Kehidupan manusia di alam ini ibarat sebuah surat rahasia yang lembaran demi lembarannya tersimpan rapi disuatu tempat yang tidak dapat dijamah oleh seorangpun, seringkali kita menilai, kita telah berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan keinginan-keinginan kita, namun suratan takdir yang terjadi tidak seperti yang kita harapkan.

Kesabaran kita menjalani kehidupan ini akan semakin telatih dengan peristiwa-peristiwa yang menguji kesabaran kita, didalam setiap detik yang dijalani dan langkah yang dilalui teruji keikhlasan hati dalam memaknai segala peristiwa. Jika kita mau merenungi,tidak ada sedetik waktu dalam kehidupan ini yang tidak dapat kita ambil hikmahnya.

Ada sebuah cerita yang ditulis oleh seorang ustadz, ustadz itu mengisahkan perjalanan hidup seorang muslimah yang sabar, ikhlash, dan bersemangat dalam menjalani hidupnya dengan aktivitas-aktivitas yang bermanfaat. Polemik kehidupannya dimulai ketika keluarga suaminya mengucilkan dan menolak kehadirannya karena dia seorang muslimah yang memakai burqa atau cadar dan memegang prinsipnya itu dengan begitu kuat.

Skenario kehidupan akan selalu memosisikan orang-orang yang menempuh kebenaran di puncak kebahagiaan, demikian ujian demi ujian berlalu menyapa muslimah itu, yang datang bahkan dari keluarga suaminya sendiri. Hingga orang yang melihat atau membaca kisahnya barangkali akan berkata,”apakah aku dapat setegar muslimah itu?”

Sekalipun prahara keluarga berat terasa olehnya, ketika prinsipnya diguncang gulungan ombak besar, namun muslimah itu tetap berdiri tegar bagaikan karang ditengah lautan. Tiadalah daya dan upaya melainkan karena kekuatan Allah. JanjiNya tak seperti janji manusia, janjiNya akan ditepati bila tiba waktunya. Sungguh, kematian bukanlah kedukaan jika kita melihat akhir kehidupan muslimah ini. Waktu saat itu menjelang petang, seperti biasanya dia bertemankan Al-quran, walaupun terbaring lemah karena sakitnya, ayat demi ayat tetap dia lantunkan. Siapa yang tahu akhir kehidupan ini, ketika adzan belum selesai dikumandangkan ternyata ajal telah datang menjelang, tamu terakhirnya datang dan mengajaknya pergi dengan sangat tenang suaranya semakin samar menghilang, dan akhirnya dia terpejam memegang erat Al-qur’an dipelukan.

Sesungguhnya dimanakah letak kebahagiaan, kebahagiaan hakiki terletak di alam yang abadi. Tetapi, barangkali hanya sedikit orang yang mengerti, hanya sedikit yang benar-benar berjuang menggapai derajat kemuliaan. Betapa mulianya cita-cita, ketika akhir yang bahagia menyapa ketika tamu terakhir yang dinanti datang dengan membawa kabar gembira, khusnul khotimah di jalanNya. Segera kita mengoreksi, sejauh mana diri melangkah, selagi kita bisa.

Allah ta’ala berfirman,“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian, hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. al-Ankabuut: 57). Dan didalam ayat muliaNya yang lain Allah ta’ala berfirman“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan, hanya kepada Kamilah, kamu dikembalikan.” (QS. al-Anbiyaa’: 35).

Tentulah kebahagiaan direngkuh bukannya tanpa perjuangan, seorang atlet yang ingin menjadi jawara tidak akan mudah menyerah dan selalu giat berlatih. Demikian juga dengan khusnul khatimah, memang banyak riwayat mengisahkan banyak orang yang semasa senggangnya terisi kemaksiatan justru karena sedikit kebaikan diakhir hidupnya dia menjadi penghuni surga. Sebaliknya ada juga yang semasa senggangnya selalu terisi kebaikan, namun karena sedikit tergelincir kemaksiatan diakhir kehidupannya dia pun menjadi penghuni neraka. Wal’iyaudzubillah.

Banyak orang yang membaca kisah-kisah seperti ini justru meremehkan datangnya kematian, padahal seseorang tidak bisa menjamin dirinya, kapan kematiannya, bagaimana akhir hidupnya tiada seseorang yang tahu dan mampu menebak datangnya semua itu. Jika ada yang tahu kapan datangnya kematian, semua akan bertaubat sebelum maut datang menjemput. Meskipun sebelumnya segunung maksiat sudah menjadi teman setia. Maha suci Allah, betapa skenarionya menuntut manusia untuk selalu bersiap siaga menanti datangnya kematian dengan beramal shalih sepenuhnya demi mendapat rahmatNya.

Marilah kita merenungkan, sedikit kiat-kiat yang mungkin tidak semua orang menganggapnya sebagai hal yang bermanfaat. Tiada lain karena kecintaan kita, karena kita semua mendamba sebuah akhir yang bahagia:

  1. Istiqamah dalam beramal shalih

Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Sesungguhnya  orang-orang  yang  mengatakan : ‘Tuhan kami ialah Alloh’ kemudian  mereka  meneguhkan  pendirian  mereka,  maka  malaikat  akan turun kepada mereka dengan mengatakan : “ Janganlah  kamu  takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah  mereka  dengan  jannah (surga)  yang  telah  dijanjikan Alloh kepadamu.” (QS Fushilat:30)

  1. Bertaqwa kepada Allah

Berusaha sekuat tenaga menjalankan semua perintahNya dan menjauhi segala laranganNya, Allah ta’ala berfirman,”Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa.”(Ali Imran:102). Di dalam ayat yang lain Allah berfirman,”dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”(Al-baqarah )

  1. Ikhlas dalam beramal shalih

Senantiasa menghadirkan niatan baik dan hanya mengharapkan Ridha allah dalam segala ativitas yang dilakukan. Allah berfirman,”mereka hanya disuruh untuk menyembah Allah dan mengikhlaskan  (memurnikan ketaatan kepadaNya) agama kepadaNya secara lurus agar mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat demikianlah agama yang lurus.’(Al-bayyinah:5)

  1. Bersegara dalam taubat

Bersegaralah dalam bertaubat dan senantiasa memperbaruinya sebelum terlambat, sebelum nyawa sampai ke kerongkongan dan sebelum matahari terbit dari barat. Rasulullah SAW bersabda,” Sesungguhnya  Alloh  SWT  membentangkan  tanganNya di waktu siang untuk menerima  taubat  orang  yang  bersalah  di  waktu  malam  hingga  terbit   matahari  dari sebelah barat.” (HR Muslim). Di dalam surat Ali Imran ayat 133 Allah berfirman,”Dan bersegaralah mencari ampunan  dari tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”

  1. Berdzikir mengingat Allah

Senantiasa berdzikir untuk mengingat Allah dengan dzikir-dzikir yang telah dicontohkan oleh Rasulullah, karena dzikir mengandung keutamaan yang sangat banyak. Seberapa jauh seseorang mengingat Allah, maka dia akan semakin merasa diawasi dan dekat denganNya. Seseorang yang banyak berdzikir tidak akan termasuk dalam golongan orang yang lalai, sebagaimana Allah ta’ala firmankan,”dan sebutlah nama Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, diwaktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”(Qs Al-A’raaf: 205). Dengan banyak berdzikir pula, seseorang akan lebih banyak mengingat kematian. Seeorang yang ingat akan kematian tentunya tidak akan rela jika tidak membawa “bekal” yang cukup untuk menghadap kepadaNya.

  1. Menghindari perbuatan yang dapat menyebabkan kematian yang buruk

Berusaha untuk menjauhi perbuatan syirik, bergelimang maksiat, menunda-nunda taubat, tamak terhadap kemewahan dunia, panjang angan-angan, dan melakukan banyak aktivitas yang tidak berguna lainnya.

Sungguh indah akhir yang bahagia, khusnul khotimah menggapai ridhoNya. Namun, tentunya hanyalah orang-orang yang mengerti dan sadar bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara yang akan menyiapkan diri sebaik-baiknya menjemput kematiannya. Sepenggal  syair mengatakan

Hidup itu bukanlah untuk hidup

Tapi untuk Yang Maha Hidup

Hidup bukanlah untuk mati

Tapi mati pintu kehidupan abadi

Semoga Allah melembutkan hati kita dan menjadikan kita senantiasa berada dijalanNya yang lurus. Aamiin. Wallahul muwaffiq ila sabilir rasyaad.

 

Abu Abdillah

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration