label-tulisan

Oleh : Ghofar Ismoyo Aji ( Kepala Bidang Pembinaan JN UKMI UNS 2013 )

Cobaan hidup itu warna-warni kadang baik, kadang buruk. Tak selamanya yang kita anggap baik itu baik dan tak selamanya yang kita anggap buruk itu buruk. Karena baik dimata kita belum tentu baik dihadapan ALLAH, pun sebaliknya. Karena ALLAH Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman didalam QS. Al Baqarah ayat 216.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyuakai sesuatu padahal ia amat baik bagimu; ALLAH mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”

Jelas sudah bahwa sedikitpun kita jangan pernah menghakimi suatu peristiwa, kejadian ataupun keadaan dengan menurut kita. Yakinlah bahwa ALLAH tidak akan memberikan sesuatu yang buruk pada kita, jangan pernah sok tau akan peristiwa yang menimpa kita.

Kalau diberi kesenangan, kekayaan, kelapangan belum tentu itu nikmat, kalau kita tidak bisa memanfaatkannya dengan baik bisa jadi itu menjadi musibah. Begitupun ketika kita mendapat kesusahan, kesempitan rizki dan lain sebagainya belum tentu itupun buruk untuk kita, boleh jadi itu malah dapat mendekatkan kita kepada ALLAH. Namun memang qodrat manusia seperti itu, mudah tergelincir sewaktu mendapat kesenangan karena dianggapnya sebuah kemuliaan yang dating dari ALLAH, dan ketika mendapat kesusahan maka dianggapnya hinaan untuk dirinya. Sebagaiaman firman ALLAH didalam QS. Al Fajr: 15-16

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia mengatakan: “Tuhanku menghinakanku.”

Maka disinilah yang harus kita ketahui bahwa sesungguhnya bukan masalah materi yang melambangkan kenikmatan/ kemuliaan, bukanlah materi yang menjadi patokan kita merasa dihinakan. Maka di QS. AL Fajr di ayat berikutnya ALLAH menggunakan kata “Kalla” yang berarti sekali-kali tidak. Maka jelas sudah, bahwa materi atau apapun yang itu bersifat keduniaan bukanlah sesuatu yang menjadi dasar untuk kita mengklaim bahwa itu sebagai symbol dari ALLAH untuk memuliakan atau menghinakan seseorang.

Ingatlah pula hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim

Sesungguhnya ALLAH tidak melihat rupa-rupa kalian juga harta benda kalian, melainkan ALLAH melihat hati-hati kalian juga amal perbuatan kalian.” (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 2564)

Maka yang perlu kita lakukan adalah selalu husnudzon kepada ALLAH akan apapun yang menimpa kita. Entah itu baik ataupun buruk. Tugas kita adalah jangan mudah terlena dan terpedanya ketika mendapat kesenangan dunia, karena dunia hanyalah sementara bahkan dunia ini kalau menurut Yahya bin Muadz adalah tempat bersarngnya setan, maka kita tidak boleh mencuri apaun dari sarang setan ini, karena kalau kita mencuri maka otomatis setan akan mencari kita. Oleh sebab itu jangan main-main dengan dunia, ingatlah akhirat. Dikasih sedikit derajat/pangkat dihadapan orang jangan petantang-petenteng lalu berbuat semena-mena, dikasih banyak uang jangan foya-foya, dikasih kelapangan waktu jangan dibuang sia-sia. Kalau kata Abdullah Gymanstiar, “sebodoh-bodoh diantara manusia adalah manusia yang diberi modal dan modalnya dihamburkan sia-sia, sebodoh-bodooh manusia adalah yang diberi nafas dan nafasnya untuk sia-sia, diberi waktu dan waktu terhambur sia-sia.” Maka janganlah menjadi orang yang bodoh dengan menyia-nyiakan kelapangan, kesempatan dan lain sebagainya. Jangan mudah terkecoh, selalu waspada dan bersyukur atas kenikmatan yang diberikan oleh ALLAH subhanahu wa Ta’ala.

Jika kita diberi kesempitan rizki, kesusahan, janganlah mengeluh karena kalau kata Ir. Soekarno “Keluh adalah tanda kelemahan jiwa”, dan tentu husnudzonlah kepada ALLAH jangan menjadikan kesusahan itu sebagai alasan untuk kita berpaling dan menjauh kepada ALLAH, tapi harusalah itu menjadi cambuk untuk kita semakin mendekatkan diri kepada ALLAH. Namun banyak sekali kita melihat diantara sebagian manusia yang ketika mendapatkan suatu cobaan kesusahan ini, mereka berusaha lari dari maslah dengan cara-cara yang tidak dibenarkan. Misalkan bunuh diri, dan parahnya ada yang kemudian banting setir berganti menyembah pohon, menyembah keris, kuburan, menyembah gunung. Yang jelas ini musyrik. Harusnya kita malu, ketika menggadaikan aqidah dengan keduniaan. Iya kalau benar jadi kaya kalau tidak, maka ibarat sudah jatuh tertimpa tangga.

Maka marilah kita tatap masa depan dengan optimis, hadapi ujian dengan senyuman dan selalu mendekatkan diri kepada ALLAH.

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration