label-rmdhn

“Memang sudah saya niati untuk ke sini, total 24 jam penerbangan dari sana.”

Jauhnya jarak sekarang tidak menjadi perkara ketika azzam telah ditanam kuat-kuat dalam dada. Ramadhan 1435 H menjadi kesempatan kedua bagi seorang ibu bernama Risa untuk bisa menjalani i’tikaf di negeri asalnya, Indonesia.

“Ya Allah, ridhoi aku untuk bermunajat lagi pada-Mu di sepuluh terakhir Ramadhan seperti tahun ini.”

Masih lekat dalam ingatan Ibu Risa doa yang ia panjat tahun 2009 lalu. Kini berselang lima tahun kemudian, ia duduk di tempat yang sama. I’tikaf spesial dari Norwegia ke Indonesia.

“Ibu, yang kemarin dari Norwegia mana ya? Mangga, supaya hadirin tahu,” pinta sang ustadz di tengah kajian pagi, di hari ke-28 Ramadhan ini.

“Saya, Tadz,” ucap si ibu dari tempat duduknya, dengan mikrofon tergenggam di tangan. Tidak ada pertanda dari suaranya bahwa usianya telah menuju angka enam puluh

“Ibu teh benar dari Norwegia?” tanya sang ustadz kembali.

“Iya, A’….”

“Kok bisa, Bu, jauh-jauh dari sana sampai ke sini? Sudah berapa tahun di sana?”

“Sudah 19 tahun, A’, ikut suami saya.”

“Gimana tuh ceritanya Ibu bisa sampai ke sini?”

“Alhamdulillah, A’, ini sudah kedua kalinya saya i’tikaf di sini. Yang pertama tahun 2009 dulu. Saya asli Indonesia dan pindah karena diajak suami. Alhamdulillah, anak sulung saya juga ikut ke sini, A’, menemani saya. Tinggalnya di Jakarta.” Sang ustadz pun celingukan, meminta anak ibu itu mengacungkan tangannya.

Nggak usah disuruh berdiri atuh, malu euy nanti,” canda sang ustadz diikuti tawa jamaah. Diiyakan sang ibu bahwa anaknya memang pemalu.

“Subhanallah, Ibu. Sudah jauh-jauh dari Norwegia ke sini. Memang sudah diniatkan, Ibu? Berapa jam penerbangan dari sana?”

“Alhamdulillah, A’, kalau di sana saya susah untuk i’tikaf. Nyaman kalau di sini, A’. Memang sudah saya niati untuk ke sini, total 24 jam penerbangan dari sana. Tetapi di pesawat 16 jam. Mohon doanya, A’, suami dan putri saya tahun depan bisa ikut i’tikaf di sini. Biar bisa seneng sekeluarga,” doa sang ibu yang langsung diaminkan sang ustadz dan jamaah kajian pagi itu.

“Allah mendengarkan kita pagi ini, Bu,” balas sang ustadz kemudian.”Eh, tapi Norwegia itu sebenernya sebelah mana ya, Bu?” celetuk sang ustadz.

“Anak Aa’ ada yang tinggal di Jerman, kan? Tiga jam kalau dari sana, A’.”

Masya Allah, laa haulaa wala huwwata illaa billah. Takdir telah mempertemukan kembali Bu Risa dan anak sulungnya dengan sang ustadz dan jamaah lain yang menghabiskan hari-hari terakhir Ramadhan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Azzam yang menghujam kuat itu mampu menihilkan perbedaan benua, perbedaan waktu, dan upaya yang tentu tidak ringan. Sebab masih ada sang suami dan sang putri yang tertinggal di Eropa sana. Ditambah pula dengan usia yang tidak lagi muda, namun semangatnya dalam mengecilkan jarak dengan Rabbnya membuatku tertegun malu. Apa usaha yang telah aku lakukan untuk mempersempit jarakku dengan-Nya?

Betapa Ibu Risa paham bahwa Ramadhan teramat spesial. Hingga ia azzamkan untuk beri’tikaf jauh dari negeri tempatnya tinggal, hingga 24 jam penerbangan jauhnya, melintasi samudera, benua, dan negeri-negeri yang barangkali tidak ia kenal. Betapa terlihat ketulusannya. Sebuah wujud nyata bagi seorang Muslim yang tidak ingin Ramadhannya pergi dengan sia-sia dan tanpa kesan di bulan-bulan berikutnya. Subhanallah, Allahuakbar!

Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah:183)

 

oleh:
Vemi Asa Hardini
(Mahasiswi PWK Fakultas Teknik UNS 2012)

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration