Talitha Huriyah

Ia berbeda… rambut mayangnya terbalut selendang putih. Wijaya rasai kesejukan semilir pagi yang menuruni Gunung Batur hingga membuat terjaga semboja-semboja di Buleleng. Lalu, debunga itu menyimpuh duduk, sejenak berdiri, membungkuk, tersungkur pasrah. Ketenangannya laksana embun nirwana, menetes di relung jiwa. Tanpa sadar.. Wijaya sudah di samping bangsal itu. Sontak sang debunga  kaget.

“Ma.. maaf..” ucap Wijaya.

“Tak apa,” sahutnya sambil tersenyum.

“Apa kau perbuat…?” kalimatnya menggantung di awang-uwung.

“Ida Ayu Tantri. Panggil saja aku Tantri. Aku baru saja menyembah Tuhanku sekaligus mendoakan kedamaian Buleleng ini.”

“Kerajaan ini sudah damai menurutku.. Tantri,” agak tersendat Wijaya memanggil namanya.

“Engkau orang baru?” kedua alisnya bertaut.

“Ya, aku Wijaya dari Tengger. Sebab taban karang aku disini.”

Tantri tersenyum simpul. “Pantas tadi siang Rama dan orang-orang ingin lekas selesai upacara taban karang itu. Beliau khawatir Buleleng terkena balak. Ternyata engkau salah satu orangnya…. Tapi yang lebih mengkhawatirkan, Belanda hampir tiba di pesisir barat Prancah.”

Wijaya berdegup, ada setitik amarah mendengar kata Belanda.

“Ah, aku hampir lupa! Pinandita memintaku lekas memanggil para debunga. Membantu sedikit ronce semboja atau kenanga.”

Tantri menunduk. Bibirnya melafadzkan pelan permohonan ampun, entah pada siapa.

“Maaf aku tak bisa!”

***

Beberapa hari Wijaya sering berbincang dengan Tantri. Mengamati gerak-geriknya di setiap jaga. Dan.. ia mulai terpesona akan ketenangan yang menghias raut sang debunga. Di ufuk barat, tirai cakrawala berpendar jingga.

“Dapatkah kau buat syair dari keelokan langit senja ini?”

“Aku tidak akan membuat syair, Wijaya. Tepatnya.. aku akan menyebutkan sekelumit kalam yang mulia.”

Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat. Kemudian ulangi pandanganmu sekali lagi dan sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu tanpa menemukan cacat dan pandanganmu itu pun dalam keadaan payah.”[9]

Wijaya menoleh ke langit di sisi barat. Ia ingin beranjak memetik beberapa semboja untuk Tantri. Namun.. kakinya tertancap erat di bumi. Gaung suara Tantri menelisik di antara sela liang-liang kepalanya yang bertanya, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?

“Tantri.. percayakah engkau? Aku gemetar sekarang.”

Semula Wijaya menduga akan melihat pias wajah Tantri, namun sebaliknya, “Aku percaya, Wijaya. Sebab.. kau orang yang baik,” ujarnya mantap.

***

Sepekan berikutnya, seiring matahari menancap bumi.. pasukan besar Belanda tiba di pesisir barat Prancah dan pesisir timur Sangsit. Pasukan infanteri, kavaleri, artileri dan zeni dipimpin oleh Jendral Mayor A.V Michiels dan Van Swieten. Miris, hati prajurit Buleleng termasuk Wijaya serasa teriris sembilu. Nampak saudaranya pribumi pesisir Sangsit berpihak pada Belanda. Mereka gencar menghantam Kerajaan Buleleng.  Menghajar benteng-benteng pertahanan dengan meriam sundut. Membakarnya dengan bola-bola api. Berkobar!

Satu persatu daerah diduduki dan kerajaan dikepung oleh Belanda. I Gusti Ngurah Made Karang Asem pura-pura menyerah meski sang maut lebih dulu menjemput. Perlawanan dilanjutkan oleh Patih I Gusti Ketut Jelantik. Kondisi pasukan memaksa mundur, bertahan di Desa Jagaraga. Di sana, permaisuri dan kerabat raja menangisi mangkatnya I Gusti Ngurah Made Karang Asem. Wijaya tersentak! Tantri ada di salah satu mereka.

“Tantri…” panggilnya.

“Rama telah kembali kepada Penggenggam jiwanya. Innalillahi wa inna’ilaihi rajiun,” sahutnya pelan sembari tersenyum kecil.

Wijaya memandangnya nanar. Tak ada suara tangisan, hanya.. sungai kecil mulai membelah pipi Tantri.

Keadaan mendesak, seluruh prajurit dan rakyat yang tersisa mengandalkan benteng Jagaraga sebagai perlindungan. Tantri mengusulkan dibuat parit dan ranjau di sekililing benteng untuk menghambat laju musuh. Saat ditanya, ia hanya mengatakan sudah dilakukan oleh pejuang terdahulu.. Salman Al-Farisi. Semangat prajurit ditopang isteri Patih Gusti Ketut Jelantik- Jero Jempiring. Ia menggerakkan dan memimpin kaum wanita untuk menyediakan makanan bagi para prajurit yang bertugas di garis depan. Turut serta Tantri di sana.

“Mengapa pula kita harus perang Tantri?”

“Untuk mempertahankan diri.”

“Sia-siakah ini?” hujat Wijaya.

“Perang ini tak sekadar puputan, perang habis-habisan. Namun.. ini menjadi sauh mengantar kita ke nirwana-Nya. Asal kita memasuki dua gerbang yang hanya dipunyai Sang Pencipta Alam Raya. Dua gerbang yang jika melewatinya, laksana insan yang baru terlahir ke dunia. Suci tanpa dosa.”

Itulah perbincangan terakhir Wijaya dengan Tantri… sebelum debunga itu gugur terkena pecahan bola api musuh bermata biru.

***

Wijaya tersenyum mengingat semua yang telah dilaluinya bersama Tantri. Ketika ia memandang bulan tilem di taman kolam seroja dan perlahan rindu-rindu menyusup. Melukis wajah Biyung, Rama dan juga.. Tantri. Ketiga insan yang secara tak sadar membuka wangi semboja Wijaya. Menyibak mata, hati serta pikiran yang telah lama tersekat. Termasuk saat jiwanya asyik mengeja larik-larik kalam yang mulia. Mereguk sumber mata air kehidupan terbaik yang menuntaskan dahaga jiwanya bertahun-tahun.

Akhirnya Wijaya paham, mengapa Tantri tidak mau membantu pinandita membuat ronce untuk upacara sembah hatur Bhatara Punta Hyang. Ia pun mengerti, mengapa Tantri mantap menyebutnya ‘orang baik’.

(yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka…”[10]

Sayup-sayup, panggilan menghadap-Nya terdengar khusu’. Wijaya segera menyimpuh duduk, sejenak berdiri, membungkuk, tersungkur pasrah. Senantiasa terlantun doa dari bibirnya, yang mampu melukis keindahan nirwana, memahat harum semboja dan melayari buritan dalam peribadatan agung.

 

TH.Solo.1433 H

Untuk semua ikhwah UNS

jangan berhenti mencari ilmu

 

 

Endnotes:

[9] Q.S Al-Mulk: 2-4

[10] Q.S Al-Hajj: 35

Baca juga : Semboja Taban Karang (1)

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration