label-rmdhn

Ia menyadari sering menomorduakan kebersamaan dengan ibunya demi urusannya yang lain.”

Hari ini hari ke-27 Ramadhan. Gema ayat Quran dari pengeras suara Masjid Arrohman memantul indah di dinding pegunungan. Senja yang jingga mewarnai langit Desa Sarangan. Tanda waktu berbuka segera datang. Duhai indahnya bulan Ramadhan.

Duduklah Bu Imah, seorang wanita paruh baya, di ruang makan. Kali ini ia harus melewati buka puasa seorang diri, semenjak suaminya meninggal dan anak semata wayangnya merantau ke kota besar untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi.
“Azzam…. Azzam… kapan tho, Le, kamu pulang. Ibu sudah kangen banget. Kamu bilang selalu ada kegiatan kampus inilah, itulah. Kapan tho, Le… punya waktu buat Ibu…,” gerutu Bu Imah sambil memandang foto Azzam. Ia sedih acapkali melewati waktu berbuka dan sahur seorang diri. Serasa tak begitu spesial Ramadhan kali ini.

Keesokan harinya terdengar salam di teras Bu Imah,“Assalamualaikum….”
“Wa’alaikumussalam….” jawab Bu Imah lalu membuka pintu.
“Azzam? Kamu sudah pulang, Le? Ibu kangen banget sama kamu, Le…,” ucap Bu Imah dengan senyum mengembang ketika melihat Azzam datang.

Hari itu Bu Imah tampak sangat bahagia karena kepulangan Azzam. Seusai mengimami sholat Dhuhur bersama ibunya, Azzam tampak sibuk dengan laptop di kamarnya. Ibunya memandangi Azzam, menggelengkan kepala dan menghela nafas. Ia harus mengalah untuk menepis keinginannya mengobrol bersama anaknya itu karena kelihatannya Azzam tengah disibukkan dengan suatu urusan.

Le, nanti mau dimasakkan apa buat buka?” tanya Bu Imah dari balik pintu sambil menengok Azzam. “Oseng kangkung bolehlah, Bu.” Azzam memandang ibunya sambil tersenyum sebentar lalu beralih ke layar laptop lagi. “Baiklah, Le. Nanti Ibu akan masak yang ueenak buat anak ibu sing bagus dewe.”

Azzam kembali sibuk dengan laptopnya sampai ia ketiduran. Pukul empat sore ia dibangunkan oleh ibunya untuk menjalankan sholat Ashar. Setelah sholat, ia sibuk di gudang rumahnya. Ia kumpulkan barang-barangnya yang tak terpakai seperti gitar, sepatu, dan tas. Bu Imah bertanya-tanya dalam hati, mau dipakai untuk apa barang-barang itu.

Adzan Maghrib berkumandang. Azzam menyantap kolak pisang dan oseng kangkung buatan ibunya dengan lahap. Usai sholat maghrib, Azzam pamit pada ibunya untuk keluar sebentar menyelesaikan suatu urusan. Bu Imah mengiyakan saja, walaupun dongkol menumpuk di hatinya. Bagaimana tidak, seharian Bu Imah belum ngobrol dengan anaknya. Ia ingin mendengarkan cerita Azzam tentang bagaimana kehidupan kampusnya. “Ahhh.… Azzam memang selalu sibuk. Kuliah jarang pulang. Pulang-pulang malah makin sibuk di rumah, tak ada waktu buatku,“ gerutu Bu Imah dalam hati.

Pagi-pagi Azzam berkemas hendak pergi ke suatu tempat. Setelah pamit pada ibunya, Azzam berlalu dengan motornya. Bu Imah tampak semakin kesal melihat Azzam tak ada waktu mengobrol dengannya. Apakah Azzam tak merindukan ibunya setelah sekian lama tak berjumpa? Bu Imah penasaran dengan kegiatan Azzam hari ini karena menyita waktu kebersamaannya dengan putra semata wayangnya. Kemudian ia membuntuti Azzam dengan naik ojek di belakang Azzam.

Azzam tampak masuk sebuah pemukiman. Ia berjalan di sebuah gang kecil, sementara Bu Imah terus membuntutinya. Rasa penasaran dan kesal semakin memuncak di hati Bu Imah. Azzam tampak menyerahkan sebuah amplop pada seorang ibu di gang kecil. Hati Bu Imah bertanya-tanya,“Ada urusan apa Azzam dengan si ibu itu?”

Sesampainyas di rumah, saat Azzam tidur siang Bu Imah merapikan lemari Azzam. Ditemukannya selembar foto Azzam bersama anak-anak panti asuhan “Adzkia”. Di balik foto itu tertulis “Jazakallahu khoiron katsiro Mas Azzam J sebagai ucapan terima kasih anak-anak Panti Asuhan Adzkia pada Azzam yang telah memberikan sumbangan kepada mereka. Bu Imah juga menemukan selembar kuitansi pembayaran atas penjualan barang-barang bekas milik Azzam.

Sekarang Bu Imah mengerti. Ketika Azzam sibuk dengan laptopnya ia sedang mengiklankan barang-barang bekas milik mereka di sebuah situs internet. Saat ia pergi seusai sholat Maghrib ia tengah bertemu dengan pembeli barang-barang itu. Dan pagi tadi Azzam bertemu dengan ibu pengasuh panti untuk menyerahkan sumbangan hasil penjualan barang-barang itu pada ibu pengasuh panti. Diusapnya wajah Azzam yang sedang tertidur pulas. Bu Imah merasa sangat terharu oleh sikap Azzam. Lunturlah semua rasa dongkol dan penasaran dalam hatinya. Ia begitu bangga dengan Azzam. Karena ternyata kesibukan Azzam kemarin beralasan kebaikan, di bulan yang penuh berkah ini.

Sore ini adalah sore terakhir Ramadhan. Bu Imah mengundang anak panti asuhan Adzkia untuk berbuka bersama di rumahnya. Bu Imah dan Azzam tampak bahagia bisa berbagi dengan mereka. Mereka merasa penutup Ramadhan kali ini benar-benar terasa spesial. Azzam memandang wajah yang sudah tak berteman ayah ibu di sisi mereka. Hati Azzam pun terketuk, teringat pada Ibunya. Apakah selama ini ia telah berbakti pada ibunya dengan baik? Ia sedih menyadari selama ini ia kurang perhatian pada ibunya, sering menomorduakan kebersamaan dengan ibunya demi urusannya yang lain seperti yang telah Azzam lakukan kemarin. Apalagi kini ayahnya sudah tiada.

Setelah seharian memasakkan menu berbuka untuk anak-anak panti asuhan, Bu Imah tampak kelelahan. Ia tertidur di kamarnya. Azzam memandangi ibunya yang tertidur, ia membenarkan posisi selimut yang membungkus tubuh ibunya. Ia usap wajah ibunya yang keriput dan rambut ibunya yang beruban. “ Maafkan Azzam, Bu. Azzam sering tak memperhatikan ibu dan sibuk dengan urusan Azzam sendiri. Azzam janji akan berbakti lebih baik pada Ibu,” ucap Azzam pelan seraya mengecup kening sang ibu. Diletakkannya sepotong gamis cantik di meja ibunya. Gamis yang baru saja ia beli tadi siang sisa hasil penjualan barang-barang bekas untuk dipakai Bu Imah di hari nan fitri esok. “Gamis cantik untuk Ibu. Semoga Ibu suka,” ucap Azzam dengan mata berkaca-kaca. Sementara di luar sana, takbir terus berkumandang memecah malam, menyambut hari esok yang penuh kemenangan.[]

oleh :
Diki Marlina
Mahasiswa Agribisnis Fakultas Pertanian UNS

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration