Adakalanya terdapat suatu masa dimana sebuah bangsa telah berhasil mencapai kejayaannya, masa kegemilangan dengan rakyatnya yang makmur, perekonomiannya tersirkulasi dengan baik, sosial masyarakatnya hidup tanpa kekhawatiran. Namun, adakalnya terdapat suatu masa dimana sebuah bangsa berada dalam kondisi yang berbalik 180 derajat dari yang demikian. Seolah-olah masa kejayaan itu tidak lagi meninggalkan jejak di bumi yang mereka pijak. Karena memang benar, itulah yang disebut kehidupan. Semua telah dipergilirkan layaknya sebuah roda yang berbutar, adakalany ia berada diatas dan adakalanya ia berada dibawah.

Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)..” (Ali Imran 140)

            Allah Subahanahu Wa Ta’ala telah menyatakan secara jelas dalam ayat tersebut mengenai kejayaan dan keterpurukan yang dipergilirkan. Setiap masa baik itu ketika kejayaan telah digenggam maupun ketika keterpurukan itu terasa menyempitkan dada, merupakan sebuah ujian yang dengannya Allah Subahanahu Wa Ta’ala memerintahkan manusia untuk dapat mengambil pelajaran yang berharga. Belajar untuk menjadi manusia yang bersyukur atas kejayaan yang diraihnya, dan bersabar atas keterpurukan yang menimpanya.

            Ketika mendung keterpurukan itu datang dan telah sekian lama menggelayuti langit sebuah bangsa, maka yakinlah bahwa akan tiba suatu masa dimana kejayaan kembali dipergilirkan oleh Allah Subahanahu Wa Ta’ala. Bukan sebuah hal yang mustahil untuk dapat kita wujudkan, terlebih mayoritas warga negara ini adalah muslim dan para pemudanyapun begitu potensial untuk bersama-sama menyongsong sebuah kejayaan yang dinantikan

            Allah Subahanahu Wa Ta’ala telah memberikan begitu banyak potensi kepada setiap hamba-Nya, potensi yang dapat mereka maksimalkan sehingga akan memberikan banyak kemanfaatan kepada orang lain, potensi yang mereka gunakan untuk mengadakan sebuah perubahan, dari yang buruk kepada yang baik, dari keterpurukan kepada masa kejayaan.

“….Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri….” (Ar Ra’d : 11)

            Tidak akan berubah jika tidak ada langkah untuk memulai sebuah perubahan, karena hasil yang dicapai akan berbanding lurus dengan usaha yang dikerahkan. Sama halnya dengan bangsa ini, Allah  Subahanahu Wa Ta’ala telah mengkaruniakan begitu banyak potensi, baik sumber daya alamnya, sumber daya manusianya, dan ilmu pengetahuan yang dapat dengan mudah untuk diperoleh. Tinggal bagaimana kita sebagai manusia yang tidak hanya berperan sebagai makhluk sosial, namun juga makhluk Allah Subahanahu Wa Ta’ala yang berkewajiban untuk senantiasa beribadah kepadanya mampu memaksimalkan potensi tersebut agar dapat memberi sejuta manfaat ditengah masyarakat.

            Salah satu potensi yang Allah Subahanahu Wa Ta’ala karuniakan kepada manusia adalah akal, sebagai gudangnya ilmu pengetahuan. Allah Subahanahu Wa Ta’ala begitu menghargai orang yang tinggi ilmu pengetahuannya. Oleh karena itu ayat yang pertama kali diturunkan adalah ayat yang memerintahkan manusia untuk membaca. Dalam artian, manusia harus berilmu terlebih dahulu sebelum berbicara maupun bertindak.

            Akal akan berada pada masa keemasannya saat manusia berusia muda. Pemuda-pemuda inilah generasi yang kemudian diharapkan dapat memperbaiki kondisi yang terjadi saat ini. Semangat dan kecerdasan dalam mengambil sebuah peluang, yang menjadikannya berhasil dalam mengadakan sebuah perubahan.

            Untuk mengadakan sebuah perubahan menuju kejayaan yang dinanti, secara bersama-sama kita harus mampu memaksimalkan potensi sekecil apapun yang dimiliki. Mulailah dari hal-hal kecil namun mempunyai pengaruh yang besar. Sebagai sebuah gambaran adalah sosok muda yang memiliki daya intelektual serta semangat berkompetisi yang tinggi. Ya..merekalah yang kemudian disebut dengan mahasiswa. Perannya sebagai pemuda yang berintelektual, sudah barang tentu ia adalah orang yang berilmu. Dengan itu berarti ia telah mengadakan satu langkah pendekatan kepada Allah  Subahanahu Wa Ta’ala.

Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza wajalla, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sodaqoh. Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan orangnya, dalam kedudukan terhormat dan mulia (tinggi). Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan di akhirat. (HR. Ar-Rabii’)

Semua tahu bahwa tidak akan sempurna ilmu yang dimiliki, jika hanya dirinya sendiri yang tahu serta tidak pula  ia amalkan. Oleh karena itu, agar lebih sempurna dirinya harus mengamalkan ilmu tersebut kemudian mengajarkannya kepada orang lain. Selain memberi kebaikan kepada orang lain, dengan mengajarkan ilmu seseorang juga akan menerima pundi-pundi pahala dari orang yang mengamalkan ilmu tersebut.

 Menyadari sebuah kondisi yang tidak hanya membutuhkan sosok yang cerdas secara intelektual, generasi muda harus mulai menyiapkan dirinya sebagai sosok yang cerdas tidak hanya intelektual, namun juga emosional dan yang paling penting adalah cerdas secara spiritual. Kecerdasan emosional dapat dilatih dengan membiasakan berperilaku baik kepada orang lain, baik dalam artian saling menghormati, berbicara dengan kata-kata yang baik, dan nilai-nilai lain yang menjadi norma dilingkungan masyarakat kita.

Sementara itu, kecerdasan spiritual adalah sebuah nilai mahal yang dimiliki oleh manusia. Ia akan tumbuh seiring dengan semakin kuatnya keimanan manusia kepada Rabbnya dan kedekatannya kepada Allah Subahanahu Wa Ta’ala dengan menjalankan perintah-perintah-Nya, serta menjauhi perkara yang telah dilarang-Nya. Yang semuanya itu telah dijelaskan didalam Al Quran maupun As Sunnah.

Manusia yang pandai namun tidak beribadah kepada Allah ta’ala, boleh jadi ia akan membuat kerusakan ditengah masyarakat. Berbeda dengan orang rajin beribadah namun minim ilmu pengetahuan, maka ia akan sulit mengadakan perbaikan dimasyarakat. Maka yang paling tepat adalah, manusia yang berilmu pengetahuan tinggi, berakhlak yang baik, serta rajin beribadah kepada Allah Subahanahu Wa Ta’ala. Agar dirinya mampu memperbaiki sebuah kondisi yang terasa begitu menyesakkan dada, untuk membuat suatu perubahan secara lebih luas menuju kebangkitan yang dinanti untuk kejayaan yang hakiki.

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration