Dakwah merupakan amal yang sangat besar didalam Islam, setelah sempurnanya Islam bukan berarti perintah untuk berdakwah berhenti. Sebaliknya, justru jalan keselamatan ini semestinya lebih intens untuk disebarkan. Selain untuk memberitahukan kepada seluruh umat manusia bahwa diinul Islam semata agama yang diridhai oleh Sang Pencipta juga untuk menjaga orisinilitas atau kemurniaan pokok-pokok islam itu sendiri.

Allah ta’ala berfirman,”sesungguhnya agama yang ada disisi Allah hanyalah Islam….” (Ali Imran:19). Sesungguhnya dakwah kepada Allah adalah jalan yang ditempuh oleh para Rasul dan pengikutnya sebagaimana Allah telah firmankan didalam surat Yusuf ayat 108,” Katakanlah: Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mangajak (kamu) dengan hujjah yang nyata. Maha suci Allah dan akau tidak termasuk orang-orang yang musyrik.”

Dakwah kepada Allah merupakan tugas utama para rasul dan para pengikutnya tanpa terkecuali, dakwah adalah seruan untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang, dari kekufuran kepada keimanan, dari kesyirikan menuju tauhid, dan dari neraka menuju surga. Dakwah ditegakkan diatas pilar-pilar yang telah digariskan didalam al-qur’an dan as-sunnah, apabila salah satu pilar tidak tegak sebagaimana mestinya, maka dakwah tersebut menjadi tidak benar dan tidak akan membuahkan hasil.

Syaikh DR. Shalih bin fauzan Al-Fauzan didalam risalahnya, menuliskan beberapa pilar dakwah yang telah termaktub didalam Al-Qur’an dan As-sunnah shahihah. Yaitu:


  1. Al-‘ilmu (mengetahui apa yang didakwahkan)

  2. Amal (merealisasikan ilmu, sehingga mampu meneladani orang lain)

  3. Ikhlas

  4. Mengawali dari hal yang paling penting kemudian yang penting

  5. Bersabar atas segala cobaan dan tekanan dalam berdakwah

  6. Menghiasi diri dengan akhlakul karimah

  7. Memiliki himmatul ‘aliyah (cita-cita dakwah yang tinggi)

Medan dakwah saat ini begitu luas, tidak terbatas pada peribadatan yang sifatnya vertikal saja. Semua ranah kehidupan merupakan sarana untuk mendakwahkan Islam, tentu dengan tetap berpegang pada metode dan manhaj  yang dicontohkan nabi dan diperbolehkan dalam syariat. Karena dakwah merupakan ibadah, sehingga tetap mengandung dua syarat agar dakwah menjadi barokah. Yaitu ikhlasun niyah dan it-tiba’us sunnah.

Sebagai seorang aktivis yang telah beriltizam untuk menceburkan diri dalam agenda-agenda dakwah sudah semestinya memahami hakikat dan ruh dakwah itu sendiri, agar semangat yang membara takbegitu saja pudar ketika godaan dunia makin menghadang, agar seorang aktivis dakwah senantiasa mengorbankan bara semangat didalam dadanya. Untuk itulah keutamaan-keutamaan dalam berdakwah dan bekal-bekal dalam dakwah wajib terinternalisasi dalam diri seorang kader dakwah, meskipun berulangkali ia telah membaca, berulangkali pula ia telah mendengar namun inilah ilmu, semakin diulang akan semakin terasah.


  1. Keutamaan orang yang berdakwah

Tersebutkan didalam Al-Qur’an ataupun sunnah begitu banyak keutamaan orang yang berdakwah ilallah.


  1. Dakwah adalah karakter hakiki sebagai pengikut nabi

Sebagaimana Allah ta’ala berfirman,” Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik” (QS. Yusuf : 108).


  1. Perkataan terbaik adalah perkataan yang menyeru pada kebaikan

Allah Ta’ala berfirman, “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shalih, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushilat : 33)


  1. Orang-orang yang berdakwah kepada Allah, mereka adalah golongan yang memperoleh kemenangan dan keberuntungan di hari ketika manusia berkumpul dalam keadaan ada yang bahagia dan ada yang sedih. Allah Ta’ala berfirman, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al Ashr :1-3).

  2. Pahala dakwah ilallah akan memberi manfaat yang terus menerus, selama Allah berkehendak, dan tidak terputus dengan kematian sebagaimana dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, “Jika manusia mati terputuslah darinya amalnya kecuali tiga hal : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya” (HR. Muslim). Maka ilmu yang disebarkan oleh seorang da’i dalam rangka menyeru kepada Allah, baik melalui majelis ta’lim, atau ketika bergaul dengan manusia, pahalanya akan senantiasa mengalir dan memberikan manfaat hingga hari kiamat kelak.

  3. Allah Ta’ala menetapkan pahala bagi para da’i ilallah, pahala yang besarnya semisal dengan mereka yang meneladani para da’i tersebut dalam kebaikan, tanpa mengurangi pahala orang yang melakukannya. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang memelopori suatu kebaikan (yang telah ada contohnya dari Nabi -pent) dalam Islam, baginya pahala semisal dengan orang yang melakukannya, tanpa mengurangi sedikitpun pahala yang diperoleh orang yang melakukan tersebut”. Dalam hadits lainnya, beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan baginya pahala yang semisal dengan orang yang melakukan kebaikan tersebut”.


Kelima poin diatas hanyalah sebagian dari begitu banyak keutamaan menempuh jalan dakwah, Allah ta’ala berfirman,”Dan hendaklah ada segolongan diantara kamu yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”(Ali Imran:104)


  1. Sang dai memikat, umat terpikat

Inti dari dakwah adalah menyeru, mengajak kepada setiap orang untuk menempuh jalan kebaikan, sehingga peran dakwah menjadi sangat penting ditengah kompleksitas umat saat ini. Kita saksikan, saat ini nilai-nilai Islam semakin menjauh dari masyarakat bahkan umat islam itu sendiri. Cahaya terang diinul islam tertutupi oleh perilaku penyimpangan moral yang tak jarang dilakukan oleh umat islam sendiri, Imam Al-maudhudi mengatakan,”Al-Islaamu mahjuubun bilmuslimiin.” Islam terhalang oleh umat Islam sendiri. Oleh karenanya usaha untuk senantiasa mengajak umat ke arah perbaikan sangat penting untuk dilakukan.

Berperan dikancah masyarakat dan pengemban penyeru kebaikan bukan hanya tugas para dai, ustadz atau khatib yang pandai berceramah. Akan tetapi apapun profesi kita semestinya kita arahkan untuk berjalan dan mengajak menuju jalan kebaikan, yaitu islam. Dapat kita identifikasi beberapa tugas dakwah yang diemban seorang dai yang berkecimpung dimasyarakat sesuai dengan profesi atau ranah pekerjaan yang ia geluti.


  1. Peran asatidz/dzaat, khatib, kyai

Peran kader dakwah dalam bidang ini sangatlah jelas, yaitu mengajak masyarakat dengan mentransformasi pengetahuan islam sehingga nilai-nilai islam dapat dipahami secara benar dan mudah oleh masyarakat. Ada kaidah “yassiru wala tu’assiru”, permudahlah jangan persulit, hal ini sangat penting, dalam arti, janganlah memberikan hal-hal yang sulit bagi masyarakat, apalagi berkaitan dengan persoalan khilafiyah. Kaidah ini tidak dapat diartikan menjadi “memudah-mudahkan”, apalagi sampai membalikkan sesuatu yang sudah jelas hukumnya.


  1. Peran umara’ (para pemimpin, legislator)

Bila kita berkaca pada para salafush shalih yang berkesempatan menjadi seorang amir akan kita temui sosok ideal antara orang yang mengedepankan keadilan, mendahulukan ketakwaan, dan menggadaikan harta berlimpah yang mustinya sangat mudah ia nikmati namun ia korbankan untuk rakyatnya dan tegaknya diin.

Sungguh indah melihat para pemimpin yang tidak pragmatis, pemimpin yang dekat dengan ulama, pemimpin yang tawadhu’. Saat ini pemimpin dengan tipikal seperti tadi ibarat barang nan langka di negeri kita.


  1. Peran entrepreneur muslim

Peran empunya harta dalam dakwah dan berjuang di jalan Allah, tidak bisa dikesampingkan. Rukun islam seperti haji dan zakat pun dapat tegak dengan kemampuan harta sebagai salah satu sebabnya. Demikian pula difase-fase awal dakwah kenabian, Rasulullah sangat terback up dengan sokongan finansial dari ummul mu’miniin khadijah. Menjadi pengusaha muslim merupakan pilihan yang sangat strategis pada saat ini, tentu seorang pengusaha muslim harus mempunyai frame berbeda dengan pengusaha yang hanya menginginkan kenikmatan harta semata.


  1. Peran cendikiawan/ilmuwan/spesialis

Seorang cendekiawan adalah orang yang mampu mewujudkan kegalauan masyarakat menjadi sebuah wacana yang nantinya akan didengar oleh para penguasa. Cendikiawan merupakan sosok penghubung antara masyarakat dengan pemimpinnya. Demikian pula, seorang ilmuwan muslim mencurahkan riset-risetnya untuk kepentingan umat.

Pengklasifikasian seperti ini tidaklah bertujuan untuk mengkotak-kotakkan kerja dakwah, akan tetapi sebaliknya untuk menjelaskan kesyumulan dakwah Islamiyyah. Sekali lagi, berdakwah bukan saja tugas ustadz yang pandai berkhotbah, akan tetapi tugas kita semua sesuai dengan potensi yang kita miliki. Wallahu ta’ala a’lam

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration