label-rmdhn

“Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan yang saling menguatkan.”

Ramadhan 1435 H ini memang berbeda dengan Ramadhan sebelum-sebelumnya. Karena di Ramadhan kali ini aku menjalankan aktivitas dengan keadaan fisik yang berbeda di tempat yang berbeda pula. Yaitu menjalaninya dengan kondisi tangan kiri yang patah dan sedang magang perkuliahan di Jakarta, tepatnya di perusahaan Aneka Tambang (ANTAM) di Pulogadung, Jakarta.

Masuk hari ke-8 atau 9 Ramadhan, aku mengalami kecelakaan. Awalnya kukira tidak parah, tapi ternyata sampai patah tulang. Hal ini terjadi akibat menghindari seorang akhwat, mungkin karena aku tidak kuat melihat, jadi jatuh deh.

Singkat cerita, akibat kecelakaan itu aku berpikir bahwa Allah masih memberi kesempatan aku untuk berubah menjadi lebih baik. Seperti menjaga kondisi tubuh, menolong orang, untuk sedekah, hati-hati dalam berbuat, dan introspeksi diri dari segala perbuatan.

Di balik itu semua, banyak yang datang ke rumah. Mulai dari guru-guru sewaktu SD dan SMP, bapak-bapak dan ibu-ibu pengajian, teman-teman Fisika dari angkatan 2008 sampai 2013, juga dari SKI FMIPA, Biro AAI, BEM MIPA. Ada juga bapak dan ibu dosen. Tak ketinggalan teman-teman SD hingga SMA dan alumni-alumni.  Pokoknya masih banyak lagi. Hampir lima hari itu Ramadhan di rumahku dipenuhi banyak tamu dan doa-doa yang dilantunkan untukku, baik lewat ucapan, sms, maupun akun media sosial lainnya.

Kemudian aku teringat hadits ini,“Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan yang saling menguatkan sebagiannya kepada sebagian yg lain.” (HR. Bukhori Muslim). Jadi terasa sekali saat itu bahwa ketika yang satu sakit, maka yang lain juga akan merasakan. Tapi ingat, untuk merasakan ukhuwah tidak perlu harus sakit terlebih dulu, apalagi hingga sakit parah. Kalau ingin merasakan ukhuwah, lantunkan doa untuk saudara kita semua. Ingat kata Imam Al-Ghozali bahwa indahnya ukhuwah tidak hanya pada indahnya pertemuan, tetapi jugaa dalam dekapan doa kita untuk mereka.

Di hari ke-14 Ramadhan, aku magang ke Jakarta. Aku berangkat ditemani sahabatku sebab aku belum bisa membawa barang-barangku sendiri. Luar biasa sekali sahabatku itu. Dia mau mengantarkan aku berangkat dari Solo sampai Jakarta. Kami tiba di Jakarta pagi dan malamnya sahabatku langsung balik lagi ke Solo. Demi sahabatnya yang sedang sakit ini, dia rela mengantarkanku sampai beratus-ratus kilometer jauhnya.

Suasana magang di Jakarta berbeda sekali dengan suasana di Solo. Di Jakarta biaya hidupnya mahal, cari makan untuk sahur dan buka puasa agak sulit, terkadang harus naik angkot dulu dan ini berarti harus bayar lagi. Pertama dilihat orang-orangnya beda jauh dengan di Solo. Di sini orangnya pada nggak menyapa. Akan tetapi setelah satu hari di sini, kalau aku menyapa, orang-orangnya mau menyapa juga. Ibaratnya kalau nggak mau njawil duluan, maka ndak dijawil.

Suasana Ramadhannya juga beda, yaitu waktu buka puasanya terasa lebih lama dan di sini kalau tarawih dan witir kebanyakan 23 rakaat. Setelah keliling-keliling kampung, memang kebanyakan tarawihnya seperti itu. Melihat keadaan seperti itu aku dan temanku memutuskan untuk tarawih di kos saja. Tetapi setelah dua hari tarawih di kos, rasanya ada yang aneh, ada perasaan yang mengharuskan sholat di masjid. Esoknya aku mulai tarawih di masjid dan saat itu ada bapak-bapak yang bilang,“Mas, kalau tarawih di sini kalaupun 11 rakaat ndak apa-apa, Mas, kami mempersilakan.” Luar biasa sekali! Setelah itu aku tetapkan untuk selanjutnya tetap sholat di mushola atau masjid. Walaupun berbeda harokah, di sini saling menghargai sekali orang-orangnya.

Di hari ke-26 Ramadhan, aku pergi ke Bandung untuk terlebih dulu mampir ke kos teman dan lanjut mudik ke Solo. Alasan lainnya karena biaya bus di Jakarta mahal dan tiket kereta habis, jadi aku memilih mudik lewat Bandung. Saat di Bandung suasana Ramadhannya juga berbeda. Ketika mengikuti ceramah, aku sering kurang paham  karena bahasa daerahnnya sering nongol. Di malam ke-27, suasanya sejuk hangat dan semoga itu malam lailatul qodar. Selain itu, kondisi di sini ramai, jadi enak kalau nggak tidur bisa buat tadarusan.

Banyak hikmah di bulan Ramadhan ini. Saat kita melakukan perjalanan, maka kita akan menemukan sesuatu pelajaran yang membuat kita lebih berkembang. Walaupun berbeda harakoh, kita tetap bersaudara. Karena kita muslim itu saudara, seperti jargonnya SKI FMIPA UNS. Hehe. Dengan kondisi apapun, selama kita berniat untuk mencari ridho Allah, insya Allah kita akan tersenyum manis dalam berbuat. Cukup sekian ya, semoga bermanfaat. Syukron.

oleh :
Aris Minardi
(Mahasiswa Fisika FMIPA UNS 2011)

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration