label-rmdhn

“Seolah kebahagiaan harus dibalut dengan kemewahan, padahal ia sangatlah sederhana.”

Agak telat sebenarnya saya menulis tulisan ini, apalagi sekarang bulan Syawal sudah lewat. Tidak hanya lewat, sudah ketinggalan jauh. Jadi, spirit Ramadhan saya akan diuji kalau menulis tulisan yang ada kaitannya dengan “semangat Ramadhan”.

Ramadhan sebenarnya rutin datang setiap tahun. Mau siapapun presidennya, mau Amerika menyerang negara manapun, bahkan meluncurkan nuklir guna meruntuhkan dunia, Ramadhan akan tetap datang. Selalu datang hingga hari kiamat memutuskan perputaran waktu. Jadi, bisa dibilang Ramadhan merupakan sebuah event yang akan terus berulang dan kita memiliki peluang untuk kembali. Dalam hal ini adalah mencoba kembali bernegosiasi dengan Allah SWT. untuk memperoleh gelar muttaqqin, manusia bertakwa.

Karena itulah, beberapa orang mulai memikirkan Ramadhan semata-mata sebagai sebuah rutinitas yang bisa diulang lagi tahun depan. Sehingga, jka mengalami kegagalan dalam ibadah Ramadhan, beberapa orang akan berpikir,“Ah, santai saja. Tahun depan Ramadhan nggak akan ke mana-mana, kok.” Dan dampaknya Ramadhan dijalani sebagai formalitas. Asal masuk ke bulan Ramadhan, asal puasa, sudah selesai. Masuk Idulfitri, sedekahnya menurun drastis, dan berbagai macam efek sampingan lainnya.

Itu sekilas contoh pasca-Ramadhan. Efek pra-Ramadhan? Akan lebih hebat lagi permasalahan yang muncul. Menyambut Ramadhan dengan bingung, pusing, atau galau. Boro-boro senang ketemu Ramadhan, memikirkan puasa saja sudah membuat beberapa orang individu nyengir rasa anyir, senyum terpaksa.

Sebuah pengalaman pribadi, dari saya, yang menulis tulisan ini. Selama Ramadhan saya beberapa kali mengisi kultum di masjid sebelah rumah dan beberapa kali melihat realitas tersebut. Bukan hanya di masjid, tapi juga di jalanan, di mal-mal, di area food court, bahkan saya sendiri seringkali membanding-bandingkan diri saya dengan realitas yang muncul. Sebuah observasi singkat yang memunculkan hipotesis, semakin dewasa umur seseorang, semakin perlu dia belajar untuk menyukai Ramadhan.

Ketika saya tengah mengisi di shalat tarawih di masjid, saya melihat bagaimana anak-anak kecil berlarian dengan girangnya. Bisa tidur sedikit lebih lama dari hari biasa karena tarawih. Bisa bertemu dengan teman-teman di malam hari, yang memang jarang dilakukan oleh mereka di hari-hari biasa. Sederhana, sangat sederhana kebahagiaan yang dirasakan anak-anak kecil ketika Ramadhan. Lihat saja bagaimana keceriaan yang memancar di wajah mereka, meskipun ketika sholat tarawih anak-anak lebih memilih berlarian, ketika tadarus lebih memilih tertawa-tawa riang dan tidak menyimak bacaan Qur’an yang dilantunkan, ketika diajak berpuasa mungkin sesekali menegak air mentah untuk kesegaran, dan berbagai macam hal yang biasa kita sebut sebagai sebuah kenakalan.

Lalu, coba bandingkan dengan kita-kita yang telah beranjak dalam tahapan remaja dan dewasa. Kebahagiaan yang natural seperti itu, bukan tidak mungkin tidak kita rasakan lagi seperti saat kita kecil dahulu. Yang dirasakan mungkin seringkali adalah kebahagiaan pragmatis yang merupakan dampak dari keberadaan Ramadhan. Seperti kebahagiaan dapat amplop setelah mengisi sebuah kultum atau kebahagiaan ngabuburit yang terkadang lebih banyak borosnya daripada senangnya. Bisa juga kebahagiaan fiktif dari agenda buka bersama dengan kebahagiaan yang dirasakan oleh anak-anak terkesan dipaksakan melalui makanan dan minuman mahal nan elit tersaji.

Teringat kembali bagaimana saya mengalami Ramadhan saat masih tinggal di pinggiran Kota Semarang ketika kelas 2 SD. Pada waktu itu, zaman masih belum senyaman sekarang. Acara televisi pun saya tidak pernah melihat di zaman itu. Ketika akan mendekati buka puasa, saya dan adik keluar dari rumah dan menuju lapangan untuk melihat atraksi gratisan tiap sore. Iya, atraksi pembakaran alumunium foil dan ban-ban bekas pakai. Diselingi guyonan, sesekali sambil bermain pedang-pedangan dengan pedang kayu. Sesekali menemai tetangga membakar ayam dan ketela untuk berbuka puasa dengan cara menumpuk dengan alang-alang yang dibakar. Atau sesekali main ke masjid, menikmati takjil berupa teh panas dan pisang rebus gratis, dan beragam hal menyenangkan lainnya. Kesenangan sederhana ala anak kecil karena bisa menghabiskan waktu dengan cara yang menyenangkan untuk menunggu waktu berbuka dan Idulfitri.

Bandingkan dengan sekarang. Kebahagiaan seolah harus dibalut dengan beragam kemewahan. Padahal zaman sahabat pun kebahagiaan Ramadhan sangatlah sederhana, yaitu dengan semakin dekatnya diri kepada Allah SWT., hal agung yang mungkin sangat sulit untuk kita rasakan sekarang.

Ramadhan bulan bahagia merupakan hal mutlak yang memang sudah ditakdirkan dan digariskan oleh Allah SWT.. Akan tetapi, kebahagiaan itu, seperti apa bentuk dan rasanya, kembali kepada diri kita sendiri. Mungkin harus kembali kita belajar kepada anak-anak kecil yang merasakan kebahagiaan sederhana hanya karena pertemuannya dengan Ramadhan yang menggembirakan dan akanjauh  lebih indah jika kita mampu merasakan kebahagiaan Ramadhan sebagaimana para sahabat. Kebahagiaan karena mampu mendekatkan diri kepada Allah. Wallahu‘alam. []

oleh :
Abdullah ‘Azzam
(Mahasiswa S1 Manajemen FEB UNS angkatan 2013 )

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration