label-rmdhn

“Bukan membeli baju baru untuk lebaran atau memasak ketupat dan rendang, tapi ramainya rumah oleh pesanan ayam.”

Kata orang hidup itu pilihan. Kalau kita boleh memilih, mungkin kita akan memilih lahir dari keluarga yang utuh, berkecukupan, memiliki pemahaman agama yang baik, atau iming-iming kesenangan dunia lainnya. Tapi Allah selalu punya cara untuk memilihkan kita pada hakikat kesenangan sebenarnya. Lewat guru kehidupan, ruang-ruang belajar, buku, teman, ataupun alam semesta. Allah selalu punya cara agar kita menemukan-Nya, menuju kepada-Nya, dan Ramadhan selalu menjadi kesempatan berharga untuk semakin mencintai-Nya.

Bagiku Ramadhan selalu spesial. Sebuah perlombaan yang tiada merugi. Ada pahala yang melimpah ruah untuk segala aktivitas yang kita lakukan, bahkan tidur pun berpahala. Si kaya puas berderma, kaum dhuafa mendapatkan haknya, para pedagang untung berlipat-lipat. Ah iya, pedagang. Ibuku adalah pedagang ayam keliling. Lima belas tahun berlabel pedagang, tidak turun apalagi naik jabatan. Ada rutinitas menjelang akhir Ramadhan yang selalu rumah kami nantikan. Bukan membeli baju baru untuk lebaran atau memasak ketupat dan rendang, tapi ramainya rumah oleh pesanan ayam.

Masih kuingat saat dulu SD. Ketika teman-temanku sudah sibuk pamer baju barunya, aku harus bangun pagi-pagi sekali untuk membantu ibu membersihkan ayam-ayam pesanan kemudian mengantarkannya. Sering aku kesal sekaligus sedih karena penyambutan lebaran di rumahku berbeda dengan rumah lainnya. Saat malam takbiran, orang-orang ramai membakar petasan atau jalan-jalan keliling kampung, sedangkan kami harus duduk sambil makan semangkuk bakso di ruang keluarga kemudian tidur karena kelelahan. Lucunya, aku pernah marah pada ibu karena kejadian ini selalu berulang di tahun-tahun selanjutnya.

Namun, semua bermasa. Qadarullah.... Aku kuliah di UNS. Solo memahamkan aku banyak hal. Jarak juga membuat aku sadar siapa saja yang hadirnya bermakna bagiku. Pekerjaan ibuku, kondisi rumah, dan semua yang terjadi sebelum aku pindah ke Solo, aku rangkai kepingannya. Ada puluhan hikmah kudapati. Ternyata lewat pendidikan ibu dan bapaklah akhirnya aku menemukan-Nya. Kusadari benar, momen malam takbiran menjadi istimewa bagi pikiranku bermanja dengan Allah untuk terus menghimpun hikmah-Nya yang terserak….

 29 Ramadhan pukul 21.00

Allahu Akbar…. Allahu Akbar…. Allahu Akbar!

Suiiiiing, duar! Dar der dor!

Gema takbir dan bunyi petasan bersahut-sahutan. Aku menatap langit. Perpaduan bintang langit dan kembang api selalu menjadi kombinasi mewah. Aku duduk di balkon belakang rumah, berteman air putih. Menghelas nafas, memutar kenangan. Tak pernah lagi kami merasakan euforia mudik lebaran. Aku membayangkan wajah orang-orang yang aku sayangi. Bapak, ibu, adik dan kakak perempuanku. Wajah kenyang setelah makan mi ayam sekaligus wajah lelah setelah seharian bekerja. Malam penghabisan. Tak terasa air mataku menitik. Ada banyak rasa berkecamuk di dada ini.

Berpisah dengan Ramadhan, kembali ke rumah, dan beristirahat sejenak dari rutinitas menjadi kesempatan mahal bagiku untuk mengingat semua rekam jejak perjalanan. Akankah tahun depan aku bertemu dengan Ramadhan lagi? Masihkah aku merayakannya di kampung ini? Apakah bapak, ibu, kakak, dan adik masih membersamai? Bagaimana dengan bisnis ayam potong keluarga kami? Kuhapus air mata kemudian bangkit dari dudukku. Malam ini malam kemenangan. Berharap Allah menaikkan derajat keluarga kami. Kupejamkan mata, kukatakan dengan suara lirih,”Ya Allah izinkanlah kami suatu hari nanti berkumpul bersama orang-orang bertakwa, menjadi salah satu orang yang Engkau ridhoi sebagai pemenang sejati.”

Sebelum bergabung tidur bersama tubuh-tubuh yang memenangkan hati ini, kunyalakan MP4, kemudian memutar lagu Bryan Adams yang berjudul This is Where I Belong,

and wherever I wonder. The one things I’ve learn. It’s to here I’ll always return. It’s to You, I’ll always return

Malam ini ataupun malam-malam takbiran lainnya, kami memenangkan Ramadhan dengan cara kami. Oh iya! Aku jadi paham, kalau kemenangan Ramadhan bukan hanya sekedar adanya baju baru, ketupat sayur, atau segala apapun yang menjadi khas dalam keluarga lainnya. Ibu, terima kasih.

oleh :
Titis Sekti Wijayanti
(Mahasiswi Psikologi  Fakultas Kedokteran UNS)

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration