label-rmdhn

“Hadirkanlah Allah dalam i’tikafmu, bukan keluargamu”

Romantika Ramadhan selalu hadir di antara kita dengan membawa kebahagiaan yang selalu terasa lebih lengkap ketika menjalaninya bersama keluarga tercinta. Namun, tidak semua dari kita yang bisa merasakan bulan Ramadhan bersama orang-orang terkasih dan terdekatnya.

Termasuk seorang kepala keluarga bernama Abdullah. Bertahun-tahun lamanya ia menjalankan puasa Ramadhan bersama istri dan keempat anaknya. Namun, berbeda pada ibadah Ramadhan 1435 Hijriyah ini. Penyakit dalam yang diderita oleh istrinya membuatnya terpaksa ditinggal oleh istri dan anak bungsunya yang berumur 4 tahun pergi ke pulau Jawa. Hari-harinya menjadi sepi. Beruntung ia masih ditemani oleh anak laki-lakinya. Walaupun ditinggalkan oleh istri tercinta dan anak terkasih, Abdullah tetap memanjatkan rasa syukur kepada Allah SWT.. Toh tujuan istrinya ke Pulau Jawa adalah untuk berobat ke sebuah rumah sakit yang menyediakan perawatan medis yang cocok untuk istrinya. Kedua anaknya yang sedang menempuh pendidikan di universitas ternama di Jawa juga bersedia mendampingi istrinya di rumah sakit.

Hari-hari pertama di bulan Ramadhan, semangat Abdullah tak seperti biasa. Ia harus mencuci baju sendiri, memasak sahur dan buka puasa sendiri. Syukurlah masih bisa makan bersama anak laki-lakinya. Ia bekerja lebih keras dari biasanya untuk membiayai segala pengeluaran pengobatan istrinya yang tentu tidaklah murah. Ditambah biaya ketiga anaknya yang saat itu sedang berada di Jawa.

Abdullah tak sanggup membendung air matanya. Ramadhan yang menyakitkan, katanya. Ditinggal istri yang selalu mendampinginya dan anak bungsu yang selalu melahirkan keceriaan setiap pergi dan pulang dari berdagang, serta kedua anaknya yang kelak menjadi sarjana yang selalu ia banggakan.

“Cinta tidak harus selalu bersama,” Abdullah berpuisi di dalam hati. Semangatnya kembali muncul. Dalam kesepiannya yang mendalam, Abdullah terus-menerus meningkatkan ibadahnya, berdoa sepanjang malam dan bekerja sepanjang hari. Walau kadang barang dagangannya tidak laris, ia tetap bersabar.

Sebagai kepala keluarga yang bijaksana, ia bertekad tidak akan lemah dan berputus asa. Cobaan yang menyedihkan hatinya tersebut ia obati dengan melakukan i’tikaf selama sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan di Masjid Baitul Muttaqin di seberang rumahnya. Tak lupa ia mengajak anak laki-lakinya. Hari demi hari dalam proses i’tikafnya, banyak pikiran yang melintas di otaknya, terbayang-bayanglah wajah istri dan anak-anaknya.

Seorang ustadz menasihatinya,“’Semakin kamu mencintai Allah, semakin kamu mencintai keluargamu.’ Jadi hadirkanlah Allah dalam i’tikafmu, bukan keluargamu.” Abdullah diam sejenak. Kemudian menarik nafas panjang dan bertekad untuk bersungguh-sungguh menghadirkan Allah dalam hati dan pikirannya.

Kelapangan dada dan keteguhan hati ayah beranak empat tersebut semakin kuat. Ia menyadari bahwa dengan berpasrah sepenuh hati, Allah SWT. akan menjadi penghibur yang tak ternilai harganya. Ia merasa ada sesuatu yang spesial dalam perjalanan Ramadhannya tahun ini, yaitu bertemu dengan Allah. Yang jelas, ia merasa harus bekerja lebih keras lagi untuk memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya dan selalu berdoa dan menghadirkan Allah dalam setiap gerak langkah hidupnya. “Semua akan berakhir dengan indah,”desisnya.

oleh:
Eva Rianti
(Mahasiswi Pendidikan Ekonomi FKIP UNS )

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration