1. Pelayaran  Bukit

Memang sulit. Betapa sulit menerobos masuk ke benteng pertahanan Digdaya raya, Byzantium (konstantinopel). Hingga hari berhitung mengumpul pekan-pekan. Tapi sudah terlanjur. Sudah terlanjur  tohok tekad membentur dinding jiwa, lagi benih juang sedang tumbuh gelisah sejak riuh semangat melimpah-limpah dalam ruah pidato sang panglima. Muhammad Al Fatih. Jadilah rencana harus terselesaikan, tapi tak boleh gegabah. Ini pertempuran akbar, salah satu saksi peradaban yang akan dimulai sebentar lagi. Yakin sang panglima.

Masalahnya benteng itu terlalu pongah membentang lebarnya lebih dari sepuluh meter. Ditambah pelindungnya mirip strategi perang khandak, parit menganga selebar tujuh meter disisi luar benteng. Sementara disayap barat ada dua lapis benteng yang harus dibobol, itu juga teramat berat. Belum lagi selatannya, disana berjaga pasukan laut Genoa pimpinan Giustiniani. Mengintip sayap timur, selat sempit Golden Horn ternyata sudah dikalungi rantai raksasa, jangankan kapal besar, kapal kecil pun tak mampu melewatinya.

Lekas segala jerih pikir Al Fatih lesatkan. Lama. Lalu,  Ahaa… ketemu !

Tanpa lebih dulu beri kronologi. Satu titah,

“ seberangkan seluruh armada lewat bukit ! kita masuk lewat Teluk Golden Horn”, serunya menggaung.

Kerah ratusan ribu kesatuan artileri itu bergerak sesigap kilat. Cepat tapi rapi. pasti. Lebih dari tujuh puluh kapal akhirnya diseberangkan beralaskan kulit bukit. Berbantukan ratusan kayu log yang dilumuri minyak, hanya semalam seluruh armada pasukan bisa mendarat ke teluk. Girah gema seruan khas pasukan ini memecah hujung malam. Allahu Akbar !!! Allahu Akbar !!!.

Benar saja, selanjutnya tanpa menunggu waktu sang panglima langsung melakukan penyerangan bertubi-tubi ke benteng konstantinopel. Meriam teknologi terbaru yang ia ciptakan dizamannya membawa hasil sempurna. Benteng setebal sepuluh meter itu tumbang juga. Perlawanan pun berlangsung sengit, alot, heboh. Dan bisa ditebak akhirnya, adidaya konstantinopel jatuh kegenggaman kaum muslimin, Turki Ottoman.


Ikhwafillah…

Masih ingat kalimat titah sang sultan ?

“ seberangkan seluruh armada lewat bukit ! kita masuk lewat Teluk Golden Horn”

Ya, apa yang membayang dalam benak ? tentunya Anda berbisik dihati, “ahh, ada-ada saja. Mana mungkin kapal berlayar didarat apalagi bukit yang memiliki ketinggian kontur berbeda? Tak masuk diakal”.

Baiklah, akan kita bahas satu yang menarik ini.

Sang sultan memilih strategi pelayaran bukit bukan asal. Namun hasil dari jerih pikir berhari-hari setelah ternyata empat puluh hari strategi pertama membawa kegagalan. Sebab memang teluk golden horn adalah perbatasan terlemah. Walapun telah berkalung rantai raksasa.

Jikalau Anda mengira itu sebuah strategi yang tak masuk akal, begitu pula sesungguhnya yang ada dibenak para pasukan.

Tapi demikianlah lebih dahulu Rasulullah memberi kabar, “pemimpinnya adalah sebaik-baik pemimpin. Dan pasukannya adalah sebaik-baik pasukan”.

Terpahamkanlah kita bahwa siapapun yang dipimpin adalah cermin dari sesiapa yang memimpin. Gayung bersambut.

Saat titah menggaung-gaung dari sigap panglima. Tak ada satupun pasukan yang punya maksud bertanya, “kenapa hal ini harus dilakukan?”. Barulah sesampai seluruh armada diteluk seberang, salah seorang memberanikan hemat bertanya pada Al Fatih, “ maaf sultan, sudi saya bertanya. Mengapa cara ini tidak anda kabarkan pada kami lebih awal. Bukankah akan lebih banyak persiapan yang kami lakukan jikalau Anda memberitahu jauh hari.”

Subhanallah, coba lihat kembali kalimat di atas ikhwah. Desak tanya itu adalah penyayangan akan titah panglima yang  tak mereka dengar jauh hari, padahal segila apapun ide sang panglima, nyata diri seluruh pasukan telah siaga taat menyambutnya dengan senang hati.

Oh ya, beginilah jawab sang panglima agung Muhammad Al Fatih atas tanya pasukannya, “kalau saja jenggot saya ini sudah tahu lebih dahulu apa yang saya pikirkan dalam penyerangan ini, maka jenggot ini sudah kupotong”.

Dahsyat !

 

  1. Memilih Api

Dialah putra asli Afrika Utara. Atas sebuah perintah dijalaninya sebuah ekspedisi misi. Penaklukan Andalusia, Spanyol. Tertanggal senin hari itu 3 Mei 711 M, disertai 70.000 bala pasukan, layar terkembang di arung samudra menuju daratan eropa.

Setiba dibumi pesisir spanyol, tak ambil rehat. Sejurus pasukan telah ia kumpulkan disebuah bukit yang sampai saat ini tulis sejarah masih menyemat namanya, Jabal Thariq, Bukit Thariq, Thariq Bin Ziyad. Sekarang berganti nama Bukit Gibraltar. Di bukit ini Thariq berdiri gagah dengan mata berkilat. Pedang terhunus, dada lapang yang membusung kokoh dan lehernya yang tegak menantang khas prajurit berani mati. Lalu tertunduklah tempat itu dalam kebisuan diganti lantang melantang ruah pidato kepahlawanan. Kelantangan yang membuat semua mendengar lagi simak, kelantangan yang menafikan cadas karang Gibraltar dan deru ganas gelombang laut Andalusia. Betapa tidak, kalau disana terkenang sebuah pidato membara-bara,

Sekali lagi, Ia berdiri disana, diatas bukit, dihadapan puluhan ribu pasukan


“ Kita datang kesini bukan untuk kembali ! Kita hanya memiliki dua pilihan : menaklukan negeri ini lalu tinggal disini atau kita semua binasa !


Koarnya berhenti, Thariq terdiam. Nanar tatapnya menjauh layang diatas kepala seluruh pasukan, mata itu tertuju kepuluhan ribu armada. Hening. Lalu, ….


“ Bakar seluruh kapal !!!”


Sesaat saja. Diatas kulit dingin laut Andalusia berkobar-kobar merah api. Melalap tak bersisa seluruh megah-megah kapal. Habis sudah.


Thariq kembali berada disana, dihadapan para pasukan.


“Wahai seluruh pasukan, kalau sudah begini kemana lagi kalian akan lari ? Dibelakang kalian ada laut dan di depan kalian ada musuh. Demi Allah SWT., satu-satunya milik kalian saat ini hanyalah kejujuran dan kesabaran. Hanya itu yang dapat kalian andalkan. Musuh dengan jumlah pasukan yang besar dan persenjataan yang lengkap telah siap menyongsong kalian. Sementara senjata kalian hanyalah pedang. Kalian akan terbantu jika kalian berhasil merebut senjata dan perlengkapan musuh kalian. Karena itu, secepatnya kalian harus bisa melumpuhkan mereka. Sebab kalau tidak, kalian akan menemukan kesulitan besar. Itulah sebabnya kalian harus lebih dahulu menyerang mereka agar kekuatan mereka lumpuh. Dengan demikian semangat juang kita akan bangkit.

Musuh kalian itu sudah bertekad bulat akan mempertahankan negeri merekasampai titik darah penghabisan. Kenapa kita juga tidak bertekad bulat untuk menyerang mereka hingga mati syahid? Saya sama sekali tidak bermaksud menakut-nakuti kalian. Tetapi marilah kita galang rasa saling percaya diantara kita dan kita galang keberanian yang merupakan salah satu modal utama perjuangan kita.

Kita harus bahu membahu. Sesungguhnya saya tahu kalian telah membulatkan tekad serta semangat sebagai pejuang-pejuang agama dan bangsa. Untuk itu kelak kalian akan menikmati kesenangan hidup, disamping itu kalian juga memperoleh balasan paha yang agung dari Allah SWT. Hal itu karena kalian telah mau menegakkan kalimat-Nya dan membela agama-Nya.

Percayalah, sesungguhnya Allah SWT., adalah penolong utama kalian. Dan sayalah orang pertama yang akan menemui seruan ini dihadapan kalian. Saya akan hadapi sendiri raja Roderickyang sombong itu. Mudah-mudahan saya bisa membunuhnya. Namun, jika ada kesempatan, kalian boleh saja membunuhnya mendahului saya. Sebab dengan membunuh penguasa lalim itu, negeri ini dengan mudah kita kuasai. Saya yakin, para pasukannya akan ketakutan. Dengan demikian, negeri ini akan ada dibawah bendera Islam”.


Barbate, sungai bersimbah darah. Di ahad 28 Ramadhan 92 H atau 19 juli 711 M pasukan muslimin dan pasukan Raja Roderick bertemu. Mulanya pasukan muslimin kalah banyak serta terdesak. Dipakailah strategy penyusupan ketubuh lawan, dan berhasil. Raja Roderick meregang hayat ditangan Thariq. Akhirnya seperti yang dicita-citakan, Andalusia tegak dibawa panji Islam.


Satu lagi ajar prinsip ketaatan kita peroleh ikhwah…..  subhanallah.

Ditengah genting yang memanas. Thariq bin Ziyad, Panglima bermata tajam berkilat itu malah memerintahkan agar seluruh kapal dibakar. Yang diinginkannya adalah supaya seluruh pasukan hanya memiliki satu pilihan. Maju lalu bertempur hingga syahid ! sebab tiada lagi pilihan untuk pulang ke negeri kelahiran.

Yang kita lihat sekali lagi. Ini ide gila. Bagaimana mungkin seorang panglima mengorbankan perlengkapan perangnya sendiri. Memanglah iman yang memenangkan atas seluruh ketidak masuk akalan. Maka itulah yang berlaku disini. Representasi perlakuan dari berkilaunya hati karena iman, yakni ketaatannya terhadap Qiyadah. Apapun titah yang dilayangkan, Cuma satu yang berlaku, “sami’na wa atho’na”.

 

  1. Bukan Gulita

Tidak. Bahkan lebih deru dari sambaran halilintar.  Angin malam itu. Dingin mencekik tulang hampir tak tertahankan. Rasa lapar yang  melipat-lipat kian bertambah.  Hudzaifah tampil menengahi bercerita, “Pada malam itu kami sedang berjajar sambil duduk, sedang Abu Sufyan dan orang-orangnya dari kelompok musyrik Mekah berada di atas kami dan Bani Quraidzah dari golongan Yahudi berada dibawah kami. Sepertinya tidak pernah sekalipun datang kepada kami malam yang gelap seperti itu, tidak pernah ada angin yang sangat kuat sebagaimana waktu itu, dan kegelapannya yang amat pekat sampai kami tak mampu melihat jari jemari sendiri. Ketika itu Rasulullah SAW., berdiri dan mengelilingi kami satu persatu hingga beliau menemukanku. Sementara tubuhku tak terlindungi apa pun dari hawa yang sangat dingin itu, kecuali hanya selendang istriku yang panjangnya tak sampai lututku. Rasulullah SAW., mendekatiku yang dalam posisi berlutut ke tanah, dan beliau berkata, “siapa ini?” Aku menjawab, “Hudzaifah”. Nabi berkata lagi untuk meyakinkan, “Hudzaifah?” Kemudian aku bersedekap mengerutkan diri ke tanah karena enggan kalau-kalau aku harus berdiri, sebab aku sangat lapar dan dingin sembari berkata , “Betul Rasulullah.” Selanjutnya beliau berkata, “Sesungguhnya disana terdapat sekelompok kaum, maka selidiki dan menyusuplah kedalam barisannya, kemudian laporkan kepadaku tentang mereka.”   Akupun keluar padahal aku adalah orang yang paling takut dan paling kedinginan waktu itu, Rasulullah SAW. berdo’a, “Ya Allah jagalah dia, baik yang ada dihadapannya maupun yang ada dibelakangnya, dari arah samping kanannyamaupun dari samping kirinya, dari arah atas maupun dari bawah.” Demi Allah belum selesai Nabi SAW. membaca do’anya Allah telah menghilangkan semua yang kurasakan yaitu ketakutan rasa kedinginan ditubuhku. Ketika saya menoleh, beliau memberi pesan kepadaku, “Yaa Hudzaifah, jangan sekali-kali kamu berbicara apapun pada kaum itu, sampai engkau mendatangiku kembali.” Kemudian aku menjawab, “Baik.” Kemudian aku segera berlalu dari hadapan beliau dan segera menyusup kedalam pekatnya kegelapan, aku masuk kebarisan tentara musyrikin dan seolah aku adalaha bagian dari mereka”.


Jadilah kaidah yang terkenal,”Taat dan Tsiqah kepada qiyadah adalah tonggak dari seluruh kemenangan”. Beginilah Islam mendidik kedisiplinan dalam berjamaah. Secoreng saja ketidak disiplinan yang menggores, akibatnya akan tertular kesetiap sendi jamaah. Maka tak ayal apabila disuatu ketika seorang pemimpin dengan terpaksa harus mengamputasi sang jundi dikarenakan indisipliner-nya. Memang pilihan yang berat namun harus itu yang dilakukan.


Kalau kita lanjutkan sedikit pelajaran dari Hudzaifah maka didapatilah ketika Hudzaifah memperoleh kesempatan untuk membunuh Abu Sufyan, pemimpin Musyrikin. Hudzaifah mengatakan, “Kemudian Abu Sufyan berdiri untuk menaikkan ontanya, sedangkan onta itu dalam keadaan terikat. Abu Sufyan duduk di atasnya dan memukulnya sehingga onta itu melompat-lompat tiga kali. Demi Allah aku tidak akan melepaskan belenggunya jika saja ia tidak cepat berdiri lagi, serta seandainya bukan karena perjanjian dengan Rasulullah SAW. kalau aku mau sungguh dapat membunuh Abu Sufyan itu dengan tombak.”


Apa salahnya kalau Hudzaifah ketika itu juga membunuh Abu Sufyan ? bahkan boleh jadi kemenangan akan diperoleh ketika dapat membunuh Abu Sufyan bukan. Tapi tidak. Instruksi yang Rasulullah berikan bukan dalam rangka pembunuhan tetapi hanya men-survei keadaan musuh. Dan itulah yang dipahamilah Hudzaifah.

Tertuliskan secara apik dalam karyanya Nur Ahmad berjudul Etika Jama’ah, bahwa contoh paling nyata akan bahaya meninggalkan instruksi dan mengambil inisiatif sendiri (indisipliner) adalah dalam peristiwa Uhud. Rasulullah SAW. saat itu memilih 50 orang ahli memanah dan memberikan kepemimpinannya kepada Abdullah bin  Jabir Al anshari. Perintah Rasulullah SAW. saat itu sangat jelas yaitu agar mereka tetap berkonsentrasi dibentengnya yang berada diatas gunung.


“Hujanilah pasukan kuda mereka dengan anak panah untuk melindungi kita, janganlah kalian datang dari arah belakang kami. Jika kami menang atau mendapat kesulitan maka kalian harus tetap ditempat dan jangan sekali-kali kalian datang kearah kami.” Kemudian Nabi SAW. memberikan instruksi kepada pasukan pemanah, “lindungilah sesuatu yang datang dari arah belakang kami, jika kalian melihat kami terbunuh, tidak perlu kalian datang menolong kami, dan jika kalian melihat kami meraih kemenangan maka janganlah kalian iktu bergabung dengan kami.”


Dalam riwayat lain Bukhari  mengisahkan, Nabi SAW. bersabda,

“Jika kalian melihat kami dijemput oleh burung malaikat, maka janganlah kalian meninggalkan tempat ini, hingga kalian diperintahkan, dan jika kalian melihat kami berhasil menghalau kaum itu dan berhasil membunuh mereka maka janganlah kalian meninggalkan tempat kalian sampai kalian diperintahkan.”


Dapat disaksikan dalam kisah tersebut akan kekalahan muslimin yang lalai karena tergiur ghanimah dan meninggalkan instruksi pemimpin.


Meriwayat hingga kini, yang terwariskan dari Abi Dzar, ucapnya,

“Sesungguhnya kekasihku (Muhammad SAW.) berwasiat kepadaku agar aku mau mendengar dan taat kepada pemimpin meskipun dia seorang hamba yang dibagian tubuhnya diamputasi.” (HR.Muslim).


Lain masa, tersabdakan dalam urai hadisnya, Rasulullah SAW.,

“Dengarkanlah dan taatilah, walaupun yang diangkat kepadamu menjadi pemimpin adalah seorang budak yang berasal dari Ethiopia yang bentuk kepalanya seperti kismis (biji kurma).” (HR.Bukhari).

Ardi Amsir A

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration