ho-allah-la-illa

 

*Talitha Huriyah

“Apapun yg qt lakukan” SELALU ada yg melihat. Minimal ALLAH. Bisa juga malaikat, jin qorin, syaithan, manusia, hewan, tanaman  serta makhluq-makhluq Allah yg lainnya.”

Sebuah pesan singkat muncul di layar HP. Pada mulanya agak ngeri juga, mengingat pesan tersebut dikirim sekitar jam sebelas malam dan kondisi kos sudah sepi.

Namun.. ketika direnungi lebih lama sebenarnya ini menjadi suatu bentuk pengingatan bagi kita tentang adanya muraqabatullah. Allah senantiasa mengawasi kita di setiap kondisi, mengetahui apa yang kita pikirkan hingga hal terkecil bahkan untuk sebuah niat. Hal abstrak yang fisiknya tak bisa kita indra. Sebuah rem kendali terhadap perbuatan buruk kita.

Pribadi yang sadar akan pengawasan samawi (dari langit) pada hakikatnya menggunakan jasad sebagai sarana bagi ruh untuk menghamba pada-Nya. Betapapun sakit yang dirasa, payah yang semakin bertambah, kehilangan yang tak berkurang.. tak seharusnya menghentikan langkah kita untuk tetap teguh meniti jalan kebaikan.

Tsabat ini akan teruji ketika masalah muncul di depan kita. Bagaimana kita mengkonversi setiap masalah yang ada sebagai peluang untuk lulus ke tahap tingkat awal. Keberhasilan yang diraih akan menciptakan militansi sebagai kunci pembuka pintu-pintu keberhasilan berikutnya.

“… mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” Ali ‘Imran (3): 146

Mari kita cermati bersama ayat di atas. Tidak lemah karena bencana (red: ujian), tidak patah semangat. Sebab orang mukmin memandang hari akhir sangat dekat. Orientasi setiap aktivitas yang dikerjakakan berupa mihwar pada akhirat. Inilah yang menjadikan generasi para salafus shalih terus menerus berfastabiqul khairat.

Pernah dengar upaya yang ditempuh musuh-musuh untuk menghancurkan agama ini? Berapa banyak biaya yang ditelan untuk mempersenjatai Israel demi memblokade Palestina? Berapa waktu yang sudah mereka habiskan utnuk merancang serangkaian cara melenyapkan umat muslim?

Nah, sahabat!

Hendaklah kita hapuskan rasa inferior dalam diri ini, merasa rendah ketika berkompetisi. Padahal Allah telah menegaskan di ayat tersebut, “tidak (pula) menyerah (kepada musuh).” Sehingga ada perspektif positif yang bisa kita bangun. Kita sama-sama berkompetisi dengan musuh-musuh Allah namun yang membedakan kita dengan mereka adalah fastabiqul khairat. Berlomba-lomba dalam kebaikan. Di sana ada sebuah harapan untuk mereguk pahala yang sekali lagi dibutuhkan kesabaran berlipat untuk meraihnya.

“Wahai orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu..” Ali ‘Imran (3): 200

Akhirnya,

Dengan segala harap kepada-Nya, semoga kita senantiasa teguh dan sabar merenda pahala untuk dituai kelak.

Bumi Allah Solo, 3 Dzulhijjah 1432H

*Bergiat di FLP UNS

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration