Oleh :  Hanafi Ridwan Dwiatmojo ( Kepala Departemen Kaderisasi JN UKMI UNS 2013 )

Sekarang kita berada di abad XXI. Sebuah imperium besar karya agung latif antar generasi. Peradaban ini penuh dengan warna dan karya umat manusia. Sejarah mencatat bahwa sudah banyak imperium yang mekar dan berguguran di persada ras manusia. Di antara sekian banyak imperium itu, salah satu yang pernah bertahta adalah kekhilafahan Islam yang mampu memayungi 2/3 dunia. Namun kini hanya tertinggal artefak kejayaannya, yang oleh segerombolan anak manusia yang “bermukim” di sebuah Lembaga Dakwah Kampus artefak itu ingin didirikan kembali.

Laju jarum jam berdetak merdu. Melangkah ke depan dalam sebuah kepastian. Selama itu pula LDK ini telah memetamorfosa anak-anak zaman, putra-putri kandung dakwah, calon-calon bunga pengisi taman firdaus. Hasilnya banyak kuncup yang bermekaran indah. Namun tidak sedikit yang sudah layu sebelum berkembang dan akhirnya hilang ditelan zaman. Dalam gemuruh cita-cita besar untuk mendirikan kembali imperium kejayaan Islam di tanah para raja ini, telah lahir manusia-manusia besar dengan karya-karya yang fenomenal dalam sejarah hidupnya. Namun ada juga yang berguguran dan akhirnya berserakan bersama tumpukan sampah. Inilah sebuah keniscayaan dalam gerak mengusung panji dakwah ini. Meneruskan risalah para nabi dan rasul. Membangun kembali peradaban Islam dan menjadikannya sebagai soko guru peradaban alam semesta. Sebuah perjalanan panjang tentang perjuangan. Yang berkutat pada ide, keringat, dan darah.

Kami adalah mahasiswa, adalah da’i, adalah putra-putri kandung dakwah yang berusaha berjuang untuk sebuah perbaikan. Bukan karena kami manusia-manusia terbaik,karena kami memang bukan yang terbaik. Tapi lebih kepada kami yang ingin berproses menjadi lebih baik. Kami ingin menggoreskan tinta emas dalam setiap lembar kehidupan. Tak peduli mereka yang menghujat kami, yang meremehkan, yangtidak perhatian, atau yang tidak peduli sekalipun. Karena bukan pujian atau perhatian yang ingin kami dapatkan. Bukan juga popularitas, jabatan, atau niat busuk yang lain. Kami hanya ingin setiap gerak langkah ini ada kebermanfaatan didalamnya. Sekali lagi bukan untuk dipamerkan. Kalaupun kaki ini harus patah maka biarkan dia patah ketika melaksanakan tugasnya, dan jika pun tubuh ini harus remuk maka biarlah ia remuk saat mengemban amanahnya. Tugas ini memang berat, tapi tak cukup berat untuk memaksa kami untuk berhenti. Tak peduli sebesar apa masalah yang akan menerpa, kami tidak akan mundur walau selangkah. Juga tidak akan terbersit sedikitpun keinginan untuk menyerah. Karena, ketika ada salah satu dari kami yang terjatuh maka akan selalu ada yang membantu untuk berdiri. Di LDK inilah kami menemukan itu semua.

Dari sepotong episode di LDK inilah semua dimulai. Karena leluhur kami merintis dakwah ini dari tempat dimana kami berdiri saat ini, di LDK. Sampai akhirnya kuncup-kuncup dakwah itu bermekaran dengan indah. Harumnya semerbak memenuhi setiap penjuru mata angin. Hingga akhirnya terciptalah oase di tengah membaranya sahara. Oase yang dilahirkan atasnama cinta. Yang dikerjakan dengan dengan hati. Dan diusung dalam sebuah harmoni. Untuk mewujudkan sepenggal firdaus di persada ibu pertiwi. Insyaallah ini adalah waktunya kami untuk bangkit! Menuliskan sejarah gemilang bertintakan emas di dinding peradaban manusia. Mewujudkan Indonesia madani dalam naungan ridho Ilahi.

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration