Ta’aruf. Istilah pertama yang akan diketahui seorang aktivis pemula. Sampai-sampai adalah sebual hal yang utama bagi komunitas ini. Mengapa ? pertama, karena Allah telah menfirmankannya dalam Al Hujurat : 13,
“ Wahai manusia ! Sungguh kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”
Kedua, ta’aruf merupakan rukun pertama dalam membangun ukhuwah islamiyah .
Betapa pentingnya, Abbas As Siisiy bahkan sampai berpikir dan menemukan bagaimana caranya agar dapat memikat hati mad’u (objek da.wah) diawal jumpa. Sebab Ta’aruf memanglah sesuatu yang sangat sederhana tetapi ia adalah tajuk dari harmoninya keberlangsungan ukhuwah serta tumbuhnya kuntum-kuntum hidayah dilapang jiwa sang mad’u. Sedikit saja ketidak tepatan dalam cara kita berta’aruf dengan seseorang maka dipastikan keberlanjutan berikutnya akan menghinggapkan kesan yang tidak nyaman atau kurang baik bagi mad’u. Al hasil kehilangan objek da’wah menjadi akhirnya. Da’wah adalah hadiah, jadi sebagai da’i mestinya memikirkan sejak awal hadiah apa yang tepat dan bagaimana cara memberikannya. Maka ta’aruf adalah pertanda muka untuk hadiah-hadiah selanjutnya. Jika tepat cara memberikannya, InsyaaLlah senang hati memenuhi jiwa yang menerimannya. Berikutnya lihatlah ia akan senantiasa setia menunggu-nunggu hadiah anda selanjutnya.
Sudah sepantasnya dipembahasan ini memang bertanya, “lalu bagaimanakah ta’aruf yang sarat cinta itu?”
Sebaiknya kita ikuti beberapa pengalaman yang dituturkan oleh Ustadz Abbas As Siisiy dalam karyanya Bagaimana menyentuh hati.
Suatu hari di tahun 1951 M. saya berada di pejabat cabang Ikhwanul Muslimin di Jalan Iskandarani, Iskandaria. Lalu ada dua orang datang, yang sudah mempunyai janji dengan salah seorang teman. Saya sambut kedatangan mereka dengan menyebut nama-nama mereka. Tatkala teman yang mereka tunggu itu datang, mereka berkata kepadanya, “Kami tidak mengenalnya sebelum ini, tetapi bagaimana ia mengenal nama kami?” Kemudian saya diajak duduk bersama. Lalu saya berkata kepada keduanya, “Bukankah kalian berdua setiap pagi naik trem dari stesen Rashafah?” Keduanya menjawab, “Ya.” Saya berkata, “Saya setiap pagi juga naik trem yang sama.” Mereka berkata, “Akan tetapi kami tidak melihat anda bersama kami.” Saya berkata, “Kerana saya memakai seragam militer.” Keduanya teringat dan tersenyum lalu berkata, “Bagaimana Anda mengetahui nama kami?” Saya berkata, “Saya mendengar salah seorang di antara kalian berkata, ‘Selamat pagi, Muhammad,’ lalu yang satunya menjawab, ‘Selamat pagi, Ahmad.'” Keduanya berkata, “Untuk apa Anda menghafal nama kami?” Saya menjawab, “Jawabannya adalah yang terjadi saat ini.”
Imam Hasan Al-Banna adalah da’i yang sangat gemar menghafal nama. Ketika Dewan Tinggi Militer mengumumkan pemindahan beliau ke kota Qina di wilayah Sha’id (Mesir) pada tahun 1941 M., pada waktu itu diadakan penyambutan kedatangan beliau oleh pemuda-pemuda yang bergabung dalam gerakan pramuka, yang baru pertama kali itu mereka melihat beliau. Ustadz Hasan Al-Banna berjabat tangan dengan pemuda-pemuda itu dan menyebut beberapa nama mereka. Tatkala beliau ditanya tentang bagaimana beliau bisa mengenal nama-nama tersebut, beliau menjawab, “Ketika saya menandatangani kad anggota pramuka, saya menghafal nama yang tertera dan raut wajahnya.”
Pada tahun 1951 M. ada seorang tamu yang berkunjung ke pejabat cabang di Rashafah. Ketika saya sambut kedatangannya dan saya tanyakan namanya, ia menjawab, “Muhammad Syakir Gharbawi.” Saya bertanya, “Dari Ismailia?” Ia menjawab, “Ya. Anda tahu?” Saya berkata, “Sebentar.” Lalu saya mengeluarkan buku catatan dari laci meja, di situ tercatat bahawa pada tahun 1936 M. ada seorang pemuda utusan Ustadz Hasan Al-Banna yang bernama Muhammad Syakir Gharbawi datang ke Rasyid dalam rangka mengumpulkan dana untuk kaum mujahidin Palestina. Tatkala target yang telah dicanangkan tidak terpenuhi, pemuda itu menangis. Ketika Muhammad Gharbawi mengetahui isi catatan itu, ia langsung menangis dan berkata, “Demi Allah, saya tidak menyangka kalau kejadian itu bisa terkenang setelah waktu berlalu begitu lama.”
Waktu itu saya sedang naik bus, tiba-tiba ada seorang pemuda berjanggut yang berusia tidak lebih dari tujuh belas tahun naik dan duduk di sebelah saya. Pada waktu itu janggut merupakan pemandangan yang sangat jarang ditemui. Hati saya mengatakan, “Ini adalah kesempatan yang baik untuk berkenalan dengannya.” Lalu dengan senyum tipis saya bertanya kepadanya, “Maaf, kalau boleh saya tahu Saudara ini memanjangkan janggut kerana tradisi atau kerana ibadah?” Kelihatannya ia tidak faham dengan pertanyaan saya, lalu saya ulangi, “Kerana sunnah atau kerana yang lain?” Ia menjawab, “Kerana sunnah Rasulullah saw.” Lalu saya berkata dengan gembira, “Masya Allah, Allahu Akbar!” Kemudian saya cepat-cepat mengulurkan tangan dan memperkenalkan din, “Saya saudaramu seaqidah dari Rasyid. Saya seorang pedagang.” Ia pun lalu memperkenalkan diri, “Saya saudaramu seaqidah juga. Saya siswa sekolah menengah atas di Al-Abbasiyah.” Kemudian saya hafal nama dan alamatnya pada waktu itu juga. Saya sengaja memulai dengan memperkenalkan nama saya, kerana jika menanyakan namanya terlebih dahulu mungkin ia akan curiga, lebih-lebih situasi waktu itu sangat rawan. Setelah melewati beberapa terminal, ia turun dan saya merasa gembira kerana dapat berkenalan dengannya. Setelah kejadian itu, saya pun sering menghubunginya.
Di setiap perjalanan, saya biasa membawa mushaf, quran, atau majalah. Biasanya, tatkala Anda membaca quran, orang yang duduk di sebelah Anda akan melirik dan ikut membaca. Di saat inilah Anda dapat meminjamkan quran pada orang tersebut. Setelah selesai membaca, ia akan mengembalikan quran itu dengan mengucapkan terima kasih. Di saat itulah Anda dapat berkenalan dengan memulai pembicaraan tentang topik yang dibahas dalam quran tersebut dan bagaimana tanggapan Anda tentang topik tersebut. Jika memang tidak memungkinkan, sebuah perkenalan tidak harus diakhiri dengan mengetahui nama masing-masing, tetapi yang perlu diperhatikan adalah hendaknya pembicaraan yang berlangsung itu berkisar sekitar dakwah islamiah, kerana tugas kita adalah menyebarkan fikrah yang lslami. Mudah-mudahan Anda bisa bertemu dengannya pada kesempatan yang lain dan bisa berkenalan lebih jauh lagi.
Kadang-kadang duduk di sebelah saya seseorang yang belum saya kenal, dan saya berpikir bagaimana cara memulai pembicaraan. Jika saya lihat orang itu berkulit putih, saya bertanya kepadanya dengan pertanyaan yang kedengarannya bodoh, “Apakah Saudara dari Sudan?” Lalu ia melihat kepada saya dengan pandangan kehairanan dan seakan-akan ingin berkata, “Apakah Anda buta?” Akan tetapi saya mendahului berkata, “Saudara jangan marah, kerana saya pernah melihat orang Sudan yang berkulit putih. Kalau begitu, Saudara ini dari mana?” Dengan begitu saya telah membuka tirai kebisuan di antara kami, dan setelah itu kami dapat melanjutkan pembicaraan. Jika orang itu berkulit coklat maka saya bertanya, “Apakah Saudara dari Qubrus?” Begitulah seterusnya. Inilah cara yang kadang-kadang saya pakai untuk membuka pembicaraan.
Suatu saat saya diundang untuk memberikan ceramah di pejabat cabang Ikhwanul Muslimin di Matras, terletak di pinggiran kota Iskandaria. Pejabat cabang itu terletak jauh dari jalan raya, kira-kira satu kilometer. Tatkala saya turun dari bus, ada beberapa pemuda yang juga turun. Meskipun saya sudah mengetahui letak pejabat cabang itu, tetapi saya minta mereka agar mahu menunjukkan tempat pejabat tersebut. Di tengah perjalanan kami berbincang-bincang tentang dakwah islamiah, dan tak lupa saya singgung juga acara yang diadakan di pejabat cabang Ikhwanul Muslimin itu. Setelah sampai di tempat tujuan, beberapa dari pemuda tersebut ikut bersama saya, dan di pejabat itulah kami lebih mengenal satu sama lain.
Suatu ketika kami dalam perjalanan dari Iskandaria ke Asyuth ibukota Sha’id. Perjalanan itu membutuhkan waktu yang lama, sehingga kami membawa banyak makanan ringan. Waktu itu kereta api macet di tengah jalan lebih dari dua jam. Didorong oleh hadits, “Barang-siapa mempunyai kelebihan bekal, hendaklah memberi-kannya kepada orangyang tidak mempunyai bekal,” (HR. Muslim) maka salah seorang di antara kami berdiri dan membagi-bagikan makanan kepada para penumpang. Dengan demikian kami sudah membuka pintu untuk saling mengenal, dan kejadian itu meninggalkan kesan yang baik di hati mereka.
Dulu, sebelum mengenal cara-cara yang islami dalam berdakwah, saya sering menggunakan cara-cara hasil ijtihad saya sendiri untuk memulai perkenalan. Suatu waktu saya pernah dengan sengaja menginjak kaki orang yang berdiri di sebelah saya sewaktu naik trem. Orang itu lalu berteriak marah, “Apakah Anda buta?” Saya menjawab dengan tenang, “Jangan terburu marah, wahai saudaraku. Memang saya ini seperti orang buta, kerana penglihatan saya yang sudah melemah.” Lalu orang tersebut meminta maaf. Dengan demikian saya bisa mulai berkenalan.

Unik dan menyenangkan bukan. Ternyata hanya demi urusan ta’aruf saja sekian cara terlibat untuk mensukseskannya. Sebab ikatan cinta akan bermula dari sini, ta’aruf. Bukankah dakwah adalah cinta?
Akan lebih banyak lagi cara lainnya. Kaitannya dengan siapa anda berkenalan, dimana tempatnya dan bagaimana kondisi saat itu.
Selamat mencoba.
Semoga bening kasih tetap sedia menyuburkan kuncup cinta dihati kita. ^_^

Ardi Amsir A

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration