Ribuan langkah kau tapaki
Pelosok negeri kau sambangi
Tanpa kenal lelah jemu
Sampaikan firman Tuhanmu…
Pelan kelopak matanya dibuka membilah. Samar. Nasyid Sang Murabbi bersenandung dari ringtone handphone miliknya. Sebuah pesan singkat diterima.
Jadilah kau bunga dtiap taman yang kau tumbuhi.
Dik,. mengingatkan kembali, sore ini jam 16.00 ada pertemuan Bidang Kaderisasi. Hadir ya… semoga antum sehat.
Jazakallah khair… ^_^
-Ketua Bidang-
Lekas ia tegakkan pundaknya. melemaskan beberapa bagian otot. Sudah ashar rupanya. Kecipak wudhu membasahi wajah tampannya lalu sholat ia laksanakan.
Selepas sholat, sigap disertanya beberapa perlengkapan yang pantas dibawa. Satu buku agenda untuk catatan, satu buah pulpen, taklupa mushaf dan Al ma’tsurat, karena kebetulan hari kamis senin itu ia berpuasa, dibawanya pula sebotol susu putih yang sudah ia diginkan dikulkas sejak pagi. Tas rangsel kesangannya kini melekat dipunggungnya yang gagah. Dan berangkat.
***
“Bismillahirrahmanirrahim… Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…”, Syuro dibuka oleh ketua bidang.
“Ikhwafillah yang ana cintai dan dicintai Allah SWT, senang rasanya antum wa antunna dapat hadir disini dengan kondisi hati dipenuhi iman, wajah yang seceria purnama dan tentunya sehat pula jasadi kita. Maka layaklah syukur kita haturkan kembali kehadirat Allah SWT. Shalawat dan salam tersampaikan disisi Rasul kita Muhammad SAW. baiklah ikhwafillah sekalian, karena hari ini adalah awal jumpa kita, jadi untuk agenda syuro kita kali ini yakni ta’aruf. Satu persatu dari antum wa antunna silakan memperkenalkan diri. Sampaikan nama lengkap, nama panggilan, alamat kos, asal, tempat tanggal lahir, dan karakter atau sifat pribadi. Dimulai dari yang ikhwan ya.. tafadhdhol akhi..”
Masing-masing personil bidang memperkenalkan diri. Kecerian menghiasi forum perdana itu. Canda dan tawa sesekali meriuh gurih. Tak lain karena celoteh beberapa personil yang terkadang unik dan lucu saat menyampaikan karakter pribadinya. Tanpa dkira waktu sudah melenggang ke pukul 17.25 WIB.
“hmm… ee… afwan jiddan, ikhwafillah, tanpa bermaksud membatasi kebahagiaan antum wa antunna diforum kita kali ini, namun sekedar mengingatkan bahwa hari sudah menjelang magrib, artinya kita dipenghujung acara. Oleh karena itu, dibeberapa menit terakhir ini sambil menanti adzan dan berbuka bagi yang berpuasa, ana diamanahi untuk menyampaikan sedikit informasi. Yang pertama, untuk agenda syuro dipekan berikutnya adalah pembahasan program kerja bidang. Dan yang kedua yaitu pekan depan insyaaLlah tanggal 21 akan diadakan silaturrahim bersama seluruh lembaga kemahasiswaan. Sekian, selamat berbuka bagi yang berpuasa, kita akhiri dengan bersama membaca do’a kafaratul majelis dan hamdalah.”
Adzan magrib mendayu keseluruh ufuk. Menggema panggilan rabbul izzati. Saga meronai langit barat. Tampak seperti pipi gadis remaja yang dirundung sipu lalu malu.
Rofi’i, ketua bidang kaderisasi, masih saja sibuk mengemas beberapa peralatannya.
“belum selesai ya mas..?”
“eh, dik Alif. Ana kira sudah ngambil wudhu dik.”
“tadinya sih begitu mas. Tapi ana teringat satu hal yang ingin sampaikan ke mas”
“apa itu dik? sepertinya serius ya”
“ begini mas, sejak diforum tadi ana sering memperhatikan sikap salah satu saudara kita”
“mm…siapa yang antum perhatikan dik?”
“itu mas, akh Ruslan. Apa mas tidak merasa ada yang berbeda dari sikapnya? Coba mas perhatikan, ditengah keceriaan rekan-rekan yang lain ia bahkan tetap saja memasang mimik datar lagi kaku. Ekspresinya dingin. Apa ia kurang suka dengan sikap kita ya mas. Ataukah memang ia orangnya jarang tersenyum kali ya. Hmmm…”
“haha.. kau ini lucu dik. lif, bersyukurlah pada Allah yang Maha menciptakan manusia dengan asal yang sama namun tindak hati dan pikirannya tak sama satu dengan lainnya. Tak perlu melihat jauh, contohlah kita berdua, antum dan ana sudah tentu punya sifat serta keinginan yang berbeda. Mungkin antum sangat menyukai es krim tapi tidak bagi ana. Barangkali antum hobi berolahraga sepakbola tetapi ana lebih suka bulutangkis. Memang dirimu senang dengan hal-hal yang humoris namun ana tak begitu suka. Belajarmu digiatkan dengan menghabiskan berjam-jam membaca diperpustakaan tetapi ana akan merasa cukup dengan hanya mendengarkan ceramah dosen lalu dicatat dan diingat. Ukuran kita tak sama, kata Ustadz Salim A Fillah. kita punya ukuran-ukuran yang tak serupa. Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang harus kita punya adalah; jangan mengukur orang dengan baju kita sendiri, atau baju milik tokoh lain lagi.  setiap manusia tetaplah dirinya. Tak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya. seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya,
memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti,
memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan,
kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi. So, mari kita belajar lebih bijak menilai orang lain.”
Alif mengiringi sepatah kata terakhir Rofi’i dengan senyum. Senyum itu terlihat menyirat puas.
“ iya mas… jazakallah khair sudah mengingatkan. Afwan jiddan ana memang boleh dibilang punya sifat sensitif.”
“iya dik.. tidak apa-apa. Yuuk, kita sholat dulu”.
***
Agaknya langit kian akrab berteman pelangi. Membayang bias lengkungnya seperti menyolek rupa langit. Mejikuhibiniu, pelan kita eja saat di Sekolah Dasar dulu. Senang rasanya mengenal dan bermain bersama warna. Benarlah masa kecil dunia penuh warna, kata orang-orang. Jadi kita sudah mengenal warna sejak lama, bukan. Begitu ia hadir dalam wajah karakter, harusnya ia pun diterima dengan dada bijak. Bukan menuntut hitam berubah hijau atau merah mengganti biru. Kabar pelangi kita pahami bahwa ia berjanji tak hanya terlihat indah dari kejauhan langit tetapi jua menghias diantara kita yang berbeda balut kulit, yang berbeda bahasa, yang berbeda suku, yang berbeda khasanah ilmu, yang berbeda cara pandang, yang beda sifat, yang tak sama kesukaan. Dengarlah tutur Anis Matta,”biarlah kita memakai seragam kita masing-masing”,katanya. Sebab perbedaan sesuatu yang niscaya. Mustahil mengusirnya dari rerimbun kehidupan. Cuma satu sikap terbaik, Tetaplah bergandeng tangan dalam cerap perbedaan.
“Kami para nabi diperintahkan untuk menempatkan manusia sesuai dengan kedudukannya dan berbicara kepada mereka sesuai dengan kadar intelektualnya” (Hadits)

“Aku diperintahkan untuk Berbicara kepada manusia sesuai dengan kemampuan intelektual mereka”
(Shohih Bukhori)
Manusia punya budaya komunal. Dalam komuni-komuni itulah bercampur rupa-rupa tindak laku. Lembaga Dakwah Kampus, menjadi satu dari bentuk komuni itu. Didalam sana ia menghimpun seabrek lelaku aktivisnya. Terkadang memang perlu sekian waktu untuk lebih mengerti masing-masing isi jiwa. Entah engkau yang melankolis atau dia yang plegmatis, juga ia yang koleris dan dirimu yang sanguinis. Olehnya dari bahasa pelangi kita mengambil analogi, mungkin kau merah atau kuning dan dia biru. Namun dari rahim tarbiyah lebih santun mengungkapnya bahwa memaksa sesuatu berubah wujud jadi bentuk lainnya bukanlah sesuatu yang mungkin. Tak bisa mengubah mangga menjadi apel, tapi mematangkan mangga dan apel jauh lebih nikmat saat dipanen. Beginilah tarbiyah mengajarkan, supaya kelak muncul ribuan generasi yang membangun peradaban dari material maha karya berbeda.

Ardi Amsir A

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration