mahasiswa

Oleh :  Azra Adzkia ** ⋅

Mahasiswa itu seperti siapa? Atau lebih tepatnya, mahasiswa itu apa? Dan dimana posisinya??

Menarik, ketika rakyat ini mengelu-elukan kata mahasiswa sebagai tipe-tipe orang berpedidikan, cerdas, dan kritis. Dulu, memiliki anggota keluarga yang berstatus mahasiswa adalah suatu kebanggan. Mahasiswa begitu diistimewakan.
Kalau Gie bilang, mahasiswa adalah sekelompok lapisan masyarakat baru yang tercipta di era Soekarno sebagai generasi baru. Generasi yang akan membenahi kesalahan-kesalahan generasi tua. Lalu ikon mahasiswa yang rajin aksi menjadi populer di era 60-an, era tumbangnya Orde Lama menjadi Orde Baru.

Seiring berjalannya waktu, tipe mahasiswa yang rajin aksi mulai memudar, digantikan mahasiswa yang bertipe rajin kuliah, tampan, suka berpesta. Itulah cerminan mahasiswa di era Orde Baru hingga kemudian reformasi menumbangkan Soeharto yang lagi-lagi digawangi mahasiswa. Ya, mahasiswa yang turun menyambut seruan rakyat menyongsong panggilan negeri ‘demi menyempurnakan kemerdekaan negeri ini’.

Lalu sebenarnya mahasiswa itu siapa? Apa? Seperti apa? Dan dimana posisinya.

Mahasiswa sekarang seringkali dikelompokkan ke dalam dua golongan besar, kuliah atau academic oriented dan organisatory oriented. Yang suka sekali dengan kegiatan organisasi, sok-sokan suka aksi, turun ke jalan versus yang rajin kuliah dan tidak tahu sama sekali dengan dunia luar.

Mahasiswa?

Pengelompokan yang menurut saya tolol betul. Karena sesungguhnya, entitas seorang mahasiswa tidaklah bisa dipisahkan satu sama lain. Apa maksudnya?

Kembali ke pertanyaan awal, mahasiswa itu siapa?

Secara sederhana, maka kita akan menjawab mahasiswa adalah orang yang belajar dalam taraf perguruan tinggi, sekolah tinggi, dan semacamnya. Lebih jauh lagi, saya menyebutkan sebagai insan cendekiawan atau ada pula yang menyebutkan sebagai intelektual muda. Julukan yang luar biasa..

Saya tidak akan menyalahkan ketika ada orang yang sangat anti dengan kata ‘aksi’ atau ‘demonstrasi’. Bagi saya, itu adalah pemahaman yang dipilih seseorang. Asalkan kita tidak lupa dengan tanggung jawab sosial dan moral akan ilmu yang kita pegang, menolak domonstasi masih bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah, ketika kata academic orientedi menjadi bermakna IPK oriented.

IPK memang penting. Tapi ada yang jauh lebih penting dari sekadar IPK dan lulus cepat.

Kita ketahui bersama-sama bahwasanya reformasi adalah hasil karya mahasiswa, pemuda. Sayangnya kita ketahui pula bahwa sampai saat ini bukan perbaikan yang ada, tapi semakin kacaunya negri kita. bisa jadi, ini tidak lain dan tidak bukan karena reformasi hanyalah euforia semata. Buih di pantai yang tak akan bertahan lama. Agenda reformasi ternyata compang-camping di sana-sini. Tentu karena reformasi tidak dipersiapkan dengan baik, dengan pola pikir seorang akademisi, seorang intelektual.

Maka yang kita lihat, ternyata sekadar mengulang sejarah tahun 60-an. Hanya judulnya saja yang berbeda.
Kenapa bisa demian? Padahal ide-ide ini dilahirkan oleh mahasiswa, oleh intelektual muda bangsa?

Bisa jadi ini karena kita telah memisahkan antara tradisi intelektual dengan realita. Hingga apa yang kita pelajari di bangku kuliah hanya berhenti di ruang-ruang kuliah. Ketika keluar dari ruang kelas, ketika berbicara dengan sahabat dan kawan, tak ada lagi ilmu kuliah. Inilah yang terjadi.

Ilmu menjadi barang tontonan. Dipelajari sekadar untuk menciptakan nilai-nilai A,B, C di atas selembar transkip nilai, tak lebih. Bahkan bisa jadi kita tak paham dengan materi yang ada di dalam kelas. Karena yang dipahami hanya sekadar tekstualnya saja, hingga ketika diaplikasikan buyarlah semuanya.

Saya tak ingin mengeluhkan teman-teman yang tak suka organisasi. Saya tak ingin menyayangkan teman-teman yang tak suka dengan retorika, aksi, demonstrasi. Lebih dari itu…

Saya hanya ingin bertanya, dimanakah jiwa-jiwa mahasiswa hari ini?

Pragmatis? Bahkan ketika berkumpul dengan teman-teman yang aktif di lembaga mahasiswa, ternyata hanya mengejar proker semata. Mengadakan seminar ini, kuliah umum itu, diskusi ini, penelitian, tapi yang dikejar lagi-lagi sekadar kesuksesan proker.

Sederhananya, saya begitu iri ketika duduk berdampingan berdiskusi, membahas salah satu disiplin ilmu yang kita dengan mahasiswa fakultas lain. Namun ternyata kita tak lebih tahu dari mereka. Mereka lebih mampu mencari solusi dibanding kita yang seharusnya menguasai karena itu adalah makanan kita sehari-hari dalam bangku kuliah.

Apakah sebegitu terkotaknya, sebegitu terpisahnya antara apa yang kita pelajari di bangku kuliah dengan aplikasi nyata? Kenapa kita tanggalkan tradisi intelektual kita? Hingga menuntut ilmu di fakultas ini tak lebih dari sekadar mencetak nilai? Kemanakah diskusi-diskusi cerdas, paper-paper yang berkualitas tinggi, pemikiran-pemikiran yang luar biasa??
Mungkin ini hanya sekadar sedikit dari keluh kesah penulis tentang iklim akademik Fakultas Geografi yang menurut pribadi saya sangat tidak tepat. Orang bilang, bahkan mahasiswa fakultas kita sendiri bilang iklim akademik di fakultas Geografi sangat tinggi. Jadi apatisme mahasiswa terhadap aktivitas lembaga mahasiswa adalah hal lumrah. Tapi yang saya lihat, orientasi mahasiswa fakultas Geografi UGM bukan lagi orientasi akademik, tapi orientasi IPK, nilai, dan lulus cepat. Hingga ilmu yang didapat hanya terbentur tembok-tembok kelas, lalu usai. Tak berbekas…..

Apalah jadinya sarjana-sarjana karbitan, yang menguasai disiplin ilmunya saja tidak mampu, tak berbekas di kepala? Hanya sekadar nilai yang menandakan kecerdasannya? Apakah kita akan mengulang sejarah? Ketika euforia reformasi yang digelorakan mahasiswa mampu menumbangkan Soeharto. Tapi nyatanya tidak dibarengi dengan kecerdasan ala intektual muda karena kita telah menaggalkannya ketika turun aksi? Atau sekadar bersosialisasi dengan lingkungan? Atau seperti kisah tumbangnya Soeharto, yang ternyata menciptakan borok yang kemudian berulang di reformasi? Lagi dan lagi…

Kawan, bapak/ibu dosen…

Saya tak mengharapkan lebih. Tidak. Yang saya harap hanya, mari kita buka mata lebar-lebar. Masa depan bangsa ini ada di tangan kita. kitalah kompas penunjuk arah, kitalah nahkoda penentu tujuan. Jika kau suka aksi, demonstrasi maka berdemonstrasilah menyuarakan lagu-lagu rakyat, menyuarakan keresahan dan menyampaikan kekritisan. Agar para penguasa tak tutup mata dan terlena dalam mimpi indahnya. Jika kau suka menulis, maka tulislah ilmumu, tulislah kata-kata pengobar harapan dan pemantik semangat. Karena dengan menulis kau mampu mengikat ilmu. Suarakan pula nada-nada sumbang yang mengalun dalam tubuh-tubuh bobrok birokrasi. Jika kau suka meneliti, maka telitilah dan dalami disiplin ilmumu. Jika kau suka berorganisasi, maka adakanlah seminar, workshop yang mencerdaskanmu dan bangsa ini….

Tapi satu saja, mari jangan tanggalkan tradisi-tradisi intelektualitas kita. jangan lupakan sejatinya kita sebagai mahasiswa, sebagai kaum intelektual muda. Jangan pernah kita lupakan itu, jangan pernah tinggalkan itu…

*) sebuah keresahan penulis akan iklim akademik dan kegiatan lembaga mahasiswa di Fakultas Geografi UGM

**) Novi, Mahasiswi Fakultas Geografi UGM

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration