label-tulisan

Lembaga Dakwah Kampus atau yang biasa disebut LDK, adalah salah satu agen dalam upaya melakukan pembinaan serta perubahan bertahap pada lingkungan kampus. Maka tak heran, kerja-kerja mereka adalah kerja-kerja panjang, yang kadang tak terlihat sekejap manis buahnya, tetapi dibutuhkan proses yang panjang dan penantian yang tak sebentar agar buahnya terasa manis dan siap dipetik, yang kadang hanya bisa dirasakan generasi setelahnya. Oleh karena itu, dalam liku aktivitas kesehariannya, dibutuhkan kesabaran tinggi dan keikhlasan tingkat dewa dalam mengemban amanah yang bahkan bumi pun menolaknya. Dibutuhkan jiwa-jiwa yang siap berpeluh keringat bersimbah darah, yang rela terbangun kala lainnya terlelap, yang tahan uji, berlapang dada, dan semangat tinggi. Maka sudah menjadi sunatullah, jika kuantitas tak perlu disinggung jauh-jauh, apalagi diperdebatkan, karena sudah menjadi permakluman umum bahwa mereka yang siap berada di jalan (dakwah) ini jumlahnya jauh lebih sedikit ketimbang yang berada di luar jalan ini.

Dalam keberjalanannya, tentu akan ada banyak kisah cerita yang tertutur menghiasi jalanannya. Suka, duka, tawa, tangis, dan setumpuk emosi lainnya akan senantiasa merangkuli para aktivisnya dalam interaksi mereka. Terkadang menggebu, terkadang mereda dan surut, namun memang inilah kenyataan fluktuasi iman kita yang tengah diuji dalam jama’ah dakwah ini. Lembaran demi lembaran tercatat hingga membuahkan catatan perjalanan kita yang penuh warna ini. Beribu warna, gelap dan terang, hitam dan putih, merah dan biru, kuning dan hijau, atau warna-warna lainnya telah terlukis permanen dalam kanvas kehidupan kita di kampus. Ribuan takbir menggema menyemangati dalam setiap perencanaan program kerja kita. Ribuan janji dan motivasi, telah menggunung menunggu realisasi aksi kita. Namun sadarkah, bahwa terkadang hal itu hanya seperti sebuah bualan saja? Terkadang kita meneriakkan amanah agama ini dengan berapi-api, namun kita lupa bahwa kita sendiri tak menjalankan amanah ini. Contoh mudah saja, masalah ukhuwwah. Terkadang dari luar, kita terlihat hebat dengan dalil-dalil kita, dengan lusinan argumen yang disampaikan tanpa ada jeda dalam satu nafas panjang, namun kita lupa berapa banyak kita tak menjaga ukhuwwah kita sendiri, berapa kali kita berusaha memutus rantai ikatan persahabatan dan persaudaraan muslim kita dengan yang lain. Terkadang kita lebih banyak lupa.

Paradoks. Padahal Dia telah sampaikan dalam salah satu bagiannya di dalam surat cintaNya kepada kita, agar jangan sampai kita mengatakan apa yang tak kita lakukan (Ash Shaff : 3). Jangan sampai Dia murka kepada kita karena laku kita yang tak membuatNya berkenan. Bolehlah kita teriakkan ukhuwwah islamiyyah, tapi sudahkah kita berusaha menjaga ukhuwwah islamiyyah terhadap saudara seiman kita?

Kalian kaim diri kalian sebagai putra putri kandung dakwah. Kalian juluki diri kalian aktivis dakwah. Kalian korbankan waktu, tenaga, harta kalian demi dakwah. Tapi ingatlah, kita tak bisa berjalan sendirian. Kaki kanan akan selalu membutuhkan kaki kiri agar fungsinya optimal dan menjadi serasi. Burung membutuhkan sayap kanan dan kiri agar bisa terbang dan membumbung menantang sang surya. Sama halnya dengan  kita, kita butuh yang lain untuk menyelesaikan kerja-kerja kita. Sikap egois dan arogan takkan bisa dimaklumi untuk bersanding dengan perjuangan melelahkan berbalas surga ini. Hanya yang berhati lapang, berjiwa besar, dan berfikir jauh ke depanlah yang akan senantiasa memberikan karya-karya terbaiknya untuk dakwah ini. Hanya yang ikhlas terluka, yang kuat didera, yang tahan menderita, yang akan mendapatkan kebaikan di balik jeruji besi bernama ujian ini. Jika sikap kekanak-kanakan yang ditonjolkan, maka ia takkan bertahan lama, karena ladang ini hanya untuk yang siap berlelah-lelah tanpa dimanja.

Bulan dan bintang terlihat indah karena mereka tahu kapan dan dimana mereka akan terlihat dan berkelip. Maka kita, seharusnya juga tahu, kapan dan dimana kita akan terlihat dan berkelip. Ketika semua memudar menjadi gelap, bulan dan bintang mulai muncul dan menghiasi langit dunia dengan cahaya meneduhkannya dan kerlap-kerlipnya. Maka begitulah seharusnya kita, mampu menjadi hiasan terindah, bahkan cahaya dalam kegelapan jiwa kawan-kawan lainnya, bukan menjadi bayangan yang semakin menggelapkan suasana. Dalam keberjalanannya, tentu konflik dan perbedaan pendapat tak bisa dielakkan, namun itu bukan berarti tak bisa ditekan sekecil mungkin. Kita lebih sering dan senang jika mengoreksi lawan bicara kita, mengorek kesalahan-kesalahannya tanpa peduli dengan kebenaran-kebenaran dan kebaikannya. Sementara generasi emas Islam telah mencatatkan sejarahnya dalam lembaran emas pula, ketika terjadi perbedaan pendapat, mereka tidak lantas menjadi crash, bahkan saling menghormati setiap pendapat diantara mereka. Pun juga ketika empat lima abad bahkan tiga belas abad kemudian, sikap saling menghormati pendapat ini masih tetap terjaga, hingga terbebasnya Palestina di tangan Shaahuddin al Ayyubi, tertekuknya benteng Konstantinopel ditangan Muhammad al Fatih, atau bahkan terbentuknya Ikhwanul Muslimin yang pada awalnya hanya berupa ceramah-ceramah di warung-warung hik. Semua karena mereka menyingkirkan rasa egois mereka dan memiliki pandangan visioner, jauh ke depan. Jiwa mereka memilih mengedepankan kepentingan ummat daripada sikap egosentris mereka. Seperti inilah seharusnya para aktivis itu bersikap. Mengedepankan kepentingan dakwah diatas kepentingan dirinya. Sehingga perbedaan pendapat takkan meruncing, atau bahkan hingga berujung ‘perang’, karena tujuan mereka lebih besar daripada perbedaan itu, misi mereka jauh lebih penting ketimbang perselisihan itu. Maka di mata mereka perbedaan pendapat hanyalah sebuah warna yang terhiaskan dalam cerita-cerita mereka, laksana sebuah pelangi yang indah terlukis selepas hujan. Hanyalah sebuah hal remeh yang akan segera terselesaikan. Hanyalah setetes tinta hitam di tengah samudra, takkan berarti sama sekali untuk merubah warna samudra menjadi hitam pula.

Aksikan gagasanmu sesuai yang terlisankan mulutmu, karena perbedaan laku dan ucap akan memberi kesan buruk kepada sesiapa yang melihat dan mendengarnya. Tak mengapa jika lakumu terasa berat di awal, karena memang hakikat pembiasaan dalam kebaikan selalu seperti itu. Namun hal itu bukan untuk kemudian diserah begitu saja, akan tetapi ia sebagai batu loncatan untuk dapat melompat lebih tinggi dan lebih jauh. Tak mengapa jika lakumu berat di awal, dengan terus melakukan pembiasaan, kelak seiring waktu ia akan berganti ringan. Maka apa kita tuturkan, hendaknya kita lakukan juga……

Special thanks to Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketum JN UKMI, kabid Bidang Pembinaan, kordep dan korwat Departeman Kaderisasi, dan seluruh sahabat yang selalu berjuang bersama! You’re amazing…!! Suki dayo…!!–

Ditulis oleh :

Mahmud Nur Kholis

Staff Departemen Kaderisasi JN UKMI UNS 2013 

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration