Akhir-akhir ini reputasi bollywood dihebohkan dengan diluncurkannya sebuah film yang memilih sebutan “Tri Idiot”. Bagi yang sudah menyaksikan pemutaran film ini jangan berkomentar lebih dulu ya.. biar kita bahas bareng-bareng aja. Hehe..’afwan

Seperti diceritakan, film ini mengisahkan persahabatan tiga mahasiswa di sebuah Universitas nomor satu, Imperial College of Engineering . persahabatan itu berlangsung dinamis. Satu diantara ketiga sahabat ini bernama Ranchodas Chancad yang sesungguhnya bernama Punsukh Wandu. Dialah yang menjadi biang dari skenario film tersebut. Dalam perjalanannya, Rancho memilih kuliah di Univertas itu dengan benar-benar menemukan kecenderungan akademik sebagai specialis di bidang mesin, berarti Teknik Mesin. Disinilah mereka bertiga bersua memulai ragam kisah. Tak seberuntung Rancho, kedua sahabatnya memilih belajar dalam bidang permesinan lebih karena faktor lain, bukan dari panggilan jiwa. Tepatnya karena dorongan orang tua. Sehingga tak ada pilihan lain. Mesti terjerumus ke Teknik Mesin. Al hasil, nilai akademik tiap semester lagi-lagi dan lagi selalu buruk. Sementara Rancho menggemintang dengan prestasinya. Betapa lunglai hati Rancho mengetahui prestasi kedua sahabatnya senantiasa berada digaris bawah, posisi paling bawah dari seluruh mahasiswa seangkatan. Selanjutnya ia berusaha bagaimana caranya agar kedua sahabatnya dapat pula menjulang prestasinya. Tentunya ia tak mampu menjadi diri mereka. Kecuali yang ia lakukan adalah meyakinkan kedua sahabatnya bahwa mereka punya potensi lain yang  demikian dahsyat yang bisa sesungguhnya membuat kaduanya lebih melangit. Raju, sesungguhnya ia memiliki bakat seorang penulis, harusnya ia sudah menyusun beratus lembar urai sajak-sajak. Begitu juga si Farhan, kalau saja ia meneruskan hobynya sebagai fotografer handal harusnya sudah tercipta beratus album hasil tangkapan lensanya. Dari sudut itulah Rancho kian berusaha mengangkat sadar Raju dan Farhan. Bahkan mendorong keduanya agar segara keluar ICE demi melahap cita-citanya. Tapi tidak, Raju dan Farhan memilih tetap meneruskan amanah kedua orang tuanya. Ya, apapun hasilnya nanti, yang penting diteruskan dulu. Baiklah, ketiganya berkomitmen meneruskan hingga akhir perkuliahan. Empat tahun mendatang, ketiganya harus terpisah. Rancho kemana gerangan, begitupun Raju dan dan Farhan. Namun pertemuan tak disangka setelah bertahun-tahun ketiganya saling mencari. Pendek kata singkat cerita, pesisir putih dihampar bahari nan membiru. Kegirangan menggulung-gulung dijiwa ketiganya, pertemuan yang mengharukan dicampur kagum masing-masing. Memoar mengulang kisah, ternyata apa yang dilakukan Rancho dalam meyakinkan Raju dan Farhan untuk tetap meneruskan apa yang mereka cita-citakan, merasuk kuat dalam jiwa dan pikir kedua sahabatnya. Kini mereka benar-benar meninggi julang dengan cita-citanya masing-masing. Ya, Raju sudah punya ratusan karya tulis. Dan tentunya Farhan mendunia dengan cepretan-cepretan kameranya. Tak ketinggalan Rancho adalah akademisi sukses dengan puluhan penemuan-penemuan ilmiah yang telah dipatenkan sekaligus pemilik banyak sekolah berbasis teknik terapan. Selesai.


Saudaraku yang budiman, deskripsi diatas boleh kita reguk hikmahnya. Rancho mengajarkan sebuah perilaku jiwa. Karena memang jiwa tak bisa dibohongi dari kata hati. Keduanya berdampingan beriring. Walau idealita dirembuk realita, harusnya cinta tetap menjuntai tinggi dari lekat-lekat tantangan. Inilah salah satu model fenomena cinta. Cinta mesti diperjuangkan, begitu yang ingin disampaikan Rancho. Jikalau hati tak sudi dengan pilihan lainnya, mengapa mesti bertahan dengan pilihan itu ? Tidak, jangan pernah lari dari cinta, jangan pernah menghindar dari kecenderungan jiwa. Sebab itu adalah siksa yang menyayat-nyayat tanpa berakhir perihnya. Pengorbanan bukan tempatnya diawal perjuangan tetapi ia adalah pilihan paling akhir dari perjuangan. Lemah sekali kalau seorang pejuang sudah harus berkorban sejak mulanya. Itu pertanda kekalahan. Raju dan Farhan, berkat cemeti dari rancho akhirnya mampu meledakkan apa yang tersembunyi dibalik jiwanya. Jiwanya para penulis dan jiwanya para fotografer.  Disatu sisi kita memang menemukan ada yang terpilukan dari kisah ini. Benar, apa yang mereka jalani selama empat tahun dibidang permesinan tak terpakai sama sekali. Istilahnya, hanya batu loncatan. Tapi cinta punya janji akan selalu memenangkan siapa pejuangnya. Raju dan Farhan memang sedikit menunduk terlebih dahulu dengan cemoohan selama empat tahun oleh sang rektor ICE danbanyak kawan sekelas, lalu selanjutnya langkah maju jadi gerak untuk memegang puncak kemenangan yang lain. Dan impian itu benar-benar terjadi. Mereka menang bahkan terdepan dari pemenang-pemenang lainnya.

Teringat suatu ketika saya diminta agar menjadi pembicara disebuah pelatihan ke-LDK-an. Panitia meminta saya untuk membawakan sebuah tema klasik yakni “bagaimana menjaga semangat”, tentunya dalam konteks aktivitas di LDK. Tema tersebut dipilih berlatar belakang banyaknya fenomena aktivis “panas-panas tahi ayam” (maaf), maksudnya banyak aktivis yang muntaber (mundur tanpa berita) ditengah perjalanan. Alasannya semangat sudah lima watt untuk LDK. (hmm…ada-ada aja). Pada pelatihan itu saya hanya  menyampaikan satu hal, “temukan duniamu dan dapatkan cintamu di LDK”. Artinya, untuk menjaga semangat aktivitas agar tak mudah futur, temukanlah hobi dan kesenangan sesuai kecenderungan hati. Kaitannya dengan potensi dan keterampilan apa yang dimiliki. Allah telah menitipkan masing-masing pada diri manusia potensi yang berbeda. Setiap Personil  memiliki keunikan serta kelebihan tertentu disamping personil lainnya. Kalau seluruh potensi itu terkelola dengan sempurna niscaya akan dilihat bangunan organisasi yang solid, saling menguatkan untuk senantiasa memproduksi karya-karya peradaban. Masalahnya, kadang potensi itu sulit diletupkan. Tak lain karena sang pemilik tak kunjung menemukan sumbu letupnya, ruang ekspresi. Boleh jadi saat perekrutan ia malah ditempatkan pada bidang lain yang tak sesuai (muyul) kecenderungannya. Berikutnya mudah ditebak, ia kurang berkontribusi pada kegiatan-kegiatan LDK, kecewa terjadi. Hal-hal kecil seperti ini seringkali ditemukan dalam suratan organisasi. Namun kalau tak segera terdeteksi dan teratasi niscaya berdampak fatal bagi keberjalanan lembaga serta ketersediaan SDM. Harus dipahami bahwa potensi adalah bagian dasar dari fitrah insani yang mesti mendapatkan haknya untuk tersalurkan secara total. Maka penuhilah hak itu. Anda sebagai qiyadah dituntut jeli melihat diri-diri yang terserak potensi itu. Tempatkanlah mereka sesuai muyulnya, agar tak bertambah banyak yang kecewa. Mengenal perumpamaan, “ air yang diam tak mengalir akan manjadi sarang penyakit, sebaliknya air yang terus mengalir dipastikan jernih dan menghanyutkan”.  Demikian pula potensi manusia, jika ia lama terdiamkan maka dampaknya akan mengerut tak berdaya.

Ardi Amsir A

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration