Wajah santun dibalut tatap cinta. Senyum ria nan sapa yang lembut menyejuk. Jabat sayang direngkuh rangkul satu pesona, “engkau saudaraku”, katanya. Lalu akhirnya hangat pelukan menyatu diharibaan detak dada. Aduhai…, siapa yang tak gemulai hatinya diaduk-aduk cinta mengharu jika pesona itu tiba datang merangkulmu ? sungguh, ini jenis cinta lain. Merasuk tak permisi namun meluluh lantak ego berubah satu rasa, satu hati, satu pandang, satu suka, satu derita. Dan jenis cinta ini kawan, kita hanya dapat merasakannya dalam aura jiwa-jiwa yang mereguk cinta dari Maha cinta. Ya, merekalah jiwa-jiwa yang menyentuh hatimu dengan hati. Hingga cinta serasa lekat berpeluk-peluk dan darah tiada arti berbeda, kau Jawa atau Makassar atau Sumatra atau Kalimantan atau Bali atau Nusa Tenggara atau Maluku atau Papua. Kaya atau miskin, bangsawan ataukah keluarga sederhana, rupamu indah jumawa ataukah sebaliknya. Ah, sekali lagi itu tak lagi berlaku dicinta yang satu ini. Karena riaknya terlanjur berkata se-iya bahwa ada Laa ilaaha illallah yang jadi spirit kita. Bijaknya, cinta ini membawa memoar bertemu dimasing-masing tempatnya saat ia mewujud disana. Melenggang abadi dari sirahnya Rasulullah dalam ceritanya Madinah yang mempertemukan Muslim Muhajirin dan Anshar, berbisik sejarah kisahnya tiga musafir digarang tandus gurun pasir yang lebih merela nyawa dari harap tertolongnya satu nyawa dari sekantung air minum walau setelah berputar untuk ketiganya tak satupun akhirnya yang tertolong nyawanya, sekali lagi karena cinta itu lebih memilih berkorban nyawa daripada tersenyum disamping rintihan. Dari cinta ini hingga lahir kala seorang pemimpin agung nan fenomenal mengajukan diri mencari kayu bakar sendiri. Dilain masa pemimpin mulia ini kita dengar berkata,”aku akan makan roti jika semua sahabatku sudah mendapat bagiannya”, Rasulullah SAW. Lalu kiriman fiksi nyata dari silamnya pamerintahan Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq menyatakan ia yang terang-terangan,”untuk istri dan anakku hanya Allah dan Rasulnya”, tukasnya saat seluruh hartanya habis diserahkan demi kecukupan amunisi pasukan perang kaum muslimin. Maka cerita berlanjut pula dimasanya Khalifah Umar Bin Khattab yang dengan tubuhnya sendiri memanggul sekarung gandum untuk pangan rakyatnya. Hingga museum sirah yang ternarasikan sampai pada kita bahwa ada kisahnya Umar Bin Abdul Aziz yang demi kesejahteraan seluruh rakyatnya didapati ia hanya memiliki dua pasang baju saja dan yang ia makan hanyalah sepiring roti kering dengan titisan garam dan minyak, barulah kita terhenyak melihat sebuah kesuksesan besar seorang pemimpin besar yang mampu menghadirkan satuan rakyat yang menolak menerima zakat karena semuanya telah tercukupi hanya dalam jangka dua setengah tahun. Dan di abad ini baru-baru saja media sedunia disita perhatiannya oleh cerita khalayak yang mendapati Presiden baru Masir Dr. Muhammad Mursi saat makan malam mengajak seluruh pengawal dan menterinya makan bersama dalam satu meja. Sungguh hal itu belum pernah terjadi dalam sejarah Mesir. Ditambah lagi ia tak ingin menghuni istana kepresidenan, lebih memilih tinggal dirumah sederhananya sendiri. Subhanallah.
Lalu apa lagi yang tersisa dari cerita cinta jenis ini. Kalau semua cerita dan kisah begitu merebut hati ingin melebur bersamanya, merasakan haru dan bahagianya. Barangkali inilah alasan mengapa para perindu cinta ini selalu terobati oleh firmanNya,
“…maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum , Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” ( Al-Maidah : 54 ).
Selanjutnya sejarah membolehkan kisah itu selalu terulang didalamnya. Ya, selalu. Hingga kini. Jadi kalaulah kita temui orang-orang pecinta yang punya rasa cinta layaknya memoar berbicara seperti di atas. Maka itu sebuah relita, bukan di negeri dongeng.
Disertai kampus menjadi jalan letupnya cinta itu. Mereka hadir disana. Apalagi kalau bukan alasan menggelar pesona cinta dari rahim Islam. Seakan mereka, orang-orang saleh itu ingin bertutur, “Islam rahmatan lil ‘alamin”. So, tiada eksklusifitas arena tuk mengekspresikan cinta ini.
Beginilah cara Islam yang sungguhnya melekatkan pesona pada pribadi-pribadi yang membawa diri kedalamnya. Maka selanjutnya inilah yang disebut sibghah. Jika benar adanya ia merasuk lebur bersamanya, jadilah ia yang tak mampu dipaling dari pandang siapapun, menarik. “Akhlaknya adalah Al Qur’an”, itu kata Aisyah ketika ditanya gerangan akhlak Rasulullah. Alhamdulillah kita mengenal Rasulullah dengan diin ini. Agar pesona lahir pula dalam recak cinta kita, adalah Al Qur’an sudah mendarah daging dalam diri Rasulullah, seharusnya juga sudah merenda-renda kesan terbaik buat diri ini. Lihatlah Rasulullah yang memikat hati siapapun, hingga musuh apalagi relasi. Olehnya dakwah ini mestinya berlanjut dan berperan seperti itu, suatu kali tak perlu lebat nasihat diutarakan, namun cukup dengan satu teladan, hidayah lekas menyambut jiwa-jiwa lainnya. Karena setiap hidayah punya jalannya sendiri.

Ardi Amsir A

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration