Saat dunia berada dalam kegelapan, terjadi aneka penyimpangan sosial serta kedzaliman yang merajalela. Contoh klasiknya adalah mengenai sikap manusia terhadap kaum wanita. Salah satu contoh termahsyur adalah kebiasaan bangsa Arab yang mengubur bayi perempuan hidup-hidup.
Saat itu, sebelum diutusnya Rosulullah, kaum wanita dipandang pembawa sial dan merupakan sebuah aib dalam sebuah keluarga. Sampai akhirnya, kaum lelaki malu dan sangat tidak berkenan jika lahir bayi perempuan di tengah keluarga mereka. Setelah Rosulullah datang dan Islam bersemi di mana-mana, sungguh tradisi jahil tersebut benar-benar musnah.
Apa sebabnya? Itu karena Islam sangat memuliakan kaum wanita. Baik secara tegas dalam Al-Qur’an maupun dari hadits-hadits Rosulullah, sungguh sangat banyak penjelasan mengenai hal itu. Hingga akhirnya, negeri-negeri yang dipimpin oleh pemerintahan Islam menjadi sangat beradab dibandingkan negeri-negeri lainnya yang masih kafir.
Di saat Negeri-negeri kaum Muslim menjaminkan kehidupan dan mulianya status wanita, negeri-negeri lain sungguh masih mengenaskan. Hingga akhirnya lahirlah gerakan-gerakan emansipasi yang menuntut kebebasan dan perubahan sikap lingkungan untuk lebih menghargai wanita.
Pada kesempatan kali ini, kami coba mengulas mengenai Hari Wanita Sedunia yang jatuh 8 Maret. Mengapa harus 8 Maret? Peristiwa apa yang mendasarinya? Bagaimana posisi Islam dalam urusan ini?
Secara singkat, ditetapkannya hari wanita sedunia ini, yang jatuh pada 8 Maret, berawal dari aksi protes yang dilakukan para buruh tekstil wanita di New York pada 8 Maret 1857. Apa yang mereka tuntut ? Mereka mengeluhkan buruknya kondisi lingkungan kerja dan rendahnya gaji mereka. Mereka sampai bersitegang dengan pihak keamanan.
Dari peristiwa ini, dua tahun kemudian terbentuk serikat buruh perempuan di bulan yang sama. Lebih tragisnya, pada tahun 1911, sebanyak 140 buruh perempuan yang bekerja di pabrik triangle Shirtwaist tewas dalam aksi protes yang mereka lakukan.
Pada tahun 1910, kaum Sosialis internasional dari 17 negara mengadakan pertemuan di Copenhagen, Denmark, yang diantara agendanya adalah membahas hak asasi wanita yang sering diabaikan. Pertemuan tersebut akhirnya memutuskan adanya peringatan hari wanita sedunia agar kaum wanita lebih diperhatikan.
Namun semenjak perang dunia 1 dan 2, peringatan ini menjadi hilang, dana khirnya PBB memperingatinya kembali pada tahun 1975.
Dari sejarah singkat tersebut, sebenarnya ada suatu hal yang bisa kita sepakati bersama berdasarkan kronologinya. Jauh sebelum lahirnya hari peringatan wanita sedunia tersebut, Islam dan Ummat Islam telah berlepas dari problematika klasik tersebut, yaitu mengenai hak-hak wanita yang terabaikan. Sementara problem klasik tersebut ternyata masih melanda negeri-negeri sekuler yang memiliki panduan hidup selain Islam.
Nah, setelah tahu sejarah dan fakta yang ada, sebenarnya seberapa perlukah kita sebagai Muslim turut memperingati hari wanita sedunia tersebut? Sungguh kami tidak memberi kesimpulan mengenai terlarangnya berpartisipasi dalam peringatan tersebut.
Jika memang iya, apa alasan terkuat yang anda miliki?ataukah hanya sebatas sebagai aksi solidaritas sebagai warga dunia, sehingga harus turut meramaikan event-event insidental yang ada? Kira-kira, apa efek atau manfaat yang yang didapatkan wanita, khususnya kaum Muslimah atas hari peringatan ini?
Terlepas dari penting tidaknya isu ini dibahas, tulisan ini hanya mengajak kita untuk berpikir lebih kritis.Bahasa mudahnya : “Ya jangan telalu mudah melarang apa-apa, namun juga jangan terlalu memudahkan untuk mengikuti apa-apa yang ada.”Karena Muslim, memiliki syariat, sebagai bukti bahwa kepada Allah kita taat ^^
(TindakIsu JNUKMI)

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration