label-radio

Pekan kemarin kita sudah membahas tentang dzikir ya. Dzikir yang bisa dilafazkan juga secara lisan. Nah, pada kesempatan hari ini akan kita bahas mengenai lisan, bagaimana cara menjaga lisan, apa saja bahaya lisan, nikmat lisan, hal-hal yang diakibatkan jika kita tidak menjaga lisan.

Lisan sebenarnya hanyalah salah satu dari anggota tubuh. Di pelajaran biologi, sejak SD, kita sudah mengenalnya dengan nama lidah. Uniknya, lisan seolah menjadi cerminan bagian terpenting dari anggota tubuh lain, yakni hati. Jika baik dirinya, baik pula seluruh tubuhnya. Jika buruk dirinya, buruk pulalah tubuhnya. Lisan bisa menyebabkan seseorang dimasukkan ke surga, namun karena lisan pulalah seseorang bisa dilempar ke neraka. Naudzubillahi min dzalik.

Sesungguhnya lisan adalah sebuah nikmat dari Allah bagi manusia. Dengan lisan, seruan untuk beramar ma’ruf nahi munkar bisa diserukan. Kalimat-kalimat nasihat bisa diucapkan. Dengannya pula dzikir dhohir kita bisa dilafalkan. Bayangkan jika tidak ada lisan di dunia ini? Tidak ada adzan yang berkumandang, tidak ada khutbah yang diperdengarkan dalam majelis-majelis ilmu. Tidak ada seruan lantang untuk menegakkan dien-Nya.

Dari lisan pulalah akan tergambar keluhuran budi seseorang, kemuliaan akhlaknya, kecerdasan intelektualnya, serta ketaqwaan dan keshalihannya. Masya Allah.. Nah, jika dikaitkan dengan bahasan dzikir kemarin, seseorang yang senantiasa berdzikir, mengingat Allah, akan sadar bahwa setiap perbuatannya –termasuk perkatannya- akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah. Maka, dengan penuh iman ia akan menjaga lisan dari membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat, menyakiti saudaranya, apalagi sampai berbuat ghibah, dusta, namimah, mencela, dll.

Barangkali saking pentignya lisan dalam dien kita, Rasulullah menjanjikan surga kepada orang yang senantiasa mampu menjaga lisannya. Dalam sabdanya, Rasulullah saw menerangkan,” “Barangsiapa yang memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) kejahatan lisan yang berada di antara dua tulang rahangnya, dan kejahatan kemaluan yang berada di antara kedua kakinya, niscaya aku akan memberikan jaminan surga kepadanya.” (HR. al-Bukhari).

“Apabila anak cucu Adam masuk waktu pagi hari, maka seluruh anggota badan tunduk kepada lisan, seraya berkata, ‘Bertakwalah kepada Allah dalam menjaga hak-hak kami, karena kami mengikutimu, apabila kamu lurus, maka kami pun lurus, dan apabila kamu bengkok, maka kami pun bengkok’.” (HR. at-Tirmidzi dan Ahmad).

Cara Menjaga Lisan dari Hal-hal yang Buruk

  1. Hemat kata-kata. Walaupun secara hukum bersifat mubah dan tidak termasuk ke dalam hal yang dilarang, menjaga lisan dari perkataan yang tidak perlu adalah lebih baik. Bahkan, khalifah Umar pernah berkata,”Orang yang banyak bicara adalah saudara kandung setan.” Astaghfirullah, naudzubillahi min dzalik.
  2. Menjaga lisan dari komentar-komentar yang tidak perlu. Rasulullah saw bersabda,”Diantara tingginya kualitas agama seseorang adalah ketika ia meninggalkan komentar yang tidak dibutuhkan.”
  3. Menghindari kata-kata kotor . tidak ada sesuatu yang paling memberatkan timbangan amal seorang hamba di hari kiamat selain akhlak mulia, dan Allah Subhanahu wa ta’ala sangat membenci perkataan kotor lagi jorok “. ( HR Tirmidzy )
  4. Berkata dengan perkataan yang BENAR. yang pasti kita harus yakin bahwa apa yang kita katakan adalah benar dan tidak mengandung kebohongan. Sekali lagi perlu diingat, bahwa setiap hal akan ditagih pertanggungjawaban di hadapan-Nya kelak!
  5.  Berbicara sesuai dengan tempat dan lawan bicara kita. Tentu saja karena akan berbeda ketika kita berbicara dengan anak kecil, beda lagi ketika bicara dengan orang tua. “Liqulli maqaam maqaal walikulli maqaal maqaam” Artinya, “Tiap perkataan itu ada tempat terbaik dan setiap tempat memiliki perkataan (yang terucap) yang terbaik pula.”

Akan berbeda lagi jika lawan bicara kita sedang dalam keadaan bahagia, dan akan lebih berbeda lagi jika kita harus menjelaskan persoalan agama kepada saudara kita yang masih awam. Membawa dalil mungkin tidak akan mempan. Dari situlah kita dituntut menjaga lisan agar pas maksud yang ingin disampaikan dan tidak menyakiti lawan bicara kita.

  1. Menjaga kehalusan tutur kata. Dalam bukunya, Salim A.Fillah menjelaskan bahwa kerlingan mata yang tajam dan jika itu menimbulkan prasangka maka akan diadili, apalagi perkataan yang kita ucapkan.
  2. Tidak semua hal yang kita dengar bisa kita katakan.

Rasulullah saw bersabda, “Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, ‘Cukuplah kebohongan bagi seseorang jikalau ia menceritakan semua yang ia dengar.’” (HR Muslim [5]).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka katakanlah perkataan yang baik atau jika tidak maka diamlah.”(Muttafaqun ‘alaihi)

  1. Menghindarkan diri dari najwa, ngobrol sendiri dengan yang lain sementara ada satu yang diacuhkan. QS An-Nisa [4]: 114, “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.”

 “Sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan keridhoan Allah, namun dia menganggapnya ringan, karena sebab perkataan tersebut Allah meninggikan derajatnya. Dan sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah, namun dia menganggapnya ringan, dan karena sebab perkataan tersebut dia dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Asy-Syafi’i menjelaskan makna hadits di atas adalah, “Jika engkau hendak berkata maka berfikirlah terlebih dahulu, jika yang nampak adalah kebaikan maka ucapkanlah perkataan tersebut, namun jika yang nampak adalah keburukan atau bahkan engkau ragu-ragu maka tahanlah dirimu (dari mengucapkan perkataan tersebut).” (Asy-Syarhul Kabir ‘alal Arba’in An-Nawawiyyah)

Pastikan gaya bicara kita jangan merendahkan orang lain, karena diri kita ingin dihargai, hal itu justru menunjukkan kerendahan diri kita. Karena mulut itu bagai moncong teko, hanya mengeluarkan isi teko, di dalam kopi keluar kopi, di dalam teh keluar teh, di dalam bening keluar bening. Maka berbahagialah bagi yang ucapannya keluar dari mulutnya bagai untaian kalung mutiara

Sumber :

http://khotbahjumat.com/khutbah-jumat-mensyukuri-nikmat-lisan/

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration