Talitha Huriyah

 

Setiap teringat pesan Biyungnya, Wijaya Kusuma, lelaki Tengger itu menahan napas, dadanya sesak. Perlahan, parasnya berubah kapas. “Teruskan perjuangan Ramamu. Gusti Agung tak pernah luput, sekecil apapun usaha hamba-Nya,” tanpa suara. Hanya gema yang menabuh-nabuh begitu riuh di dadanya sendiri, labirin sunyi. Sesunyi jiwa masai Wijaya yang ditinggal terbang Biyungnya ke nirwana.

Rasanya baru kemarin ia menemani Biyung ke tegalan seberang kali.  Memetik rancak upeti bumi. Tundunan pisang kapok, jagung dan penganan pasar berdesak-desak mencipta gunungan saji. Ronce kenanga terkalung wangi di sekeliling tengahnya. Sorak-sorai warga kampung mengarak sesaji ke kawah Bromo. Kesada[1] kali ini meruahkan limpahan syukur. Sebelum Wijaya jatuh tersungkur di pintu dapur, menemui sang Biyung dengan perut terkoyak ditikam Belanda.

“Biyung.. ooo Biyung…! Secepat inikah Gusti Agung menjemputmu?” nanap Wijaya di antara sedu hingga ujung sedan tak bertenaga.

Dipeluknya tubuh sang Biyung sambil tergugu. Mungkin menangis… entahlah, ia bukan wanita. Tak pernah Rama mengajarkannya menangis.

***

Habis sudah rasa diri Wijaya, ditinggal pergi Rama dan Biyungnya. Malam belum sempurna, mematung diri berkawan gemintang. Tengadah wajah ke langit, seakan kedua orang yang amat dicintainya mengintip. Mengulas senyum dengan manik mata kasih. Baginya.. Rama dan Biyung adalah cakrawala kasih sekaligus benci. Giginya gemeletuk, rahang meradang geram dengan Belanda bermata biru. Untuknya, Tengger serupa horison suram tak bertepi.

Lantas, sejak saat itu Wijaya mengikut Joko Seger sebagai awak buritan. Berlayar ke Bali serta Gowa menukar segala rancak bumi Jawa Dwipa.

..demi melupa hati yang sempat terbadai.

Wijaya meluncur di tengah debur, menata kepingan jiwa yang pernah hancur. Menggulung ombak hingga tepian pepasir. Pada semburat jingga itu.. ia dan awak buritan lainnya terengah-engah. Dadanya menyengal, letih nian. Buritannya dihantam pusaran badai Laut Bali.  Geladak rusak berkeping, hasil bumi terencah-rencah, menghantam tebing karang berliang-liang.

“Aah! Sakit rasa dada ini. Bukankah itu biyung?” racaunya.

***

“Wijaya.. bangun! Bangun Wijaya! Kau tak apa? Kita harus cepat pergi dari sini!” guncang Joko Seger.

Panggilan itu samar, serupa punguk malam rindu purnama. Dari jauh, gerombolan suluh tersuar. Wijaya hanya sempat melihat sekelompok prajurit dengan semboja tersemat di atas telinga. Prajurit? Selanjutnya, Wijaya tak tahu apa yang terjadi. Ia.. tiba-tiba diringkus dan dibawa pergi.

***

“Me yanad taban karang ditu, perahu, lancing, jukung, talaka, anak banwa katatahwan di ya, kajadyan wrddhi kinwa[na] ma.  Katahu aku, pynnekangna baktina, di Bhatara Punta Hyang?” [2]

Selesai I Gusti Ngurah Made Karang Asem membaca larik tulis di tembaga itu, Ki Joko Seger hanya tertunduk. Bibirnya mengeriut digigit pias. Wijaya tak mengerti, sambil menahan perih dadung yang mengikat pergelangan tangan juga kaki.

“Ki Joko Seger, engkau paham apa yang baru saja saya ucapkan?”

“Iya Gusti, kami pasrah,” sekali lagi bibirnya mengeriut.

“Teked dipasisi napetang perahu bencah. [3] Tak ada pilihan lain,” jarinya sesekali mengetuk keris berluk, “Aki… hanya bisa jadi budak di Bali Aga[4] atau dengan terpaksa prajurit kami harus membunuh engkau beserta awak perahu.”

Seketika, relung gelap mengisi dada Wijaya disusul sesak napas yang memburu. Ceruk-ceruk nganga menggerung. Rasa tersinggung, umur hidup digadai hanya oleh buritan pecah. Nyawanya sekarang di tanduk selamat, berkat Gusti Agung, barang yang kasat.

“Kami hormati taban karang di Buleleng ini, namun akan jauh lebih kami hormati kuasa I Gusti bila menyimpan nyawa kami,” ujar Joko Seger.

Wijaya terkesiap, begitu pula I Gusti Ngurah Made Karang Asem. Ketenangan danau Batur seakan menyirami dada kepala buritan itu.

Sejenak raja tersebut diam lalu tersenyum. “Aku tahu Ki.. engkau bukanlah rakyat Jawa dengan wastra[5] biasa. Sekali ini, kukabulkan permohonanmu itu. Kalian mengabdi di Buleleng, namun yang pertama, sembah perlu dihaturkan kepada Bhatara Punta Hyang.”

“Terimakasih Gusti, akan kami laksanakan.”

***

Menjelang tenggelamnya surya di ujung Sanur, Wijaya letih sangat. Persiapan sembah hatur Bhatara Punta Hyang jauh kata sederhana dibanding Kesada. Langkahnya sempoyongan, tak kuasa menyangga raga. Serintik peluh menitik di wajah muda itu. Angin rebah semilir, meniup pepucuk janur. Sejenak dihirupnya wangi tenang mega lembayung.

“Jangan mematung Wijaya!?” bentak pinandita[6] sambil mengatur sesaji tumpeng lima.

“Panggilkan para debunga[7] di bangsal belakang. Aku butuh ronce semboja secepatnya!”

Ia mengangguk pelan dan berjalan menunduk. Di bangsal belakang, dilihatnya para debunga menjepit mahkota bunga di pucuk telangkup lentik jari. Mengangkatnya di depan wajah sembari merapalkan sesuatu, entah apa. Tak ada lukisan paling tepat menggambarkan kecantikan mereka selain keagungan maha karya dewata. Rambutnya ikal mayang terurai ke pundak. Awak buritan lain berebut ingin memanggilkan mereka untuk pinandita.

Namun, Wijaya memilih terus berjalan ke taman samping. Menikmati bulan tilem[8] yang terdilatasi sinarnya dalam bening kolam seroja. Hingga pandangannya tertumbuk pada sesosok debunga di bangsal seberang. Ia berbeda… rambut mayangnya terbalut selendang putih. Wijaya rasai kesejukan semilir pagi yang menuruni Gunung Batur hingga membuat terjaga semboja-semboja di Buleleng. Lalu, debunga itu menyimpuh duduk, sejenak berdiri, membungkuk, tersungkur pasrah. Ketenangannya laksana embun nirwana, menetes di relung jiwa. Tanpa sadar.. Wijaya sudah di samping bangsal itu. Sontak sang debunga  kaget. (Bersambung)

 

.:Jebres di Awal 1433 H:.

Untuk semua ikhwah UNS

jangan berhenti mencari ilmu

 

 

Endnotes:

[1] Upacara Suku tengger dengan upeti hasil bumi di Kawah Bromo.

[2] “dan bila ada peristiwa tawan karang (taban karang) di perahu, lancang, jukung, talaka, serta diketahui oleh penduduk desa, supaya dijadikan wrddhi (semacam persembahan), setelah diberitahukan kepadaku, supaya dihaturkan kepada Bhatara Punta Hyang” Isi hukum Tawan Karang di Prasasti Sembiran (923M) yang terbuat dari tembaga.

[3] Sampai di pantai menemui perahu / kapal terdampar.

[4] Bali Aga adalah sebutan untuk Bali gunung, yang menganggap bahwa merekalah orang Bali yang asli. Sedangkan suku lain sudah terpengaruh para pendatang, seperti kerajaan Majapahit dan Sriwijaya.

[5] Citra, indra.

[6] Pemangku adat.

[7] Gadis, pemudi.

[8] Bulan separo, bulan sesudah tanggal 15, setelah purnama.

Baca juga : Semboja Taban Karang (2)

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration