Oleh : Novitasari Mustaqimatul Haliyah ( Mahasiswi Sastra Indonesia UNS)

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”

Marilah sejenak merenungi ayat demi ayat yang tersaji indah dalam untaian kata surat cinta-Nya, Al-‘Asr.

Ketika kita tidak mampu mengatur waktu dengan baik, maka akan sangat dekat dengan kebinasaan. Waktu ibarat samurai, yang dapat menjadi senjata namun terkadang juga ia bisa melukai diri kita sendiri. Tergantung bagaimana kita menggunakannya.

Manusia telah dikaruniai Allah SWT waktu 24 jam per hari. Akan tetapi betapa sia-sianya ketika waktu itu tidak digunakan untuk hal-hal yang positif. Justru kita terlena ketika memiliki waktu luang, kita seenaknya berleha-leha, berpangku tangan. Waktu luang merupakan sebuah kenikmatan, namun sering dilupakan. Benar yang dikatakan Rasulullah ratusan tahun yang lalu, “Dua macam kenikmatan dari nikmat-nikmat Allah, kebanyakan umat manusia merugi padanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari). Waktu luang harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin, jangan sampai kosong selamanya. Barangsiapa tidak menyibukkan dirinya dalam kebenaran, tentulah ia akan disibukkan dalam kebatilan.

Kata Imam Al-Ghozali’

Yang Singkat Itu “WAKTU”. Yang Menipu Itu “DUNIA”. Yang Dekat Itu “KEMATIAN”. Yang Besar Itu “HAWA NAFSU”. Yang Berat Itu “AMANAH”Yang Sulit Itu “IKHLAS”. Yang Mudah Itu “BERBUAT DOSA”. Yang Susah Itu “SABAR”. Yang Sering Lupa Itu “BERSYUKUR”.Yang Membakar Amal Itu “GHIBAH”. Yang Mendorong Ke Neraka Itu “LIDAH”.  Yang Berharga Itu “IMAN”. Yang Menenteramkan Hati Itu “TEMAN SEJATI”. Yang Ditunggu Allah SWT. Itu “TAUBAT”.

 

Renungan:

Berapa waktu yang kita gunakan untuk mengingat Allah? Semenit, dua menit, sejam dua jam? Atau tidak sama sekali? Atau mengingat Allah hanya ketika ada panggilan untuk sholat? Sedangkan berapa lama waktu untuk mengingat yang lain, berangan-angan yang tidak menentu? Lebih banyakkah? Padahal ketika kita mengingat Allah di waktu luang, maka Allah akan mengingat kita di waktu sempit.

Seberapa banyak intensitas kita dalam membaca atau menghafalkan Al-Qur’an dibanding membuka dan membaca situs jejaring sosial? Seberapa sering kita mengadu pada Allah atas apa yang menimpa diri kita? Lebih suka mencurahkan semuanya pada Allah ataukah curhat di status jejaring sosial? Update status galau, dan menebarkan virus-virus negatif kepada para muslim yang lain. Niatnya berdakwah aktif, namun tak disangka yang tercetus dan tertulis hanyalah status melankolis. Harusnya kita jadi muslim inspiratif yang memanfaatkan waktu dan segala anugerah Allah dengan lebih positif, kreatif dan inovatif, bukan malah menginspirasi dalam hal negatif-provokatif.

Waktu begitu cepat berlalu, berputar bak roda yang melaju kencang, menerjang segala halang-rintang. Waktu adalah anugerah Allah yang Mahakuasa, yang akan sia-sia jika tak dipergunakan dengan hal-hal yang penuh manfaat. Waktu kencang melaju, tak kan pernah kembali ke masa lalu. Waktu melenakan qalbu, mampu membuat semuanya tersipu malu, enggan memutar semua memori kelabu masa dulu. Ia terus melaju, melaju, dan melaju tanpa mau menengok ke belakang dahulu. Jika saatnya ia berada pada garis finis, maka pemiliknya akan merasakan manis atau pahitnya perbuatan dulu ketika waktu masih berada pada peraduannya.

“Ya Allah, jadikanlah akhir umurku sebaik-baik umur, akhir amal perbuatanku sebaik-baik amal dan sebaik-baik hariku hari pertemuanku kepada-Mu.”

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration