label-rmdhn

“Karena TPA diadakan di sore hari, makanan yang biasa di bagi ba’da sholat tarawih ini akhirnya dibagi sore harinya.”

Kawan, teringat aku akan sebuah penjelasan dari salah seorang ulama mengenai makna hamba sejati. Merekalah orang-orang yang menyibukkan penglihatan, pendengaran, dan hatinya untuk ketaatan kepada Allah SWT.. Mungkin itulah yang selama ini menguatkan kita, yang membuat kita bangkit di saat kita hampir terjatuh, bahkan yang membangkitkan kita kembali di saat kita telah tertidur pulas. Semangat yang berasal dari dalam diri untuk  dapat meraih gelar menjadi hamba sejati.

Di bulan Ramadhan ini, perjuangan ini akan kutulis. Ramadhan… dialah bulan penuh makna. Ada rasa manis, juga sedikit asam, bahkan pahit kami rasakan di bulan ini. Kisah ini bermula ketika kami mulai resah dengan kondisi masyarakat sekitar. Para masyarakat yang awam dan minim perhatian mereka terhadap ilmu agama. Padahal di luar sana berbagai macam  musuh Islam siap untuk menghancurkan dien yang suci ini. Ada para misionaris yang siap merusak aqidah umat ini, Syiah yang mengajarkan anak anak kita untuk melaknat para sahabat, para penyembah syaitan yang menamakan dirinya dengan Freemasonry, juga masih banyak lagi musuh Islam yang terus menggerogoti keutuhan umat ini.

TPA…. Itulah yang sedang kami upayakan untuk memperbaiki permasalahan ini. Momen Ramadhan memang tepat mengadakan acara ini. Bulan penuh rahmat, hidayah, dan kasih sayang, serta bulan Al-Qur’an. Lewat TPA ini kami ingin mengajari mereka keindahnan dien ini. Memberikan modal mereka berupa ilmu agama, yang mana inilah sebaik-baik bekal.

Kawan…. Atas izin dan karunia dari Allah acara ini awalnya berjalan dengan mudah. Kami hanya mengumumkan dari orang ke orang untuk mendatangi majelis ilmu ini. Dibantu oleh senior kami yang luar biasa, seorang ibu muda yang rela meluangkan waktunya untuk membagikan ilmunya. Padahal ibu-ibu lain lebih memilih untuk sibuk dengan dunianya masing-masing. Ada yang memasak untuk berbuka, menonton televisi, atau sekedar duduk-duduk di pinggir jalan untuk berbagi gosip yang pastinya tidak muhim.

Namun ternyata tak semudah perjalanan kita di awal, berbagai macam episode-episode merah berada di depan mata kami. Di zaman di mana teknologi canggih tersebar luas di masyarakat kita, semangat untuk belajar mengaji yang dulu pernah membara kini mulai redup. Anak-anak begitu sulit untuk dikondisikan. Mereka masih terlalu sulit untuk mendengarkan penjelasan kami. Setiap saat selalu saja ingin bermain-main. Bahkan adab seorang murid kepada gurunya pun kini tak terdengar lagi. ’Ala kulli hal, kami yakin ini sebuah perjuangan untuk meraih gelar sebagai hamba sejati. Perjuangan di tengah bulan penuh ampunan dari Rabb semesta alam.

Di bulan Ramadhan, seperti biasa masyarakat digilir untuk memberikan makanan kepada anak anak. Karena TPA diadakan di sore hari, makanan yang biasa di bagi ba’da sholat tarawih ini akhirnya dibagi sore harinya. Ternyata hal ini pun cukup menjadi masalah bagi kami. Memang begitu banyak anak yang akhirnya berangkat TPA, tapi masih sulit bagi kami untuk menanamkan kepada mereka bahwa TPA adalah kebutuhan. Bagaimana tidak? Ada beberapa anak yang ternyata berangkat TPA hanya untuk mendapatkan makanan. Penanaman hadits tentang fadhilah mencari ilmu belum terpatri betul di dalam hati mereka. Inilah tugas kami. Sekali lagi kami tegaskan dalam jiwa, inilah tugas kami.

Berbeda paham, itulah yang menjadi pokok permasalahan yang kami hadapi. Sikap fanatisme yang tinggi membuat kami tak begitu disukai oleh takmir masjid. Bahkan ada masa di mana sang takmir mengawasi kami di dalam ketika mengajar TPA. Sontak membuat kami keheranan, ketika sang takmir memberikan sebuah pengumuman di masjid. Katanya kami dilarang untuk mengadakan acara TPA di dalam masjid karena membuat gaduh. Jadi acara TPA harus diadakan di luar masjid.

Apalah kata orang, kami hanya ingin berjuang. Dihujat pun tak apa, bahkan tak ada pembelaan yang terlontar dari mereka. Tapi kami yakin, mereka tetap percaya pada kami untuk mendidik anak-anak mereka.

Mengadakan TPA di serambi masjid, itulah akhir dari permasalahan kami. Meski berat hati, tapi kami yakin inilah perjuangan dan perjuangan ini teramat mendaki. Ya Allah, jadikanlah bulan Ramadhan ini sebagai saksi atas perjuangan kami. Aamiin.

oleh :
Reny Istiqomah
(Ibu Rumah Tangga)

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration