjukkan kebesarannya ketika hidayah itu diturunkan kepada seseorang yang telah dikehendaki-Nya, maka tak ada satu orang pun yang mampu menghalanginya.”

Kutipan cantik yang kucomot dari salah satu status Facebook mbakku. Aku hanya ingin berbagi tentang hal indah yang telah kualami di bulan Ramadahn kemarin. Aku tak akan berbicara banyak tentang hidayah, sekadar ingin berbagi sebuah cerita yang kurasa akan ada hubungannya dengan yang dimaksud hidayah tadi.

Menjalani hari-hari di bulan Ramadhan dengan ditemani masalah yang datang tiba-tiba dan bertubi-tubi datang merupakan hal tak mudah untuk kujalani. Kupikir aku akan bisa menjalani hari-hari Ramadhan dengan santai, tenang, dan bahagia. Tapi semua itu hanya sekadar angan ketika datang sebuah masalah disusul dengan masalah lain yang semakin berat. Mulai dari kehilangan barang, orang tua sakit, dan yang terberat adalah aku akan kehilangan semua hal yang kudapatkan di setahun masa kuliahku di sini.

Orang tuaku meminta untuk mencukupkan semester yang belum genap setahun kujalani ini untuk mengambil kuliah di universitas lain dengan alasan yang sama sekali non-sense. Itu membuatku benar-benar tidak habis pikir ketika aku harus kehilangan semua keluargaku di sini. Teman-temanku yang super ceria dan kocak, teman-teman organisasi yang super keren, mbak-mbak kosan, dan semua keluargaku di JN UKMI yang super subhanallah. Hingga aku berpikir seperti berkumpul dengan para calon penghuni surga. Semua ini ibarat mencabut pohon yang setahun ini aku tanam dan kurawat hingga mulai muncul buah yang manis rasanya, lalu memaksaku untuk menanam pohon lagi yang menghasilkan buah pun belum tentu bisa.

Aku sempat bersuudzon kepada Allah dan terus bertanya mengapa memilihku yang hanya anak kemarin sore. Kenapa harus aku? Hingga akhirnya sampai pada titik jenuh di mana semua pikiran tentang kekhawatiranku berkecamuk. Pada suatu saat aku terlihat kuat, lalu beberapa saat kemudian menangis sejadi-jadinya, dan kembali menjadi orang yang sok kuat dan cuek, serta menganggap semua ini akan segera berakhir. Beruntungnya, dibalik semua ini Allah masih mengijinkanku tetap menjalankan ibadah di bulan suci yang penuh rahmat ini.

Dan yang dimaksud balasan yang setimpal, bahkan lebih, yaitu dengan Allah memberiku kesempatan pada malam itu. Malam ke-7 Ramadhan 1435 H di Pantai Sundak Yogyakarta bersama orang-orang hebat nan luar biasa yang sudah sangat kukasihi dan kusayangi. Ternyata Allah memberikan obat penawar dari semua masalah yang menimpaku. Allah menunjukkan keindahan yang tak terkira.

Kesan pertamaku sholat di tempat terbuka dan dihadapkan langsung dengan pesona sang rembulan yang, entah kebetulan atau bagaimana, terlihat begitu besar dan jelas. Diliputi awan tipis yang menambah kesan syahdu, diiringi soundtrack riuh ramai ombak pantai mengalun merdu. Semua keindahan itu membuatku terkesima dan tersentak sadar. Mahabesar Allah!

Semua masalah yang kurasa begitu berat dan cukup merepotkan jwa dan ragaku itu hanyalah secuil kecil jika dibanding dengan masalah yang dihadapi orang lain yang jauh lebih berat. Masalahku tidak akan ada apa-apanya dengan yang menimpa saudaraku di Palestina sana. Bahkan semua ujian itu membuat mereka semakin besar takwanya kepada Allah. Benar-benar merasa seperti orang bodoh dan sia-sia.

Tidak ada gunanya berkeluh kesah. Kubiarkan semua beban yang kuanggap berat tadi berhembus jauh diterpa angin. Tak sedikit pun kini aku khawatir akan kehilangan semua keluargaku di sini. Sebab aku sendiri yakin bahwa aku tak akan kehilangan mereka.

Ketika kita ikhlas, jiwa dan pikiran menjadi lebih tenang. Kejutan Allah pascamasalah itu tidak berhenti sampai di situ. Untuk pertama kalinya aku bisa mengikuti i’tikaf di bulan Ramadhan. Untuk pertama kalinya pula, Ramadhanku bisa melihat senyum dan tawa ceria adek-adek TPA yang tak terkira senangnya. Dan untuk yang pertama kalinya aku merasa sangat bahagia ketika iseng memakai hijab syar’i dan memutuskan untuk terus mengenakannya. Dan ini pertama kalinya dalam 18 tahun sejak aku lahir, di bulan Ramadhan, Allah memberiku kejutan yang sangat indah diantara masalah yang—tadinya— aku kira berat. Positive thinking and be wise!

Seribu masalah sedikit pun tak akan menghentikan kakiku untuk melangkah. Dan Allah tidak akan memberikan cobaan kepada makhluk-Nya kecuali sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Dan ketika masalah datang berpikirlah bahwa itu adalah yang terbaik.

Mungkin kini aku akan mulai menulis mimpiku sendiri tentang sholat di alam bebas lagi. Jika kemarin di tepi pantai, mungkin selanjutnya di puncak gunung, pinggiran air terjun, di tengah hutan, tepi sungai atau di tempat indah lain. Oh iya, jika kini aku tidak bisa berlayar lagi bersama rombongan keluarga besar kapal Funtastic JN UKMI, aku hanya bisa berdoa, semoga aku termasuk orang beruntung akan dikumpulkan kembali bersama mereka ketika kapal mereka telah berlabuh di jannah-Nya. Ramadhan 1435 H ini adalah Ramadhan paling cantik. Dan semoga Allah masih mengijinkanku untuk bertemu Ramadhan di tahun selanjutnya yang jelas pasti lebih cantik dari Ramadhan ini.[]

oleh :
Namaku Nisita Aulia Fatahida
Mahasisa Universitas Dian Nuswantoro Semarang

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration